Petani milenial garap Bulak Srikayangan jadi sentra bawang merah DIY

Petani milenial garap Bulak Srikayangan jadi sentra bawang merah DIY

Panen raya bawang merah di Bulak Srikayangan, Kabupaten Kulon Progo, DIY, pada Senin (19 /10/2020). ANTARA/Sutarmi/am.

Kulon Progo (ANTARA) - Petani milenial di Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyulap lahan sawah di kawasan Bulak Srikayangan sebagai sentra bawang merah terbesar kedua di DIY dengan luasan lahan 255 hektare dan menggerakan ekonomi petani sekitar Rp100 miliar dalam kurun waktu satu kali masa tanam.

Saat ini, seiring perubahan zaman dan perkembangan teknologi pertanian, serta semakin sedikitnya jumlah petani, maka perlu adanya modernisasi sumber daya manusia sehingga dapat menjadikan sektor pertanian sebagai pekerjaan harian, dan tidak lagi dipandang sebelah mata.

Masyarakat di Sentolo dapat mengadaptasi perubahan zaman dan teknologi pertanian, sehingga menjadi "petani milenial" yang mampu memanfaatkan lahan pertanian sebagai sumber pendapatan.

Hal ini bisa dilihat dari hasil panen bawang merah pada musim taman ketiga (MT III), petani milenial pada Agustus hingga pertengahan Oktober 2020 mampu menjadikan lahan pertanian seluas 250 hektare menjadi lahan bawang merah. Nilai transaksi panen yang berlangsung pada Oktober 2020 bisa mencapai Rp102 miliar.

Baca juga: Dukung regenerasi, Kementan targetkan cetak 2,5 juta petani milenial

"Nilai transaksi penjualan bawang merah di Bulak Srikayangan pada masa pandemi COVID-19 luar biasa. Awal masa taman dihantam adanya penyebaran COVID-19 di Desa Srikayangan, sehingga kesulitan mendapat tenaga kerja.

"Namun tidak disangka mereka tetap bertahan bertani dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Hasilnya juga memuaskan. Mereka pahlawan ekonomi sektor pertanian di masa pandemi. Nilai transaksi tersebut terbesar sepanjang sejarah penanam bawang merah," kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Aris Nugraha di Kulon Progo, Rabu.

Pada saat panen, harga bawang merah dengan lahan 1.000 meter dengan harga Rp40 juta hingga Rp50 juta. Pertani mendapat keuntungan berkisar Rp26 juta karena modalnya Rp14 juta untuk membeli benih, bahan bakar, pupuk, hingga biaya produksi lainnya. Sehingga keuntungan dengan luas panen 255 haktare dengan nilai transaksi sekitar Rp102 miliar sebesar Rp66 miliar.

Petani milenial Sentolo melawan COVID-19 dengan terus bekerja menanam bawang merah. Masa pandemi tidak membuat petani milenial hanya mengadah bantuan dari pemerintah pusat dan pemerintah kupaten, karena bantuan alat dan saranan produksi pertanian terkena refocusing anggaran untuk penanganan COVID-19.

Ia mengatakan dirinya sangat bangga dan bahagia karena disaat pandemi COVID-19, keuntungan petani dalam satu masa tanam (tiga bulan) keuntungannya sekitar Rp66 miliar. Perbankan juga hadir dalam sentra budi daya dengan kredit usaha rakyatnya, sehingga menolong petani dalam permodalan.

Baca juga: Kementan: Petani milenial mulai terapkan internet of things

"Ke depan, kami berharap petani mampu meningkatkan produktivitas pertanian dan memperluas lahan tanam, sehingga keuntungan yang didapat petani semakin meningkat," harapnya.

Bulak Srikayangan merupakan salah satu dari delapan kawasan agri bisnis pertanian dalam rangka meningkatkan nilai tukar petani dan penumbuhan ekonomi masyarakat di Kabupaten Kulon Progo. Pengembangan kawasan agri bisnis memiliki tiga unsur, yakni produktivitas, kontinyuitas dan kualitas terpenuhi pengembangan kawasan pertanian ini, dari usaha produktif On Farm (budidaya) dan Off Farm (pasca panen) dapat dilaksanakan dalam satu kawasan, sehingga mampu mendongkrak ekonomi masyarakat.

