Merangkak bangkit di tengah pandemi COVID-19

Merangkak bangkit di tengah pandemi COVID-19

Pasien sembuh dari infeksi COVID-19 di Banda Aceh. (ANTARA/Ampelsa)

Jakarta (ANTARA) - Tangan Fajar (35) terlihat gesit membersihkan meja tempatnya berjualan dari remah makanan yang berserakan.

Sesekali ia pun menyemprot meja tersebut dengan air dan kemudian mengelapnya. Setelah itu, ia pun mempersiapkan bahan-bahan makanan dan minuman yang dijualnya pada hari itu.

Di kios berukuran 3x3 meter tersebut, ia menjual minuman boba kekinian dan ayam gunting. Di depan warungnya terdapat dua kursi bagi pembeli untuk duduk sembari menunggu pesanan.

Sejak sebulan terakhir, ia mulai berjualan di kawasan Depok tersebut.

"Belum stabil sih pendapatannya, tapi alhamdulillah sudah mulai ada pelanggannya," kata Fajar saat ditemui di Depok, Jumat (7/11).

Fajar yang mempunyai tiga orang anak tersebut, mengatakan dirinya memulai usaha itu setelah dia diberhentikan dari perusahaan tempatnya bekerja sekitar dua bulan yang lalu.

Awalnya, ia tak menyangka jika dirinya terkena dampak. Pada awal pandemi COVID-19, memang perusahaan tempatnya mencari nafkah tersebut mulai goyang keuangannya.

Saat gelombang pertama PHK di tempatnya bekerja, ia berhasil dipertahanan. Namun pada September lalu, ia turut dipecat dari perusahaan yang bergerak di bidang ekonomi kreatif itu.

"Sedih sih, apalagi dikasih tahu kalau diberhentikan beberapa hari setelah sembuh dari COVID-19," tutur dia.

Ia terkonfirmasi terinfeksi COVID-19, dua hari sebelum Hari Raya Idul Adha atau akhir Juli 2020. Gejala yang ia rasakan panas, menggigil, pusing, dan selalu dibayangi mimpi buruk. Kondisi itu berlangsung beberapa hari, sampai ia kesulitan untuk bangun dari tempat tidur.

Awalnya, ia belum menyadari terinfeksi COVID-19. Baru setelah sepekan kemudian, ia merasa indra penciumannya tak berfungsi normal. Akhirnya, ia pun memeriksakan diri ke rumah sakit dan setelah menjalani tes usap dinyatakan positif.

"Apa yang dipikirkan saat dikonfirmasi positif, yaitu anak dan istri. Saya takut menularkannya ke mereka. Beruntung anak dan istri tidak kena," terang dia.

Setelah dinyatakan positif, ia pun dirujuk ke Wisma Atlet. Dalam perawatan di Wisma Atlet, semangatnya untuk sembuh kembali menyala. Di Wisma Atlet, para tenaga kesehatan selalu memotivasi pasien untuk sembuh.

Dua pekan dirawat di Wisma Atlet, ia pun pulang ke rumah. Di rumah pun, ia harus beristirahat selama satu minggu. Begitu tahu dirinya terinfeksi COVID-19, tetangganya rutin memberikan makanan. Bahkan jasa binatu pun menggratiskan jasa cuci pakaian bagi dirinya dan keluarga.

Setelah sepekan di rumah, ia pulih bisa kembali bekerja. Saat kembali bekerja tersebut, ia dipanggil manajer SDM dan diberi tahu jika ia terkena dampak pengurangan karena dianggap tidak produktif. Saat itu, langit seakan runtuh. Bak terjatuh, ia pun tertimpa tangga.

"Bagaimana mau produktif, hampir satu bulan sakit," katanya lirih.

Fajar mengaku sempat tak memiliki semangat untuk mencari pekerjaan. Terbayang olehnya sulitnya mencari pekerjaan pada masa sulit seperti saat ini. Dengan dukungan keluarganya, ia mengumpulkan semangat dan bangkit kembali.

"Saat situasi sulit seperti saat ini, memang lebih baik kita wirausaha. Apapun jenis usahanya," terang dia.

Baca juga: Bangkit menghapus stigma "alumni" COVID-19

Baca juga: Penyintas COVID-19 takut menularkan ke keluarga saat isolasi mandiri

Gaya hidup

Pandemi COVID-19, telah mengubah banyak hal pada diri Fajar. Tak hanya dirinya memulai usaha yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, ia pun mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat.

Sebagai penyintas COVID-19, kini ia rutin berolahraga setiap pagi. Juga berjemur pada pagi hari. Ia mengaku ada perbedaan, sebelum dan sesudah terinfeksi COVID-19.

"Sekarang jadi lebih mudah lelah. Jalan kaki beberapa ratus meter aja sudah ngos-ngosan. Beda dengan dulu," cetus dia.

Fajar bersyukur pemerintah memberikan perhatian kepada masyarakat yang kesulitan di tengah pandemi ini. Dengan bantuan yang diberikan pemerintah tersebut, masyarakat dapat bangkit dan melalui pandemi tanpa merasa ditinggalkan.

