Mentan pacu produksi hingga hilirisasi beras di food estate Kalteng

Mentan pacu produksi hingga hilirisasi beras di food estate Kalteng

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat mengunjungi lahan pengembangan food estate di Blanti Siam, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng, Rabu. (Kementerian Pertanian)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terus mendorong pemerintah daerah untuk memacu produksi hingga hilirisasi beras sebagai komoditas utama di lahan food estate Kalimantan Tengah.

Saat mengunjungi lahan pengembangan food estate di Blanti Siam, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng, Rabu, Mentan meminta pemerintah daerah dapat bersinergi untuk menggairahkan pembentukan korporasi petani, meningkatkan daya saing, pengembangan produk turunan atau nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan petani.

"Dalam pengembangan ketahanan pangan kita, Pemerintah daerah harus betul-betul kerja lebih kuat lagi agar budi daya bisa berjalan sehingga produktivitasnya bagus tapi off-farmnya kita harus siapkan juga lebih baik lagi," kata Syahrul dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Kementan luncurkan SISCrop 1.0 untuk monitoring tanaman padi

Mentan mengatakan bahwa hasil gabah yang digiling menjadi beras juga harus menghasilkan "output" dengan pengemasan berkualitas tinggi agar dapat menembus pasar nasional, bahkan ekspor.

Sebagai tindak lanjut arahan Presiden Joko Widodo, Mentan menegaskan penumbuhan korporasi petani menjadi salah satu program prioritas yang harus diwujudkan untuk membangun proses bisnis dari hulu ke hilir.

Apalagi, pertanian menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional dalam menghadapi tantangan, salah satunya pandemi COVID-19, serta menjadi sektor utama pendongkrak ekspor.

Baca juga: Luhut pastikan dua lokasi food estate tak lewati batas hutan lindung

Menurut dia, korporasi petani juga ditargetkan berimplikasi pada penumbuhan semangat generasi milenial untuk terjun memajukan sektor pertanian yang inovatif dan berdaya saing.

Ia juga menekankan pengembangan korporasi petani tidak hanya mengelola seluruh rantai produksi usaha tani dengan teknologi modern, pengolahan, budi daya, pascapanen dan pemasaran, namun juga mampu menciptakan produk turunannya.

"Bagaimana ke depan korporasi ini bisa membuat produk turunan dari beras, misalnya minyak, tepung bahkan bedak. Ini bisa saja kita ciptakan untuk benar-benar menambah nilai tambah, kesejahteraan petani dan tingkatkan pertumbuhan ekonomi," kata Syahrul.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Suwandi menambahkan pihaknya telah menjalankan Program Propaktani (Program Pengembangan Korporasi Tanaman Pangan) agar menggeliatkan penumbuhan korporasi petani.

Baca juga: Pemerintah dorong peningkatan sektor pangan-pertanian dukung PEN

Model korporasi petani sudah berjalan di beberapa lokasi seperti di Tuban, Demak, Lampung, Kalsel, Sulut, Lombok dan akan direplikasi di 130 kabupaten. Saat ini sudah terbentuk 21 korporasi di 21 kabupaten.

Korporasi petani merupakan langkah nyata dalam upaya pemerintah mengantisipasi dan melakukan stabilisasi harga jual petani karena petani tidak lagi menjual dalam bentuk gabah, namun beras.

"Pada musim panen pun petani selalu mendapatkan jaminan harga yang menguntungkan karena tidak di bawah harga pembelian pemerintah dan terlebih harga tidak lagi ditentukan tengkulak," kata Suwandi.

 
Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020