"Goal Aksis Women", lebih dari sekadar sekolah sepak bola

Remaja-remaja putri berusia belasan tahun ini terus berlatih sepak bola di Sekolah Sepak Bola "Goal Aksis Women" di Cimahi, Bandung, awal Desember 2020. ANTARA.

Jakarta (ANTARA) - Sejak legenda sepak bola nasional mendiang Ronny Pattinasarany merintis Sekolah Sepak Bola atau SSB, jumlah SSB terus menjamur sampai-sampai sudah tak lagi diketahui pastinya.

Namun begitu, sedikit yang mendapatkan dukungan dari pihak-pihak yang semestinya turut membesarkan mereka, mulai klub, pemerintah sampai swasta.

Beberapa SSB dimiliki klub-klub sepak bola, tetapi lebih banyak lagi yang tak berafiliasi kepada siapa pun.

Baca juga: Sekolah sepak bola Atambua mulai lagi berlatih bersama

Meskipun demikian, bagi banyak SSB yang minim dukungan, kendala itu tidak mengalihkan fokus untuk terus berlatih, bahkan pada masa pandemi di mana kompetisi dan turnamen terhenti, serta pembatasan berkerumun guna membendung penyebaran virus corona telah mengurangi aktivitas semua orang.

Mereka jalan terus karena tahu pasti SSB berkaitan dengan memelihara asa generasi muda dan menjauhkan mereka dari aktivitas-aktivitas yang bisa buruk bagi masa depan mereka.

Salah satu yang jalan terus adalah SSB Goal Aksis Women di Cimahi, Bandung.

"Biasanya kami berlatih seminggu tiga kali, tetapi selama pandemi jadi sekali seminggu," kata Fauzi Bramantio, pria berusia 31 tahun yang melatih remaja-remaja putri di SSB Goal Aksis Women kepada ANTARA dua pekan lalu di sebuah tempat berlatih sepak bola di Cimahi.

Tetap memperhatikan protokol kesehatan, belasan remaja putri yang dilatih Fauzi antusiastis mendribel, menendang dan mempraktikkan segala teknik bermain sepak bola.

Mereka berbalas pekikan yang kadang diselingi tawa ceria. Meski serius, mereka melakukannya dengan riang gembira yang menurut Fauzi adalah modal penting untuk fokus berlatih.

Bagaimana tak gembira, semua remaja putri yang dilatih Fauzi dan rekannya Lingga Destiarsa, memang tengah melakukan apa yang mereka suka. Bahkan ada yang sudah keranjingan sepak bola sejak kanak-kanak.

"Hobi saya sejak SD ya sepak bola," kata Rika Apriani yang masih duduk di bangku SMP dan berusia 15 tahun.

Termasuk Rika, ada 12 gadis yang berlatih hari itu, ditambah seorang yang menjadi salah satu kebanggaan mereka, Zahra Naqiyyah Primadi, yang tengah tak enak badan namun memaksa diri ke lapangan.

Zahra adalah satu dari enam siswa SSB ini yang berstatus pemain putri Persib Bandung. Dia menjadi Pemain Tengah Terbaik ASBWI pada 2017. ASBWI adalah Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia.

"Awalnya saya latihan bersama anak-anak cowok, mereka heran, 'kenapa sih anak cewek main bola'", kata Zahra yang masih berusia 16 tahun.

Baca juga: UC Bola Remaja kirim pemenang ke Chelsea Soccer Camp

Sport science

Zahra yang masih di bangku SMA ini tak peduli. Dia terus menendang bola hingga sejumlah prestasi berhasil dia torehkan.

Ada gadis-gadis lain seperti Zahra di SSB ini yang berprestasi tinggi. Salah satunya Reva Octaviani yang menjadi Pemain Terbaik Piala Menpora U-17 Nasional pada 2019.

Prestasi tinggi seperti itu ternyata tidak cuma menjadi pintu masuk ke level berikutnya, khususnya tingkat profesional karena juga bisa menjadi jembatan dalam mewujudkan mimpi masuk perguruan tinggi.

"Salah satu cita-cita kami mendirikan SSB ini adalah mendorong anak-anak ini berprestasi di sepak bola karena prestasi bisa menjadi gerbang masuk ke pendidikan tinggi," kata Wakil Ketua SSB Goal Aksis Women Yerry Primadi.

Ada tujuan mulia lain dari SSB Aksis Women, yakni mengangkat derajat anak-anak perempuan dari kalangan yang membutuhkan dukungan finansial. Inilah yang Yerry dan semua kawannya di SSB Goal Aksis berusaha bantu angkat.

"Saya sering mengantar anak saya mengikuti turnamen di daerah-daerah di mana dari sana saya melihat dan merasakan ternyata banyak sekali anak perempuan yang suka dan ingin mendalami sepak bola," kata Yerry.

"Sayang," sambung dia. "Banyak dari mereka tidak memiliki wadah yang tepat karena faktor ekonomi."

Yerry bertekad mewadahi dan menyalurkan anak-anak gadis pecinta sepak bola itu ke medium yang tepat dan benar. Dan sekolah sepak bola kemudian diputuskan menjadi benang merah untuk semua itu.

