Pengangguran di Jambi bertambah 22.780 orang

Pengangguran di Jambi bertambah 22.780 orang

Ilustrasi - Kepala BPS Jambi, Wahyudin saat memberikan keterangan kepada media beberapa waktu lalu sebelum pandemi COVID-19 di Jambi. ANTARA/HO/Humas BPS Jambi.

Jambi (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi dalam setahun terakhir secara absolut mencatat jumlah pengangguran bertambah 22.780 orang.

Kepala BPS Jambi, Wahyuddin melalui keterangan resminya yang diterima, Rabu, mengatakan angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga naik sebesar 1,07 persen poin menjadi 5,13 persen pada Agustus 2020 dibandingkan dengan Agustus 2019.

TPT tertinggi terdapat pada penduduk dengan pendidikan tamatan SMK yaitu sebesar 12,35 persen, sedangkan dalam setahun terakhir persentase pekerja setengah pengangguran juga naik sebanyak 2,68 persen poin dan pekerja paruh waktu naik 1,79 persen poin.

Selain itu catatan dari BPS Jambi juga terdapat 252.800 orang terdampak COVID-19 atau 9,35 persen yang terdiri dari pengangguran karena COVID-19 sebanyak 18.790 orang, di PHK karena COVID-19 (2,62 ribu orang), sementara tidak bekerja karena COVID-19 (13.740 orang) dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena COVID-19 (217.740 orang).

Baca juga: Angka pengangguran Prancis terus meningkat

Baca juga: Ekonom: Gubernur Aceh agar prioritaskan penciptaan lapangan kerja


"Dengan adanya pandemi COVID-19, tidak hanya masalah kesehatan yang timbul, namun semua aspek dalam kehidupan ikut terdampak termasuk perekonomian. Perekonomian mulai menurun sejak diberlakukannya pembatasan aktivitas," kata Wahyuddin.

Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang masih menurun sampai pada triwulan III tahun 2020. Penurunan tersebut juga berdampak pada dinamika ketenagakerjaan di Indonesia. Tidak hanya pengangguran, penduduk usia kerja lainnya juga turut terdampak dengan adanya pandemi.

Penduduk usia kerja yang terdampak COVID-19 tersebut dikelompokkan menjadi empat komponen yaitu penganggur, bukan angkatan kerja yang pernah berhenti bekerja pada Februari-Agustus 2020, penduduk yang bekerja dengan status sementara tidak bekerja, dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja merupakan dampak pandemi COVID-19 yang dirasakan oleh mereka yang saat ini masih bekerja, sedangkan kondisi merupakan dampak pandemi bagi mereka yang berhenti bekerja.*

Baca juga: Krisis kesehatan sebabkan pengangguran di Jakarta tertinggi

Baca juga: BPS catat 531.000 pekerja di Sumbar terdampak COVID
Pewarta : Nanang Mairiadi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020