BPS catat tiga isu krusial untuk diatasi guna mencapai Indonesia emas

BPS catat tiga isu krusial untuk diatasi guna mencapai Indonesia emas

Tangkapan layar - Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) dr. Ateng Hartono berbicara dalam Webinar Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Jakarta, Senin (23/11/2020). ANTARA/Tangkapan layar Youtube BKKBN Official/pri.

Jakarta (ANTARA) - Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) dr. Ateng Hartono mencatat tiga isu krusial yang perlu diperhatikan dan diatasi guna menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul sehingga Indonesia mampu mewujudkan Indonesia Emas 2045.

"Terkait dengan bonus demografi, bagaimana kita menyiapkan SDM unggul? Tadi, (terkait) Indonesia (Emas) 2045, saya akan split kepada tiga faktor," kata Ateng dalam Webinar Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Jakarta, Senin.

Ia mengatakan tiga isu krusial yang perlu diperhatikan antara lain adalah tentang pembangunan manusia sejak dini, terkait penyerapannya dan ketika mereka memasuki lapangan pekerjaan, serta terkait lansia yang masih produktif.

"Ketika kita berbicara pembangunan manusia sejak dini, maka salah satu faktor usia yang perlu diperhatikan yaitu usia 0-6 tahun, atau 3-6 tahun," katanya.

Angka partisipasi kasar kelompok usia 3-6 tahun di dalam pendidikan prasekolah tercatat sebesar 37,9 persen. Sedangkan APK kelompok usia 0-6 tahun pada tahun ini tercatat 32,56 persen, cukup kecil.

Sementara itu, angka stunting di Indonesia pada 2018 mencapai 30,8 persen dan menurun menjadi 27,70 persen pada 2019.

Baca juga: BKKBN paparkan rencana strategi tingkatkan kualitas SDM Indonesia

Baca juga: Kepala BKKBN sebut ketahanan pangan tentukan kualitas SDM


Dengan demikian tantangan utama dalam pembangunan manusia sejak dini di Indonesia adalah banyaknya stunting dan jumlah anak prasekolah yang telatif sedikit.

Ke depan, untuk meraih Indonesia Emas 2045 diperlukan peningkatan pendidikan anak usia dini serta perbaikan gizi dan penurunan angka stunting.

Isu selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah terkait tingkat pengangguran terbuka dalam penyerapan tenaga kerja.

Ateng mencatat TPT dari lulusan SMA cukup tinggi. Begitu juga dari lulusan diploma. Dengan demikian, ia berharap tenaga-tenaga produktif yang berpendidikan itu perlu lebih diperhatikan dan diberi peluang lebih besar guna mewujudkan Indonesia emas 2045.

Sementara itu, terkait kelompok lanjut usia (lansia) yang masih produktif atau masih bekerja, Ateng menemukan bahwa 49,8 persen lansia masih bekerja dengan 65 persen di antaranya adalah lansia laki-laki.

"Dengan masih banyaknya lansia yang bekerja, berarti ada faktor yang perlu diperhatikan, yaitu apakah mereka bekerja karena terpaksa demi menyambung hidup atau alasan keduanya agar mereka puas untuk mencurahkan kehidupan, mendedikasikan kegiatan sosial yang positif," kata dia.

Jika alasan utama para lansia bekerja adalah karena terpaksa untuk menyambung hidup, maka hal itu, menurut Ateng, perlu menjadi perhatian bagi semua pihak.

Baca juga: BKKBN: Big data landasan penting masa depan pembangunan

Baca juga: Ahli kependudukan: Mayoritas lansia merasa khawatir di tengah pandemi
Pewarta : Katriana
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020