Baca juga: 58 SSB ramaikan Piala Kemenpora di Maluku Utara

"Sepak bola dan olah raga bisa menjadi jalur ke dunia akademis lebih tinggi. Banyak kampus yang menawarkan studi kepada atlet berprestasi. Ini pula salah satu tujuan kami membentuk Goal Aksis," kata Yerry bersemangat.

Faktanya apa yang diyakini Yerry itu sudah berlangsung lama di Indonesia. Banyak kampus yang memang menawarkan jalur masuk bagi atlet berprestasi.

Di hampir kebanyakan negara yang kuat dalam olah raga prestasi, termasuk Amerika Serikat dan China, model di mana ada hubungan erat antara kampus dan atlet berprestasi itu sudah umum.

Bahkan di AS meluber ke berbagai macam kompetisi dan liga olahraga kampus, mulai bola basket sampai american football, juga cabang-cabang olah raga perseorangan seperti atletik dan renang.

Banyak atlet besar AS dilahirkan dari format seperti ini di mana anak-anak berprestasi dalam olah raga dibidik sejak dini dan dimudahkan aksesnya ke bangku kuliah untuk kemudian digembleng dalam kompetisi yang sengit.

Seiring waktu, karena kampus adalah dunia intelektual di mana pemikiran ilmiah ditanamkan, pendekatan dalam mengembangkan olah raga pun menjadi juga bermuatan ilmiah.

Baca juga: China bangun 30 ribu sekolah sepak bola baru

Butuh dukungan

Indonesia juga tengah bergerak ke sana, apalagi pemerintah saat ini gencar mensosialisaikan apa yang disebut Grand Design Olah Raga Nasional di mana pembinaan dan perencanaan dini dianggap kunci dalam menciptakan atlet-atlet andalan yang bisa menguasai kawasan dan dunia.

Dalam grand design itu ada artikulasi sport science yang juga dipraktikkan oleh banyak SSB, termasuk SSB Goal Aksis Women. Sport science ini pula yang menjadi pendekatan penting yang diadopsi Fuazi Bramantio dalam melatih remaja-remaja putri di Goal Aksis Women.

Fauzi yang memiliki lisensi pelatih AFC sendiri adalah mahasiswa magister yang bertalian dengan sport science di Universitas Pendidikan Indonesia

Jadi, tak cuma asal tendang atau belajar teknik bermain semata. Remaja-remaja putri ini juga didekati dengan cara-cara ilmiah sehingga kemajuan dan prospek mereka dimonitor dengan benar dan akurat.

SB Goal Aksis Women memandang spesial remaja-remaja putrinya ini. Karena anak-anak gadis ini juga kelak bakal menjadi ibu yang melahirkan anak-anaknya sendiri, mereka dianggap kelak bisa menjadi guru dan pelatih sepak bola ideal manakala mendapati anak mereka di masa datang menyimpan benih untuk lahirnya calon bintang sepak bola.

"Akan lebih hebat jika orang tua sendiri yang mendeteksi secara dini kemunculan atlet-atlet berprestasi dan mengelolanya dengan benar berdasarkan pengalaman si orang tua sendiri sewaktu menjadi atlet," kata Yerry.

Ini adalah salah satu dari banyak gagasan positif yang diungkapkan Yerry kepada ANTARA tentang mengapa dia dan kawan-kawannya merasa harus menseriusi SSB.

Baca juga: Bambang Pamungkas senang bisa latih talenta muda sepak bola Indonesia

Namun sayang, sekalipun mencatat banyak kesuksesan dalam menelurkan atlet-atlet belia berprestasi, SSB ini, sebagaimana banyak SSB lainnya di Indonesia, mesti pontang panting sendiri membiayai keberlangsungannya, bahkan termasuk menggaji pelatih.

Mereka sebenarnya butuh dukungan semua pihak, dari pemerintah sampai swasta dan masyarakat biasa. Dan mereka layak dibantu, terutama karena andil mereka dalam menyalurkan remaja ke kehidupan positif yang menciptakan prestasi dan bisa menjadi pengantar untuk hidup sejahtera.

Siapa tahu dari SSB seperti ini lahir atlet-atlet sepak bola putri yang bisa merambah dunia. Lagi pula, ada prospek besar mengembangkan sepak bola putri di mana kampanye kesetaraan gender di seluruh dunia tengah tumpah ruah ke dunia olah raga profesional, termasuk sepak bola. Dan tren ini akan kian besar dan luas pada masa-masa mendatang.

Sepak bola putri khususnya, dan olah raga putri umumnya, juga menawarkan kesempatan lebih lapang untuk sukses di panggung dunia.

Banyak atlet putri dunia yang didominasi Asia. Eropa dan Amerika Latin boleh saja bergiliran menguasai turnamen-turnamen putra, namun atlet putri China dan Jepang bisa menembus dominasi yang tak bisa ditembus atlet putranya. Bukan mustahil atlet putri Indonesia juga bisa melakukannya.

Oleh karena itu, dukungan ekstensif dan berkesinambungan dari semua pihak untuk SSB seperti Goal Aksis, bisa menjadi pendorong bagi awal mewujudkan mimpi mendiang Ronny Pattinasarany menjadikan sepak bola kita berbicara banyak di kancah Asia dan dunia.

Baca juga: Pelajar Garut sekolah sepak bola ke Tiongkok
Pewarta : Jafar M Sidik
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2020