Wamenlu dorong kreativitas UMKM menuju pasar internasional

Wamenlu dorong kreativitas UMKM menuju pasar internasional

Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar berbicara dalam seminar daring tentang ekonomi kreatif, Kamis (26/11/2020). ANTARA/Yashinta Difa.

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar mendorong para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk lebih kreatif dalam menciptakan dan memasarkan produknya ke pasar internasional.

Dalam seri seminar daring “Promosi UMKM Ekonomi Kreatif Goes Global”, Kamis, Mahendra menegaskan pentingnya upaya untuk memadukan karya dan produk kreatif terbaik, selain yang pernah dan sudah dilakukan selama ini oleh UMKM atau perusahaan besar.

“Tetapi perlunya kita bisa memperkenalkan produk dan kreativitas yang justru belum pernah ada, menjadi satu terobosan besar dalam industri kreatif yang kontribusinya kepada dunia dimotori oleh UMKM Indonesia,” tutur dia.

Upaya mengubah pola pikir dan berkreasi yang “di luar kebiasaan”, menurut Wamenlu, akan mendukung langkah-langkah guna membangun ekosistem UMKM, seperti, memberi nilai tambah, memberi akses ke pembiayaan yang inklusif, serta memberi akses ke wadah digital dan online marketplace (pasar daring—red) untuk perluasan akses pasar.

“Yang lebih penting adalah benchmarking (membandingkan—red) dengan the best of the best in the world (yang terbaik di dunia—red). Ini yang saya pandang sebagai nilai tambah tersendiri. Sebab, sebagaimana pun kita mampu memproduksi sesuatu, tetapi kalau tidak benchmarking dengan pusat-pusat industri kreatif dunia maka kita tidak tahu apakah yang kita lakukan itu yang terbaik,” kata Mahendra.

Sehubungan dengan upaya pemasaran produk kreatif UMKM agar siap bersaing secara global, desainer Edward Hutabarat menyoroti empat poin utama yang harus diperhatikan, yakni, tetap mempertahankan kekuatan identitas, kualitas, kreativitas, dan agar produk tetap terlihat modern.

“Jika sudah memenuhi semua unsur itu, maka suatu produk akan siap bersaing dengan apapun juga. Karena pada dasarnya 80 persen karya UMKM adalah benda-benda peradaban,” tutur Edward.

“Benda-benda itu begitu istimewa karena (pada awalnya) dibuat bukan untuk dijual tetapi untuk melengkapi upacara adat. Disuguhkan untuk menghormati para leluhur, jadi tidak main-main dibuatnya,” ucap desainer asal Sumatera Utara itu.

Meskipun mendukung upaya pemerintah untuk membangun UMKM dari hulu ke hilir, Edward lebih menegaskan perlunya pendampingan kepada pelaku UMKM kreatif untuk mengembangkan pola pikir, wawasan, dan selera mereka dalam berkarya.

“Pelaku UMKM harus di-brainwash (disegarkan pikirannya—red) tentang modernisasi yang berkualitas dan beridentitas, karena 60 persen kunci pengembangan UMKM adalah pendampingan […] bagaimana mereka perlu melihat tempat-tempat istimewa seperti galeri di Chiang Mai, Shanghai, Tokyo,” kata dia.

Salah satu busana batik karya Edward Hutabarat. (ANTARA/Yashinta Difa)


Telah berkarya lebih dari 40 tahun, pria yang akrab disapa Edo itu dikenal atas misinya untuk mendalami batik dan menyelamatkan sisa peradaban yang terbengkalai di daerah-daerah terpencil di Indonesia.

“Pertama kali saya melakukan rebranding (memperbarui citra—red) batik pada 2006. Saya mendesain busana batik agar siap dipakai di kota-kota metropolitan dunia dan bisa disandingkan dengan tas-tas bermerek internasional,” ujar Edo.

Untuk membantu memasarkan produk-produk UMKM kreatif, pemerintah memfokuskan upaya peningkatan kapasitas dengan perhatian utama kepada pemberian nilai tambah secara menyeluruh, menonjolkan ciri khas, dan memperluas pangsa pasar.

Dalam hal ini, para pelaku UMKM kreatif didorong untuk memanfaatkan wadah digital, salah satunya melalui program “Beli Kreatif Lokal” yang diinisiasi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

“Kami berupaya membantu UMKM (agar dapat memasarkan produk) secara online (daring—red). Kami mendorong mereka untuk merangkul era digital dengan memberikan pelatihan secara daring khususnya selama masa pandemi ini,” kata Direktur Hubungan Antarlembaga Kemenparekraf K Candra Negara.

Baca juga: Indef: Digitalisasi kunci pengembangan UMKM, sediakan internet murah

Baca juga: Kemendag gandeng perhotelan dan perbankan tingkatkan transformasi UMKM

Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020