BKSDA Aceh tempatkan tujuh unit konservasi atasi gangguan gajah liar

BKSDA Aceh tempatkan tujuh unit konservasi atasi gangguan gajah liar

Arsip - Warga menunjukan tanaman kelapa sawit yang dirusak kawanan gajah liar di Desa Seumantok, Pante Ceureumen, Aceh Barat, Aceh, Senin (24/8/2020). (Antara Aceh/Syifa Yulinnas)

Meulaboh (ANTARA) - Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh menempatkan tujuh unit penanganan konflik gajah dan manusia dalam bentuk unit konservasi (Conservation Response Unit/CRU) di tujuh kabupaten/kota di provinsi itu.

CRU tersebut masing-masing berada di Kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur, Pidie, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Selatan serta di Kabupaten Bener Meriah.

“Minimal CRU ini menjadi respons pertama secara teknis untuk menangani konflik gajah yang terjadi di Aceh selama ini,” kata Kepala BKSDA Provinsi Aceh Agus Arianto di Meulaboh, Rabu.

Baca juga: BKSDA Aceh tangani gangguan gajah di Bener Meriah

Menurutnya, di CRU tersebut terdapat sejumlah "mahout" (pawang gajah) guna menangani gangguan gajah yang terjadi di sekitar pemukiman masyarakat, yang selama ini menjadi lokasi terjadinya konflik gajah dan manusia.

Ia juga menyatakan para mahout yang ditempatkan di setiap CRU tersebut memiliki keahlian untuk memahami kondisi satwa gajah, sehingga apabila terjadi gangguan segera melakukan langkah tepat agar gajah tidak masuk ke pemukiman masyarakat.

Baca juga: Kawanan gajah merusak kebun kelapa sawit warga di Aceh Barat

Selain itu, kata Agus Arianto, guna mencegah konflik gajah dan manusia di Aceh, BKSDA Provinsi Aceh juga sudah memasang sejumlah alat GPS (Global Positioning System) Polar di sejumlah satwa gajah yang ada di Aceh, guna memantau pergerakan gajah liar di hutan.

Menurutnya, GPS Polar yang dipasang tersebut juga sebagai sistem peringatan dini kepada masyarakat, apabila gajah liar tersebut mendekati pemukiman warga.

Baca juga: BKSDA pasang alat pelacak posisi gajah liar di Aceh Timur

“Jadi kita lakukan berbagai upaya agar gangguan gajah di Aceh bisa semaksimal mungkin teratasi, termasuk dengan menanam sejumlah tanaman atau pohon yang tidak disukai gajah di sekitar lintasan yang sering dilalui oleh satwa liar ini,” kata Agus Arianto.

Upaya lain yang dilakukan, kata dia, dengan cara menggali sejumlah parit di sekitar lokasi lintasan gajah, termasuk dengan memasang pita kejut yang dialiri listrik dan tidak berbahaya, sehingga gajah tidak akan masuk ke pemukiman masyarakat.

Baca juga: BKSDA: Gajah mati di Pidie diduga tersengat listrik

 
Pewarta : Teuku Dedi Iskandar
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020