Lain Fajar, lain pula cerita Febri (40) yang terinfeksi tak lama setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di tempatnya bekerja pada awal September. Pabrik sepatu tempatnya bekerja tak mampu bertahan di tengah situasi sulit seperti saat ini.

Gejala yang ia rasakan mual dan panas dingin. Pada mulanya, Febri mengira dirinya masuk angin. Kondisinya juga tak kunjung membaik, indra penciuman dan pengecap juga mengalami malfungsi.

Febri pun memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Setelah menjalani tes usap, ia dinyatakan positif dan segera dirujuk ke sebuah hotel di Kabupaten Tangerang untuk menjalani perawatan. Ia menyadari awal terinfeksi karena abai dengan protokol kesehatan dan jarang menggunakan masker serta menjaga jarak.

Setelah menjalani dua pekan di hotel tersebut, Febri mengaku ada perubahan signifikan pada dirinya, yang mana lebih menghargai matahari. Jika sebelumnya, ia menghindari paparan sinar matahari namun sekarang sebaliknya. Ia pun kini lebih menghargai kesehatan dengan berolahraga.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Febri mencoba merintis usaha minuman jamu. Belajar dari pengalamannya saat terinfeksi COVID-19 yang perlahan pulih dengan mengonsumsi rimpang-rimpangan, ia kemudian memproduksi minuman jamu yang dikemas di dalam botol plastik.

Meski sempat tertatih, namun kini hasilnya menggembirakan. Febri mengaku bisa menjual hingga 50 botol dalam satu hari. Untuk satu botol minuman tersebut dihargai Rp8.000.

"Saat ini penjualannya masih sebatas teman-teman. Tapi dalam waktu dekat, saya memulai penjualan secara online," kata Febri.

Febri mengaku bersyukur bisa bangkit dalam situasi yang tidak mudah ini.

Baca juga: Nakes berguguran karena COVID-19, dokter ingatkan APD standar

Baca juga: Pulih dari COVID-19 setelah dikirimi kumpulan video dukungan teman


Bantuan pemerintah

Sejumlah bantuan diberikan pemerintah untuk membantu masyarakat dalam menghadapi pandemi COVID-19 yang berdampak pada semua sektor tersebut.

Bantuan tersebut diantaranya, bantuan subsidi upah di bawah Rp5 Juta yakni sebesar Rp37,87 triliun. Selanjutnya, diskon listrik kepada pelanggan 450 VA dan 900 VA dengan anggaran sebesar Rp15,4 triliun.

Kemudian, Program Keluarga Harapan (PKH) dengan anggaran untuk PKH sebesar Rp37,4 triliun dan target sebanyak 10 juta keluarga penerima manfaat (KPM).

Berikutnya, anggaran untuk program Kartu Prakerja sebesar Rp20 triliun dan target sebanyak 5,6 juta orang.

Selanjutnya, program Bantuan Langsung Tunai Dana Desa sebesar Rp31,80 triliun. Program selanjutnya adalah penyaluran pinjaman koperasi melalui lembaga pengelola dana bergulir UMKM dengan anggaran sebesar Rp1 triliun.

Program berikutnya adalah bansos sembako Jabodetabek sebesar Rp6,8 triliun. Kemudian, bansos tunai program kartu sembako nonPKH.

Berikutnya, bansos tunai luar Jabodetabek dengan anggaran dengan anggaran sebesar Rp32,4 triliun. Terakhir, Bantuan Presiden Produktif Usaha Mikro (BPUM) dengan anggaran sebanyak Rp22 triliun.

Sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo meyakini perekonomian Indonesia, yang mengalami kontraksi akibat pandemi COVID-19, akan segera pulih kembali.

"Dibandingkan dengan negara-negara lain, kontraksi ekonomi Indonesia relatif lebih landai dan saya meyakini insya Allah mampu untuk segera pulih, mampu melakukan pemulihan," kata Presiden.

Presiden mengatakan pandemi COVID-19 membawa dampak buruk yang luar biasa dan telah menciptakan efek domino, mulai dari masalah kesehatan hingga sosial dan ekonomi.Seluruh lapisan masyarakat terkena dampaknya, mulai dari tingkatan rumah tangga, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga korporasi.

"Perekonomian di berbagai negara mengalami kontraksi, bahkan resesi. Tak ada yang kebal dari pandemi, termasuk negara kita, Indonesia" uja dia.

Presiden menjelaskan sebelum pandemi, ekonomi Indonesia selalu tumbuh sekitar lima persen. Pada 2019 misalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,02 persen.

Akibat pandemi, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat menjadi 2,97 persen pada triwulan pertama dan minus 5,32 persen pada triwulan kedua 2020. Presiden meyakini pemulihan ekonomi akan segera terjadi.

Dengan gotong royong dan kolaborasi yang baik antara pemerintah, industri dan masyarakat maka situasi sulit akibat pandemi COVID-19 dapat dilalui dengan mudah.

Baca juga: Pekerja sosial: Penyintas dan tenaga medis pahlawan sesungguhnya

Baca juga: Sembuh dari COVID-19, dokter Alim gencarkan protokol kesehatan

 
Pewarta : Indriani
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020