Ketika petani menggantungkan nasib pada hililirasi aspal karet

Ketika petani menggantungkan nasib pada hililirasi aspal karet

Bupati Musi Banyuasin (tengah) memeriksa jalan yang menggunakan aspal karet di Desa Muara Teladan, Senin (26/10). (ANTARA/HO/20)

Sekayu (ANTARA) - Anjoknya harga karet di pasar internasional sejak tahun 2015 membuat petani di Tanah Air menjerit karena harga jual hanya berkisar Rp6.000 per kg.

Namun kini sedikit tertolong, karena hasil produksi terserap di dalam negeri. Petani rakyat kini mulai merambah hilirisasi, yaitu aspal karet  terutama bagi Kabupaten Musi Banyuasin yang memiliki luas perkebunan karet 337.000 atau menjadi terluas di Sumatera Selatan.

Produksi karet kering yang mencapai 152.000 ton dari sekitar 300.000 petani rakyat.

Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, meresmikan instalasi pengolahan aspal karet berbasis lateks terpravulkanisasi yang menjadi pertama di Indonesia.

Instalasi di Workshop Kementerian PUPR, Sekayu, ini diresmikan Senin (26/10), nantinya akan menyerap getah karet produksi petani dalam bentuk lateks yang diproduksi Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB).

Terdapat satu unit mesin centrifuge yang dioperasikan di instalasi ini yang mampu menyerap 5-8 ton lateks dari petani setiap harinya. Sementara kapasitas instalasi mencapai 40 ton per hari.

Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex setelah meresmikan instalasi itu, mengatakan demi mempercepat program penyerapan lateks petani ini, pemkab telah menstimulus menggunakan dana APBD untuk menyediakan mesin centrifuge di UPPB Kecamatan Keluang.

“Nanti tahun ini kami sediakan lagi di dua kecamatan, sehingga progres semakin cepat lagi,” kata dia.

Dodi berharap, apa yang dilakukan pemkabnya ini mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah karena inovasi ini bukan hanya membutuhkan suplai tapi juga demand (pasar).

Pemerintah Kabupaten Banyuasin memastikan ke depannya seluruh jalan di kabupatennya bakal menggunakan campuran aspal karet.

Pada 2019 dan 2020, penggunaan lateks pada aspal jalan di Muba mencapai panjang 12,369 Km. Sebelumnya, pada 2018 mencapai 465 meter menggunakan teknologi SKAT.

Sementara pada peresmian kali ini dilakukan uji gelar penggunaan aspal karet di Desa Muara Teladan, Kecamatan Sekayu sejauh 1.450

“Kami mengharapkan juga dapat dukungan agar jalan provinsi dan jalan nasionalnya juga lebih banyak yang gunakan aspal karet. Kami minta ruasnya ditambah bukan hanya di Sumsel tapi hingga ke daerah lain, dan sentral lateksnya dari Muba,” kata dia.

Musi Banyuasin mulai merencanakan inovasi ini sejak tahun 2018, dengan melakukan uji coba pertama kali di Desa Mulyorejo, Kecamatan Sungai Lilin dengan menggunakan teknologi serbuk karet alat teraktivasi (SKAT).

Kemudian teknologi yang pengembangannya dilakukan Pusat Penelitian Karet di Bogor ini melakukan inovasi dengan menggunakan teknologi lateks pekat terpravulkanisasi.

Demi memastikan pasar penyerapan lateks ini, Pemkab Muba juga bekerja sama dengan BUMN Provinsi DKI Jakarta PT Jaya Trade untuk selama ini berusaha di Lampung.

“Lama-lama kami berpikir, kenapa tidak Pusat Penilitian Karet di Bogor dan PT Jaya Trade di Lampung kami dipindahkan saja ke Muba agar lebih maksimal. Dan akhirnya berdirilah instalasi pengolahan karet ini,” kata dia.
Bupati Musi Banyuasin (tengah) dan Gubernur Sumsel Herman Deru memeriksa jalan yang menggunakan aspal karet di Desa Muara Teladan, Senin (26/10). (ANTARA/HO/20)


Staf Ahli Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Bidang Keterpaduan Pembangunan Achmad Ghozali mengatakan pemerintah pusat telah menganggarkan dana senilai Rp100 miliar untuk penyerapan karet rakyat untuk pembuatan aspal khusus di Musi Banyuasin.

