Kasus COVID naik, keadaan darurat Jepang diperluas di luar Tokyo

Kasus COVID naik, keadaan darurat Jepang diperluas di luar Tokyo

Pejalan kaki yang mengenakan masker pelindung di tengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), berjalan ke distrik perbelanjaan Ginza yang ditutup untuk mobil pada hari Minggu di Tokyo, Jepang, Minggu (10/1/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Kim Kyung-Hoon/WSJ/sa.

Tokyo (ANTARA) - Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga mengatakan pada pertemuan eksekutif partai yang berkuasa pada Selasa (12/1) bahwa dia akan mengumumkan keadaan darurat untuk tiga prefektur lainnya di barat Jepang, yaitu Osaka, Kyoto dan Hyogo.

Perluasan penerapan keadaan darurat di luar Tokyo itu dilakukan untuk membendung penyebaran COVID-19 yang kasusnya meningkat di Jepang, demikian laporan kantor berita Kyodo.

Menanggapi tekanan dari Tokyo dan tiga prefektur tetangga di timur Jepang, Suga pekan lalu menyatakan keadaan darurat satu bulan untuk wilayah itu hingga 7 Februari.

Namun, jumlah kasus infeksi virus corona juga meningkat di wilayah barat, sehingga mendorong penerapan keadaan darurat juga di tiga prefektur lainnya.

Baca juga: Dalam ritual mandi es tahunan, warga Jepang berdoa pandemi berakhir
Baca juga: Vokalis band Jepang DIR EN GREY positif COVID-19


Menurut berita Kyodo yang mengutip sumber pemerintah, Jepang sedang menyelesaikan rencana untuk mengumumkan keadaan darurat di tiga prefektur di barat Jepang pada Rabu, dan juga akan mempertimbangkan untuk menambahkan beberapa prefektur lainnya di pusat, seperti Aichi - rumah bagi Toyota Motor Corp - dan Gifu.

Juru bicara pemerintah Jepang, Kepala Sekretaris Kabinet Katsunobu Kato, tidak mengonfirmasi laporan itu, namun hanya mengatakan bahwa pemerintah akan "dengan cepat" mempertimbangkan langkah-langkah untuk wilayah Osaka.

Di bawah hukum Jepang, perdana menteri dapat mengumumkan keadaan darurat, yang memberikan dasar hukum kepada otoritas lokal untuk meminta penduduk dan bisnis membatasi pergerakan dan kegiatan bekerja.

Suga telah dikritik karena banyak orang menilai dia melakukan langkah tanggapan yang lambat, membingungkan, dan sedikit demi sedikit terhadap pandemi ketika kasus infeksi virus corona di Jepang mendekati rekor tertinggi.

Kasus virus corona harian mencapai rekor 7.882 pada Jumat lalu, sehingga totalnya menjadi hampir 300.000, menurut laporan NHK.

Dalam upaya membantu sektor jasa yang kesulitan, pemerintah Jepang sebelumnya telah mendorong warganya untuk bepergian di dalam negeri dan makan malam di luar dengan menawarkan subsidi yang banyak. Namun, pemerintah akhirnya menghentikan program tersebut akhir tahun lalu ketika kasus COVID-19 melonjak.

Sekarang, pemerintah meminta penduduk di daerah Tokyo untuk tinggal di rumah sebanyak mungkin dan meminta bar serta restoran tutup pada pukul 08.00 malam.

Dalam survei Kyodo News yang diterbitkan pada Minggu (10/1), sekitar 79 persen responden mengatakan keputusan Suga untuk mengumumkan keadaan darurat Tokyo sudah terlambat. Selain itu, sekitar 80 persen responden mengatakan Olimpiade Tokyo tahun ini harus dibatalkan atau ditunda.

Sumber: Reuters

Baca juga: Anak muda Jepang rayakan Hari Kedewasaan di bawah bayang-bayang COVID
Baca juga: Jepang temukan varian baru COVID pada empat pelancong asal Brazil
Pewarta : Yuni Arisandy Sinaga
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021