UNESCO tetapkan Karimunjawa Jepara sebagai cagar biosfer

UNESCO tetapkan Karimunjawa Jepara sebagai cagar biosfer

Dokumentasi - Foto udara tambak udang vaname intensif di sekitar area hutan mangrove tepi pantai Desa Kemujan, Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, Minggu (28/7/2019). Komunitas lingkungan Alam Karimun (Akar) khawatir terhadap dampak alih fungsi lahan hutan bakau dan perkebunan tepi pantai menjadi lahan-lahan tambak intensif di kepulauan wisata bahari Karimunjawa, karena air sisa limbah tambak dapat merusak ekosistem lingkungan hidup serta deforestasi berpotensi mengganggu sektor pariwisata setempat. ANTARA FOTO/Aji Styawan/foc.

Jepara (ANTARA) - Kawasan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, ditetapkan Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) sebagai cagar biosfer sebagai guna meningkatkan berbagai upaya pelestarian keanekaragaman hayati di daerah itu.

"Penetapan oleh UNESCO pada akhir 28 Oktober 2020 tidak hanya Karimunjawa, melainkan Karimunjawa Jepara Muria yang mencakup Kabupaten Jepara, Kudus, dan Pati," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jepara Farikhah Elida di Jepara, Rabu.

Ia mengungkapkan penetapannya bersamaan dengan dua cagar biosfer baru di Indonesia yang diumumkan dalam sidang ke-32 International Coordinating Council (ICC) Man and the Biosphere (MAB) UNESCO tahun 2020, Rabu (28/10).

Pengajuan Karimunjawa sebagai cagar biosfer, kata dia, sudah dilakukan sejak 2017, sedangkan tahapannya berlangsung hingga 2,5 tahun, mulai dari penyiapan proposal, data konferensi di LIPI, pembuatan film nominasi cagar biosfer, hingga pengiriman dokumen pengusulan nomine cagar biosfer ke MAB UNESCO di Nigeria.

Data yang dibutuhkan, mulai dari RPJMD, RTRW, kondisi geografis, sosial, ekonomi dan budaya, letter of agreement yang ditandatangani pemerintah daerah dan dinas terkait, serta surat rekomendasi dari Gubernur Jawa Tengah.

"Untuk total luasan di Karimunjawa mencapai 746.412,54 hektare," ujarnya.

Baca juga: Jadi penyangga Borobudur, Kemenhub kembangkan Bandara Karimunjawa

Terkait dengan alasan pengusulannya sebagai zona cagar biosfer, di antaranya karena merupakan hujan hutan tropis dataran rendah, hutan mangrove, ekosistem hutan pantai, ekosistem padang lamun, terumbu karang dengan spesisfikasi luas terumbu karang mencapai 7.487,55 hektare, dan jenis mangrove yang ada di Karimunjawa sebagian besar termasuk kelas mangrove sejati.

Terkait dengan alasan penamaannya Karimunjawa Jepara Muria, hal itu untuk mengenalkan potensi Jepara yang memiliki pulau dan Pegunungan Muria kepada dunia internasional.

Ia mengungkapkan cagar biosfer merupakan kawasan yang terdiri atas ekosistem darat, pesisir, dan laut yang diakui keberadaannya di tingkat Internasional sebagai bagian dari Program Man and Biosphere (MAB) UNESCO.

"Cagar biosfer tersebut sebagai konsepsi pengelolaan kawasan yang mengintegrasikan kepentingan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dengan kepentingan pembangunan sosial ekonomi yang berkelanjutan sebagai upaya untuk mewujudkan keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam dan lingkungannya," ujarnya.

Baca juga: BKIPM Semarang lepas liarkan benih lobster di Karimunjawa
Baca juga: Pegiat hak satwa selamatkan lumba-lumba yang sekolam bersama hiu di Karimunjawa
Pewarta : Akhmad Nazaruddin
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020