Dirjen KKP: Peningkatan kualitas SDM maksimalkan produktivitas panen

Dirjen KKP: Peningkatan kualitas SDM maksimalkan produktivitas panen

Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto. ANTARA/M Razi Rahman

Jakarta (ANTARA) - Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto menyatakan, pihaknya terus melakukan berbagai kegiatan dalam rangka meningkatkan kualitas SDM guna memaksimalkan produktivitas panen komoditas perikanan.

"Peningkatan kualitas SDM penting guna mendapatkan panen yang maksimal. Baik secara kualitas maupun kuantitas," kata Slamet Soebjakto di Jakarta, Minggu.

Untuk itu, ujar dia, pihaknya telah menggelar acara seperti sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi penerima bantuan pemerintah budidaya ikan sistem bioflok pada 21–24 Oktober 2020.

Bimtek tersebut digelar dalam rangka persiapan pelaksanaan kegiatan budidaya lele bioflok bagi penerima bantuan tahun 2020 tahap II.

Tujuan dilaksanakannya kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis ini adalah dalam rangka memberikan pengetahuan, keterampilan, sikap dan wawasan tentang proses kegiatan budidaya perikanan sistem bioflok bagi penerima bantuan program prioritas pemerintah berupa teknologi anjuran budidaya bioflok tahap II.

Target dari kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Penerima Bantuan Program Prioritas Pemerintah Berupa Teknologi Anjuran Budidaya Bioflok adalah meningkatnya pengetahuan dan keterampilan para pembudidaya ikan sebanyak 31 orang dari 18 Kabupaten/Kota di 8 Provinsi.

Kedelapan provinsi tersebut adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi dan Riau, Sumatera Selatan, Lampung, dan Kepulauan Bangka Belitung yang merupakan kelompok yang telah diverifikasi sebagai penerima paket bantuan Bioflok Tahap II tahun 2020.

"Kegiatan Bimtek ini merupakan wadah kegiatan pelatihan bagi para penerima bantuan, karena budidaya ikan sistem bioflok ini menggunakan teknologi yang tidak sederhana dan tidak mudah bagi pelaku budidaya pemula," kata Slamet.

Dalam pelaksanaannya, masih menurut Dirjen Perikanan Budidaya KKP, budidaya ikan sistem bioflok selain kesuksesan juga terdapat kegagalan, di antaranya disebabkan oleh SDM yang belum siap menerapkan teknologi, kesulitan mendapatkan benih, kekompakan anggota sampai berhasil panen untuk melanjutkan siklus berikutnya.

Apalagi, lanjutnya, budidaya ikan lele sistem bioflok tidaklah mudah, butuh pelatihan langsung agar pembudidaya bisa mengimplementasikannya saat menerima bantuan dari program ini.

"Kami ingin program bantuan ini mampu memberikan hasil maksimal, untuk keberlangsungan usaha para pembudidaya. Sehingga program bantuan dari pemerintah ini mampu meningkatkan taraf kesejahteraan mereka," ujar Slamet.

Sebelumnya, KKP menyatakan telah memberikan pelatihan terkait sektor kelautan dan perikanan kepada hingga sebanyak 47.000 orang di berbagai daerah, yang dibantu dengan adanya teknologi penghubung jarak jauh.

"Kalau dulu itu ditargetkan kita hanya melatih 1.500 orang satu Indonesia per tahunnya, ternyata sekarang sejak pandemi, kita bisa melatih hingga 47.000 orang pada bulan Januari-Oktober 2020 ini. Jadi ternyata dengan menggunakan teknologi, kita bisa memperbanyak layanan kita," kata Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP Sjarief Widjaja.

Untuk itu, Sjarief menegaskan bahwa ke depannya kegiatan penyuluhan sektor kelautan dan perikanan juga akan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital.

Baca juga: Menteri KKP panen 804 ekor ikan nila di Kupang
Baca juga: KKP sukses panen ikan King Kobia di Desa Duren Lampung
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020