Pakar kesehatan dorong peran tokoh masyarakat untuk dukung PPKM

Pakar kesehatan dorong peran tokoh masyarakat untuk dukung PPKM

Pakar kesehatan masyarakat Prof. dr. Hasbullah Thabrany. ANTARA.

Jakarta (ANTARA) - Pakar kesehatan masyarakat Prof Hasbullah Thabrany mendorong peran aktif para tokoh agama, budaya dan tokoh masyarakat untuk mengedukasi warga agar memahami perlunya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), sehingga upaya pengendalian COVID-19 berjalan dengan baik.

"Saya berharap kepada tokoh-tokoh masyarakat atau para pendeta, biksu dan sebagainya yang sudah banyak pengikut. Jadilah contoh dan jadilah agent of change bagi para pengikutnya. Bahwa ini benar loh yang pemerintah lakukan," kata Hasbullah melalui sambungan telepon dengan ANTARA di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan bahwa para tokoh masyarakat tersebut memiliki peran yang sangat penting dalam upaya pengendalian wabah COVID-19.

Baca juga: 141 desa/kelurahan di Boyolali diperketat terkait PPKM

Baca juga: Tak patuh aturan saat pengetatan pembatasan bisa dihentikan aparat


Mereka dapat memberikan edukasi yang benar tentang perlunya menjalankan protokol kesehatan 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak serta menghindari kerumunan guna mencegah potensi penularan virus SARS-CoV-2, penyebab penyakit COVID-19.

Begitu juga dengan penerapan PPKM di Jawa-Bali untuk membatasi kegiatan masyarakat yang dapat menimbulkan kerumunan, sehingga berpotensi meningkatkan kasus penularan.

Para tokoh masyarakat tersebut bisa berperan dengan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya penerapan PPKM di wilayah yang kasus penularannya cukup tinggi, terutama di Pulau Jawa.

Sebaliknya, Hasbullah tidak berharap para tokoh tersebut justru memberikan contoh yang tidak baik dan cenderung kontraproduktif dalam upaya pengendalian COVID-19. "Jadi, jangan justru mengompori yang keliru, yang nyinyir," katanya.

Ia menyadari bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki tingkat pendidikan yang cukup rendah dan edukasi yang dilakukan terhadap masyarakat berpendidikan rendah itu diakuinya cukup sulit untuk dilakukan.

"Masyarakat yang pendidikannya rendah akan lebih sulit bagi mereka untuk memahami bahwa risiko COVID-19 itu memang nyata dan memang ada. Bahwa vaksinasi itu memang efektif untuk mengurangi risiko. Bahwa pakai masker, menjaga risiko itu memang efektif," katanya.

Baca juga: Ganjar instruksikan penambahan ruang ICU COVID-19 di Jateng

Baca juga: PPKM dititikberatkan pada pengawasanpotensi munculnya kerumunan


Namun, pada kalangan masyarakat tersebut, edukasi dan masukan akan lebih mudah diterima jika disampaikan oleh para tokoh agama atau tokoh masyarakat yang menjadi panutan di lingkungan mereka.

"Oleh karena itu, edukasi perlu dilakukan oleh orang yang dipercaya oleh kelompok masyarakat tertentu," kata Hasbullah.

Untuk itu, ia berharap kontribusi dari para tokoh masyarakat untuk mendukung PPKM, sehingga pelaksanaannya berjalan efektif.

"Karena kalau enggak, yang rugi kita semua ini. Ekonomi tidak jalan. Pekerjaan makin berkurang. Pada akhirnya kita semua jadi susah," kata Hasbullah.

#satgascovid19
#ingatpesanibucucitanganpakaisabun
#vaksincovid19
Pewarta : Katriana
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021