Kemarin, kasus COVID-19 bertambah dan program kewirausahaan sosial

Kemarin, kasus COVID-19 bertambah dan program kewirausahaan sosial

Ilustrasi - Penanganan pasien positif COVID-19.

Jakarta (ANTARA) - Ada sejumlah berita humaniora kemarin (27/12) yang menarik untuk dibaca pagi ini antara lain kasus COVID-19 bertambah di Indonesia dan peluncuran program Kewirausahaan Sosial.

Kemensos luncurkan program kewirausahaan sosial

Kementerian Sosial meluncurkan Program Kewirausahaan Sosial (Prokus) yang menyasar Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang sudah graduasi atau keluar dari Program Keluarga Harapan (PKH) agar ekonomi mereka tidak kembali terpuruk.

"Prokus sederhananya melakukan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan bisnis," kata Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kemensos Edi Suharto dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Ahad.

Baca berita: di sini

Kasus positif COVID-19 Indonesia bertambah 6.528 jadi 713.365 kasus

Kasus terkonfirmasi positif COVID-19 yang dilaporkan melalui Satuan Tugas Penanganan COVID-19 per Ahad, pukul 12.00 WIB, bertambah 6.528 sehingga total kasus COVID-19 di Indonesia menjadi 713.365 kasus.

Berdasarkan data dari Satgas Penanganan COVID-19 yang diterima di Jakarta, pasien yang sembuh per hari ini bertambah 6.983 orang sehingga total keseluruhan pasien COVID-19 yang berhasil pulih sebanyak 583.676 orang.

Cek berita: di sini

Bencana banjir paling banyak terjadi sepanjang 2020

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana bahwa banjir merupakan bencana alam yang paling banyak terjadi selama periode 1 Januari hingga 27 Desember 2020 yakni 1.064 kejadian.

Data BNPB yang diterima di Jakarta, Ahad, secara kumulatif terdapat 2.921 kejadian bencana alam yang tersebar di sejumlah provinsi di Tanah Air.

Simak berita: di sini

Menag: Semua warga sama di hadapan hukum termasuk Ahmadiyah dan Syiah

Menteri Agama (Menag) RI Yaqut Cholil Qoumas mengatakan semua warga negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum, baik dari kalangan Ahmadiyah, Syiah, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan sebagainya.

"Oleh karena itu, negara wajib melindungi mereka sebagai warga negara," katanya saat diskusi lintas agama dengan tema "Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam Kebinekaan" yang dipantau di Jakarta, Ahad.

Baca berita: di sini

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020