Adanya prioritas terhadap penyerapan karet itu lantaran ini dapat menggerakkan perekonomian rakyat, dan sekaligus mendukung program infrastruktur pemerintah saat ini.

“Pembangunan infrastruktur, terutama jalan ini untuk mendekatkan kawsan produksi dengan kawasan distribusi, kemudian ke kawasan pariwisata dan lainnya. Intinya dengan adanya penggunakan karet campuran aspal ini ada nilai tambah,” kata dia.

Selain itu, tak kalah penting adalah untuk menjaga daya beli petani karena harga lateks jauh lebih tinggi jika dibandingkan menjual bokar yang hanya menjadi komoditas ekspor.

Sejauh ini, penggunaan aspal karet sudah mencapai 120 meter dengan menyerap 1.776 ton dari petani Sumsel dan sejumlah daerah di Kalimantan. Sementara secara nasional, Kementerian PUPR telah menyerap 10.185 ton bokar yang digunakan untuk pembuatan jalan di antaranya di Ciawi-Sukabumi, Muara Beliti (Kabupaten Musi Rawas, Sumsel) dan Tebing Tinggi hingga perbatasan Lahat.

Negara mendukung penggunaan aspal karet ini karena secara teknis membuat jalan jauh lebih tahan lama, terutama di daerah yang sebagai besar wilayahnya yakni rawa seperti daerah di Sumatera dan Kalimantan.

“Walau berbiaya lebih mahal jika dibandingkan dengan daya tahan maka jatuhnya lebih murah,” kata dia

Sejauh ini di Musi Banyuasin terdapat 88 UPPB di Musi Banyuasin yang menyasar 16.200 Kepala Keluarga.

UPPB ini menyerap produk petani dalam bentuk bokar dengan harga sekitar Rp9.000—Rp10.000 per Kg, sementara jika sudah berubah menjadi lateks harga berlipat menjadi Rp20.000 per Kg. Hanya saja untuk menjadi lateks, belum semua UPPB memiliki mesin centrifuge (alat pemisah getah dan air) karena harganya berkisar Rp1 miliar. Biasanya mesin ini hanya dimiliki perusahaan/industri, bukan UPPB.

Dari selisih harga itu, Pemkab Muba mengklaim terdapat Rp3-Rp4 miliar yang kembali ke petani sejak menjual lateks jika dibandingkan menjual bokar.

Untuk itu, pada 2021, Muba menargetkan penambahan dua mesin centrifuge lagi, menggunakan dana APBD yakni di Kecamatan Sekayu dan Babat Toman. Namun, setidaknya terdapat lima unit yang beroperasi hingga 2022 sehingga hasil getah dari 88 UPPB dapat terserap maksimal untuk mendukung target mendirikan kawasan industri berbasis karet yang nantinya dapat membuat bahan jadi seperti sarung tangan, katup LPG dan alat kontrasepsi (kondom).

Kepala Bappeda Kabupaten Musi Banyuasin Iskandar mengatakan bukan hanya keterbatasan infrastruktur yang menjadi kendala saat ini, mengubah budaya warga setempat dari sekadar mengumpulkan getah kemudian mengeringkannya untuk dijadikan bokar, kemudian beralih membuat lateks itu terbilang bukan perkara mudah.

Petani setempat terbiasa membuat bokar, yakni mengumpulkan getah dengan cara menyadap, kemudian dikeringkankan selama tiga pekan untuk mendapatkan bokar dengan tingkat kekeringan 60 persen.

Namun, untuk memproduksi lateks, petani harus menyadap di pagi hari dengan memastikan getah itu bersih (tanpa bercampur kotoran) sehingga ketika dimasukkan dalam mesin centrufuge cepat dilakukan proses pemisahan airnya, lebih kurang hanya satu hari.

“Ini yang terus kami edukasikan ke petani, dan sejauh ini sudah ada 200 petani yang beralih membuat lateks,” kata dia.

Hilirisasi karet sejak lama dinanti-nantikan petani di Sumatera Selatan, namun untuk mewujudkannya bukan perkara mudah karena sudah terbiasa hanya sekadar mengirimkannya sebagai komoditas ekspor.

Walau penggunaan aspal karet ini belum banyak namun jika semua pihak melakukannya secara konsisten maka akan berdampak luar biasa bagi perekonomian rakyat.
 
Pewarta : Dolly Rosana
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020