Bak bermimpi, Hamilton tak percaya ia pecahkan rekor kemenangan di F1

Bak bermimpi, Hamilton tak percaya ia pecahkan rekor kemenangan di F1

Pebalap tim Mercedes Lewis Hamilton melakukan selebrasi setelah menjuarai Grand Prix Portugal di Sirkuit Algarve, Portimao. (25/10/2020) Pool via Reuters/Rafael Marchante

Jakarta (ANTARA) - Lewis Hamilton pada Minggu mengatakan ia bakal butuh waktu lama untuk sepenuhnya menyadari realitas bahwa dia telah memecahkan rekor jumlah kemenangan sepanjang masa di Formula 1.

Pebalap Britania itu menjadi pebalap tersukses di F1 setelah meraih kemenangan ke-92 dalam karirnya ketika menjuarai Grand Prix Portugal untuk melampaui capaian pebalap legendaris Michael Schumacher dan menulis sejarah baru.

Kemenangan itu juga memperlebar jaraknya di pucuk klasemen menjadi 77 poin dari rekan satu timnya, Valtteri Bottas, yang finis runner-up hari itu.

Dengan lima balapan tersisa di musim yang terdampak pandemi ini, Hamilton dalam jangkauan untuk menyamai tujuh gelar juara dunia Schumacher serta mengejar rekor pole position ke-100.

"Saya hanya bisa bermimpi tentang di mana saya sekarang," kata Hamilton setelah mendapat pelukan dari sang ayah, Anthony, yang menjadi manajer pada awal karirnya.

"Saya tidak memiliki bola ajaib ketika saya memilih datang ke sini (Mercedes) -- dan semua yang kami coba lakukan adalah menggunakan setiap hari sebaik-baiknya. Kami semua berjalan ke arah yang sama.

Baca juga: Hamilton lampaui rekor Schumacher dengan kemenangan ke-92 di Formula 1

"Saya mendapati ayah saya datang ke sini, yang luar biasa, dan ibu angkat saya, Linda, dan Roscoe (anjing peliharaan). Jadi ini hari yang sangat spesial.

"Akan butuh waktu untuk menerima ini... Bahkan sekarang, saya masih dalam mode balapan secara mental jadi saya tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya saat ini... Mungkin saya bisa nantinya," kata Hamilton seperti dikutip AFP.

Lewat radio Hamilton mengungkapkan, "adalah suatu kehormatan bekerja dengan kalian," dan race engineer andalannya, Peter 'Bono' Bonnington, membalas, "Demikian juga di sini, suatu kehormatan."

Setelah lomba, Hamilton menambahkan, "Saya sangat berutang kepada orang-orang ini atas kerja tim mereka, secara terus menerus berinovasi dan menembus batas yang bahkan lebih tinggi setiap tahun.

"Suatu kehormatan bekerja dengan mereka. Ini sangat luar biasa.

Sebelum meraih kemenangan di Portugal, Hamilton sempat mengeluhkan keram pada betis kanannya.

Baca juga: Hamilton kenakan kaus #EndSARS di wawancara pralomba GP Portugal

"Menekan kaki saya ketika melaju di lintasan lurus, itu sangat menyakitkan. Saya bisa merasakannya tertarik, tapi saya harus mengatasinya.

Dalam usia 35 tahun, Hamilton belum menunjukkan tanda-tanda melambat seperti ketika dia finis di Portugal dengan keunggulan satu putaran dari hampir semua pebalap hari itu kecuali tiga yang ada di belakangnya.

"Saya 35 tahun, saya merasa masih kuat secara fisik tapi tentunya Anda bertanya-tanya kapan itu akan berakhir, kapan akan kehilangan kinerjanya? Tetapi seperti yang ditunjukkan hari ini, itu belum"

Max Verstappen, pebalap berusia 23 tahun dari tim Red Bull yang finis ketiga hari itu dan dipandang sebagai juara masa depan memuji capaian sang rival.

"Lewis mengatakan dia terus menekan karena dia ingin memasang standar yang tinggi karena saya harus bekerja keras untuk mencapaianya," kata Verstappen yang sejauh ini telah mengantongi sembilan kemenangan.

"Ini luar biasa. Capaian yang luar biasa, 92 kemenangan dan saya kira itu tidak akan berhenti di sana. Saya kira itu akan melebihi 100 jadi dia mendorong saya untuk terus membalap hingga saya berusia 40 tahun. Itu adalah motivasi yang baik," kata pebalap Belanda itu.

Baca juga: Melesat di lap terakhir, Hamilton rebut pole position GP Portugal
Pewarta : Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2020