Partai oposisi terbesar Thailand minta PM Prayuth Chan-ocha mundur

Partai oposisi terbesar Thailand minta PM Prayuth Chan-ocha mundur

Dokumentasi--Pengunjuk rasa membawa poster bergambar para aktivis yang hilang saat aksi protes menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha, di Bangkok, Thailand, Senin (27/7/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Athit Perawongmetha/pras/djo (REUTERS/ATHIT PERAWONGMETHA)

Bangkok (ANTARA) - Partai oposisi terbesar Thailand pada Senin meminta Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha untuk mengundurkan diri, ketika parlemen membuka sidang khusus untuk membahas protes berbulan-bulan.

Demonstrasi yang dipimpin mahasiswa yang awalnya menuntut pengunduran diri Prayuth dan konstitusi baru semakin mengalihkan perhatian mereka ke monarki, menyerukan reformasi untuk membatasi kekuasaan Raja Maha Vajiralongkorn.

"Perdana menteri adalah penghalang dan beban utama bagi negara. Mohon mundur dan semuanya akan berakhir dengan baik," kata Sompong Amornvivat, pemimpin partai oposisi Pheu Thai, partai tunggal terbesar di parlemen.

Baca juga: Ratusan pemrotes di Thailand tentang peringatan di Bangkok
Baca juga: PM Prayuth tidak akan mundur dari jabatannya meskipun didesak massa


Prayuth menyerukan sesi parlemen minggu ini setelah pemberlakuan tindakan darurat 15 Oktober untuk mengakhiri demonstrasi - termasuk larangan protes - hanya mengobarkan kemarahan dan membawa puluhan ribu orang ke jalan-jalan di Bangkok.

"Saya yakin hari ini, terlepas dari perbedaan pandangan politik kita, semua orang masih mencintai negara ini," kata Prayuth dalam pidato pembukaannya.

Tetapi lawan dan pemimpin protesnya ragu bahwa sidang parlemen akan menyelesaikan krisis. Pendukungnya memiliki mayoritas di parlemen, yang seluruh majelis tinggi dipilih oleh mantan junta.

Prayuth merebut kekuasaan pada tahun 2014, menggulingkan Perdana Menteri terpilih Yingluck Shinawatra, saudara perempuan mantan perdana menteri populis Thaksin Shinawatra.

Para pengunjuk rasa menuduh Prayuth merekayasa pemilihan tahun lalu untuk menjaga cengkeraman militer pada kekuasaan. Dia mengatakan pemilihan itu berlangsung adil.

Melanggar tabu yang sudah lama ada, pengunjuk rasa juga menyerukan agar kekuasaan raja dikurangi, dengan mengatakan monarki telah membantu memungkinkan dominasi militer selama beberapa dekade. Istana tidak memberikan komentar sejak dimulainya protes.

Para pengunjuk rasa akan berbaris ke kedutaan Jerman pada pukul 5 sore dan mengatakan mereka akan mengajukan petisi untuk menyelidiki penggunaan kekuasaannya oleh raja saat berada di negara Eropa, di mana dia menghabiskan sebagian besar waktunya di sana.

Sumber: Reuters

Baca juga: Thailand sambut wisatawan asing saat unjuk rasa di Bangkok memanas
Baca juga: Polisi Thailand perintahkan penyelidikan media terkait berita protes
Pewarta : Azis Kurmala
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020