Menristek: Indonesia terbuka jalin kerja sama riset iptek nuklir

Menristek: Indonesia terbuka jalin kerja sama riset iptek nuklir

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/ Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro saat membuka Rapat Kerja Kemenristek/BRIN di Yogyakarta, Jumat. ANTARA/Luqman Hakim.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan Indonesia terbuka untuk menjalin kerja sama dengan negara-negara lain di bidang riset dan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) nuklir.

"Dalam mengembangkan penelitian dan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir, Indonesia sangat terbuka untuk menjalin kerja sama dengan negara lain termasuk kerja sama dengan Jepang," kata Menristek Bambang dalam simposium virtual dalam rangkaian perayaan HUT Batan 2020 di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Menristek: Butuh hampir 3.000 SDM iptek nuklir untuk Indonesia maju

Hal itu disampaikan Menristek dalam Simposium Bersama Indonesia-Jepang tentang Riset dan Pengembangan, Keselamatan dan Pendidikan tentang Nuklir (Indonesia-Japan Joint Symposium on Nuclear Research and Development, Safety and Education).

Menristek Bambang menuturkan kerja sama antara Indonesia dan Jepang dalam bidang iptek nuklir dimulai pada tahun 1980-an. Kerja sama bidang iptek nuklir tidak hanya bersifat bilateral, tetapi juga regional melalui forum kerja sama.

Salah satu kerja sama Batan dan pihak Jepang adalah terkait pengembangan produk radioisotop dan radiofarmaka. Sebagai contoh, kerja sama pengembangan teknologi produksi radioisotop Teknesium-99m (Tc-99m) yang digunakan untuk diagnosis di kedokteran nuklir.

Menristek Bambang menuturkan salah satu Prioritas Riset Nasional (PRN) untuk pemanfaatan nuklir di bidang kesehatan, yakni untuk mengembangkan produk baru radioisotop dan radiofarmaka. Pada PRN 2020-2024,

Produk baru radioisotop dan radiofarmaka dimanfaatkan sebagai substitusi impor dan untuk menyediakan kebutuhan dalam negeri dalam radioterapi dalam pengobatan kanker, radiodiagnosis dan kedokteran nuklir.

Baca juga: Indonesia persiapkan nuklir untuk perangi kelaparan

Sementara PRN bidang nuklir untuk sektor energi, kesiapan infrastruktur pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) perlu ditinjau berdasarkan hasil studi kelayakan termasuk terkait aspek energi, ekonomi, dan lingkungan untuk pembangunan PLTN di Provinsi Kalimantan Barat.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Anhar Riza Antariksawan mengatakan di bidang kesehatan, produk utama aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) nuklir adalah radioisotop dan radiofarmaka,

Produk radioisotop dan radiofarmaka banyak dimanfaatkan untuk mendiagnosis dan terapi seperti pada penyakit kanker. "Perlu diketahui bahwa penderita kanker di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun," tutur Anhar.

Dia mengatakan Batan mendorong peningkatan radioisotop dan radiofarmaka.

Baca juga: Batan: Pengembangan nuklir difokuskan pada pangan dan kesehatan

Baca juga: BATAN ingatkan manfaat nuklir untuk teknologi pangan dan kesehatan
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020