Dolar jatuh ke terendah baru 2,5 tahun saat stimulus AS jadi fokus

Dolar jatuh ke terendah baru 2,5 tahun saat stimulus AS jadi fokus

Mata uang dolar Amerika Serikat. ANTARA/REUTERS/Sertac Kayar/am.

New York (ANTARA) - Dolar AS merosot ke level terendah baru 2,5 tahun dalam perdagangan berfluktuasi pada Rabu (Kamis pagi WIB), tertekan oleh ekspektasi stimulus fiskal lebih lanjut untuk Amerika Serikat.

Namun, greenback terakhir diperdagangkan sedikit berubah menjadi sedikit lebih rendah pada hari itu di tengah perselisihan di Kongres atas bantuan tambahan virus corona.

Baca juga: Dolar AS anjlok ke terendah 2,5 tahun, bitcoin capai rekor tertinggi

Partai Republik dan Demokrat di Kongres tetap tidak dapat mencapai kesepakatan tentang bantuan lebih banyak untuk ekonomi AS pada Rabu (2/12/2020), dengan petinggi Partai Republik mendukung apa yang dianggap oleh para petinggi Demokrat di Senat sebagai "proposal partisan yang tidak memadai".

Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan Presiden Donald Trump mendukung proposal yang diajukan oleh Pemimpin Mayoritas Republik Mitch McConnell setelah yang terakhir pada Selasa (1/12/2020) menolak paket bipartisan senilai 908 miliar dolar AS.

Selama berbulan-bulan, McConnell telah mendorong rencana bantuan 500 miliar dolar AS yang ditolak oleh Partai Demokrat karena dianggap tidak cukup.

Namun, para pemimpin Demokrat mengatakan pada Rabu (2/12/2020) bahwa rencana bantuan virus corona bipartisan harus menjadi dasar untuk negosiasi segera di Kongres AS.

"Secara umum, temanya positif dan rencana bipartisan memberi kami dasar untuk pembicaraan stimulus lebih lanjut," kata Amo Sahota, direktur eksekutif di perusahaan penasihat mata uang Klarity FX di San Francisco.

"Tapi sejujurnya, saya tidak yakin dengan rencana stimulus. Saya pikir mereka masih jauh dari kesepakatan dari apa yang bisa kita katakan," tambahnya, dikutip dari Reuters.

Pada perdagangan sore, indeks dolar turun 0,1 persen menjadi 91,115, setelah sebelumnya mencapai 91,094, terendah sejak akhir April 2018.

Data pada Rabu (2/12/2020) menunjukkan perekrutan swasta AS yang lebih lambat bulan lalu mendukung beberapa pembelian safe-haven dolar di awal sesi.

Penggajian swasta meningkat 307.000 pekerjaan pada November, Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP menunjukkan, lebih rendah dari perkiraan ekonom untuk kenaikan 410.000.

Namun, data untuk Oktober direvisi naik hingga menunjukkan 404.000 pekerjaan bertambah, bukan 365.000 yang dilaporkan semula.

Para analis mengatakan laporan ADP, meski mengecewakan, memiliki elemen positif.

Menambah sentimen risiko positif adalah persetujuan Inggris terhadap vaksin COVID-19 Pfizer Inc pada Rabu (2/12/2020) melompati seluruh dunia dalam perlombaan untuk memulai program inokulasi massal paling penting dalam sejarah.

Sementara euro menguat 0,2 persen pada 1,2098 dolar, setelah sebelumnya mencapai 1,2108 dolar, tertinggi sejak akhir April 2018. Bank Sentral Eropa bertemu minggu depan dan analis mengatakan ECB dapat bertindak untuk membendung kenaikan cepat mata uang.

Terhadap yen, dolar naik 0,2 persen menjadi 104,52, setelah bank sentral Jepang (BoJ) mengisyaratkan kesiapannya untuk memperpanjang program respons pandemi.

Bitcoin naik 1,6 persen menjadi 19.061 dolar, setelah mencapai rekor tertinggi 19.918,01 dolar pada Selasa (2/12/2020).

Sterling jatuh ketika Inggris dan Uni Eropa dengan cepat mendekati momen membuat atau menghancurkan dalam pembicaraan perdagangan, dengan investor tidak yakin kesepakatan akan dicapai. Pound terakhir diperdagangkan turun 0,5 persen terhadap dolar pada 1,3361 dolar.

Dolar Aussie yang sensitif terhadap risiko naik 0,4 persen terhadap greenback menjadi 0,7402 dolar AS saat data menunjukkan ekonomi Australia pulih lebih dari yang diharapkan pada kuartal ketiga.

Baca juga: Harga minyak menguat setelah Inggris setujui penggunaan vaksin
Baca juga: Emas naik lagi 11,3 dolar dipicu prospek stimulus dan pelemahan dolar
Pewarta : Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020