Riau lakukan regenerasi perajin batik Melayu saat pandemi COVID-19

Riau lakukan regenerasi perajin batik Melayu saat pandemi COVID-19

Sejumlah perempuan belajar mencanting batik Melayu Riau di Galeri Semat Tembaga, di Kota Pekanbaru, Riau, Sabtu (31/10/2020). (ANTARA/FB Anggoro)

Pekanbaru (ANTARA) - Pemprov Riau bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK Riau dan Galeri Semat Tembaga menggelar pelatihan membatik untuk regenerasi perajin batik Melayu Riau pada saat pandemi COVID-19 di Kota Pekanbaru.

“Pelatihan ini sudah lama direncanakan tapi karena pandemi, mundur terus dan akhirnya sekarang terlaksana diikuti 10 orang,” kata pemilik Galeri Semat Tembaga sekaligus pelopor batik Melayu Riau, Encik Amrun Salmon, kepada ANTARA di Pekanbaru, Sabtu.

Dia menjelaskan pelatihan berlangsung selama 10 hari mulai tanggal 23 Oktober hingga 11 November 2020 di Galeri Semat Tembaga, Jl. Kuantan VII Pekanbaru. Pelatihan diikuti 10 perempuan mengikuti kurikulum yang disiapkan, mulai dari pelatihan menggambar motif, mencanting hingga mewarnai.

“Saya melakukan pelatihan bukan seperti belajar di kelas, melainkan sanggar, supaya peserta tidak bosan. Saya ajak mereka berkumpul, bercerita tentang sejarah batik, harapannya supaya muncul minat dari dalam diri,” kata seniman batik berusia 72 tahun ini.

Baca juga: Batik Melayu Riau kekurangan penerus hanya dua perajin tersisa

Baca juga: Karyawan Alfamart Riau pakai batik tiap Senin

Seorang perajin menunjukkan batik Melayu Riau di Galeri Semat Tembaga, di Kota Pekanbaru, Riau, Sabtu (31/10/2020). (ANTARA FOTO/FB Anggoro)


Ia tidak punya ekspektasi berlebihan terhadap pelatihan tersebut, minimal ada dua orang yang muncul jiwa perajin dan entrepreneur untuk menerapkan ilmu yang sudah didapatkan. Sebabnya, ia akui jumlah perajin batik Melayu Riau yang aktif hanya tersisa dua orang di Pekanbaru.

“Mencari perajin yang berjiwa entrepreneur itu yang susah,” katanya.

Selain itu, Encik Amrun juga berharap pemerintah daerah membuat strategi jangka panjang untuk melestarikan tradisi khas Melayu Riau tersebut. Regenerasi melalui pelatihan perajin perlu didukung dengan kebijakan strategis yang bisa membuka pasar dan permintaan untuk kerajinan batik Melayu Riau.

“Sekarang bagaimana caranya pemerintah memotivasi masyarakatnya untuk melestarikan (batik) ini,” demikian Encik Amrun Salmon.

Riau bisa dikatakan krisis perajin batik Melayu Riau. Dua perajin yang aktif membuat batik kini hanya ada di Galeri Semat Tembaga.

Batik Melayu Riau dahulu sempat dibuat oleh sejumlah perajin di Gedung Dekranasda Riau di Jalan Sisingamangaraja, namun tempat itu tidak memproduksi batik lagi karena tidak ada perajinnya. Sedangkan, galeri lainnya yang menjual batik khas Riau, memproduksi batik di Jawa dan menjualnya lagi di Pekanbaru.*

Baca juga: Wagub Riau menyesal lupa Hari Batik Nasional

Baca juga: Pameran batik catat transaksi Rp17 miliar

Pewarta : FB Anggoro
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020