Di kawasan Bulak Srikayangan sudah didukung infrastruktur jalan yang sudah bagus, namun jaringan infrastruktur irigasi dan pengairan memang membutuhkan pemerintah pusat karena masuk jaringan primer.

"Hal ini bisa dilihat, sektor pertanian tidak terkena dampak pandemi COVID-19. Pertanian bisa menjadi sektor yang paling bisa beradaptasi dengan cepat, sehingga pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian selalu positif," katanya.

Pembangunan Drigul

Petani Bulak Srikayangan mengalami kesulitan setiap memasuki masa tanam bawang merah. Hal ini dikarenakan Bendung Drigul tidak bisa dimanfaatkan karena talud sayap kanan dan sayap kiri ambrol dan rusak parah yang sampai saat ini tidak ada perhatian dari Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulon Progo atau intansi lain yang berwenang memperbaiki talud tersebut.

DPUPKP diharapkan mengkomunikasikan dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) untuk memperbaiki talud Bendung Drigul. Hal ini dikarenakan Bendung Drigul bagian dari Kali Pahah yang menjadi kewenangan BBWSSO.

Dampak dari rusaknya talud Bedung Drigul, air sulit diangkat ke atas untuk dialirkan ke area sawah yang ditanami bawang merah setiap Agustus hingga Oktober. Selama ini, petani melakukan pompanisasi dengan biaya yang cukup besar untuk membeli bahan bakar minyak dan biaya operasional bagi petugas yang menjaga mesin disel penyedot air.

Selain saluraan irigasi yang dilalui air dari Bendung Drigul juga tidak berfungsi karena bangunan tidak sesuai spesifikasi. Sehingga, Pemkab Kulon Progo memiliki pekerjaan rumah untuk mempercepat mewujudkan kawasan agri bisnis Bawang Merah di Bulak Srikayangan. Biaya operasional pengairan sangat tinggi dengan pompanisasi, yang diperkirakan akan menghibiskan anggaran Rp90 juta. Belum lagi, petani kesulitan membeli bahan bakar minya (BBM), selain harus mengantongi izin dari Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo, juga terkendala adanya pembatasan di SPBU.

"Kami meminta kalau kawasan Bulak Srikayangan ditetapkan sebagai sentra bawang merah di Kulon Progo harus didukung irigasi teknis. Sehingga akan mengurangi biaya operasional dan pompanisasi," kata Anggota Kelompok Tani Makmur Srikayangan Wakidi.

Setiap tahun, dari Agustus sampai Oktober, mampu menjadi pusat kegiatan ekonomi baru di Kulon Progo. Di lahan tanaman bawang merah, sekitar 300 buruh tani bekerja untuk menanam, menjaga dan menyiram, hinggga memanen. Pendapatan buruh tani pada masa pandemi ini sangat tinggi. Pada hari-hari biasa, sebelum ada pandemi COVID-19, upah tenaga kerja hanya berkisar Rp65 ribu hingga Rp70 ribu per hari per orang, pada masa pandemi COVID-19 menjadi Rp80 ribu sampai Rp85 ribu per hari per orang untuk tenaga kerja laki-laki, sedangkan perempuan Rp70 ribu sampai Rp75 ribu perhari.

"Jumlah tenaga kerja yang terlibat untuk tanam di lahan seluas 1.000 hektare sebanyak 12 orang. Kalau satu hektare sekitar 120 orang. Pada masa tanam bawang merah ini cukup menyerap tenaga kerja di sekitar Desa Srikayangan," katanya.

Petani di Desa Srikayangan juga mampu mengadopsi modernisasi sektor pertanian dengan cepat. Namun bantuan alat mesin pertanian, seperti traktor roda empat yang cepat mengoolah tanah supaya masa tanam tidak mundur. Musim tanam mundur bisa mempengaruhi produksi bawang merah. Hal ini dikarenakan berlomba dengan musim bulan purnama yang dapat menyebabkan serangan hama ulat.

"Kami berharap Pemkab Kulon Progo melalui Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo menambah traktor roda empat guna mempercepat pengolahan tanah, dan tidak terlambat tanam," harapnya.
Pewarta : Sutarmi
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021