Cadangan minyak menipis, Anggota DPR: Peluang besar untuk EBT

Cadangan minyak menipis, Anggota DPR: Peluang besar untuk EBT

Anggota Komisi VII DPR Dyah Roro Esti Widya Putri. ANTARA/Dokumentasi pribadi

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VII DPR Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan cadangan minyak bumi akan habis dalam waktu 15 tahun lagi, apabila tanpa ada penemuan baru, sehingga menjadi peluang besar bagi energi baru terbarukan (EBT) untuk menggantikannya.

"Cadangan minyak tersisa 15 tahun lagi, saatnya kita dari sekarang memanfaatkan energi baru dan terbarukan untuk kebutuhan energi masa depan kita," katanya di Jakarta, Sabtu.

Saat ini, menurut dia, potensi sumber energi fosil nasional memang masih besar, namun belum semua potensi energi fosil tersebut bisa dimanfaatkan.

Baca juga: Bandar udara akan masif manfaatkan EBT dan terapkan konservasi energi

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), jumlah cadangan minyak bumi sebesar 4,77 miliar barel dan apabila tidak dilakukan eksplorasi, cadangan tersebut akan habis dalam waktu 9 hingga 15 tahun.

Selain minyak, cadangan gas bumi hanya menyisakan 77,3 triliun kaki kubik dan akan habis dalam waktu 22 tahun, sedangkan cadangan batubara yaitu 36,7 miliar ton dan akan habis dalam waktu sekitar 65 tahun.

"Dunia energi di Indonesia ke depan akan lebih bervariatif di mana pengembangan EBT sudah sangat pesat," kata Roro Esti.

Baca juga: Menteri Arifin: Transisi energi ke EBT mutlak diperlukan

Ia menambahkan Indonesia memiliki target komposisi bauran energi pada 2025 yaitu EBT 23 persen, batubara 30 persen, gas 22 persen, dan minyak 25 persen.

Untuk 2050, target porsi bauran energi di Indonesia adalah EBT 31 persen, batubara 25 persen, gas 24 persen dan minyak 20 persen.

Kader milenial Partai Golkar itu juga menjelaskan bahwa Indonesia diproyeksikan menjadi negara ekonomi terbesar ke-5 pada 2045, dengan kebutuhan energi yang terus meningkat.

Menurut Roro Esti, Indonesia memiliki potensi EBT yang sangat signifikan, yaitu sebesar 442 GW yang berasal dari tenaga air 94,3 GW, panas bumi 28,5 GW, bioenergi 32,6 GW, energi surya 207,8 GWp, tenaga angin 60,6 GW, dan tenaga laut 17,9 GW.

"Meskipun, potensinya besar, namun pemanfaatannya hingga saat ini masih kecil," ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Roro Esti, dengan berkurangnya cadangan energi fosil nasional, serta semakin krusialnya penerapan prinsip pembangunan berkelanjutkan terutama dalam mengurangi efek emisi karbon, merupakan momentum yang tepat untuk melakukan transisi energi, akselerasi pengembangan, dan peningkatan daya saing EBT serta meningkatkan porsinya dalam bauran energi nasional.

"Harapan besarnya RUU EBT yang sedang kami bahas di DPR bisa menjadi solusi yang tepat," tambahnya.
Pewarta : Kelik Dewanto
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020