Psikolog : Keluarga tentukan karakter antikorupsi

Psikolog : Keluarga tentukan karakter antikorupsi

Psikolog klinis Ratih Ibrahim dalam webinar di Jakarta, Sabtu (5/12/2020). ANTARA/Indriani.

Jakarta (ANTARA) - Psikolog klinis Ratih Ibrahim mengatakan keluarga memiliki peranan penting dalam menentukan karakter anti korupsi pada anak.

“Keluarga adalah nukleus (inti) bangsa, sumber dari ketahanan bangsa,” ujar Ratih dalam webinar “Anti Korupsi Membangun Negeri” yang diselenggarakan Puspeka Kemendikbud di Jakarta, Sabtu.

Dia menambahkan dalam mencegah perilaku korupsi, yang perlu diperhatikan yakni pengasuhan dan penerapan nilai antikorupsi, orang tua teladan dan pola asuh dengan prinsip 5K.

Baca juga: Psikolog: Guru dan orang tua berperan penting kuatkan karakter anak

Baca juga: Psikolog : Pemda perhatikan kesiapan dalam pembelajaran tatap muka

Prinsip 5K tersebut, yakni kasih, konsekuen, konsisten, kompak, dan kompromi.

“Jika kita mengasihi anak kita, mengasihi keluarga kita, kita akan fokus 100 persen untuk keluarga. Tidak ada memberikan makan anak kita dengan uang haram,” tambah dia.

Konsekuen memiliki artian tidak mengajarkan anak korupsi, orang tuanya juga tidak memiliki perilaku korupsi. Semuanya harus berasal dari hasil kerja keras yang jujur.

“Sikap konsekuen ini harus dilakukan secara konsisten kepada seluruh anggota keluarga. Keluarga juga harus kompak, maka menjadi teladan dan antikorupsi,” terang dia.

Baca juga: Psikolog: Anak jenius perlu perlakuan khusus

Terakhir, adalah kompromi, yakni melakukan penyesuaian dengan kebutuhan. Misalnya, jika besar pasak daripada tiang kita mengkompromikan dan menurunkan ego kita.

Selain keluarga, perilaku antikorupsi juga harus berasal dari individu. Lingkungan keluarga dan sekolah turut membentuk karakter tersebut.

Inspektur Jenderal Kemendikbud, Chatarina M Girsang mengatakan perilaku korupsi terjadi dikarenakan tiga hal, yakni pembenaran, adanya kesempatan dan tekanan.

“Pembenaran yang dimaksud, misalnya korupsi adalah budaya. Padahal, budaya kita tidak ada yang namanya korupsi, itu hanya pembenaran,” kata Chatarina.

Baca juga: Psikolog sebut penegakan disiplin masker perlu lebih ditingkatkan

Untuk memberantas korupsi, kata Chatarina, tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat dan juga siswa.

Pewarta : Indriani
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020