Ikhtiar di tengah lonjakan kasus COVID-19

Ikhtiar di tengah lonjakan kasus COVID-19

Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) menyemprotkan cairan disinfektan di Museum Nasional, Jakarta, Sabtu (5/12/2020). Penyemprotan disinfektan tersebut terus dilakukan secara berkala untuk mencegah penyebaran virus corona saat museum tersebut dibuka untuk wisatawan. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/hp.

Jakarta (ANTARA) - Lonjakan demi lonjakan angka kasus baru virus corona di Indonesia terjadi secara beruntun mewarnai awal tahun 2021.

Bahkan dalam beberapa hari terakhir angka-angka pertambahan sangat mencengangkan dan mengejutkan, ditandai dengan terjadinya rekor-rekor baru dengan angka yang tidak saja bertambah tetapi berganti.

Pertambahan kasus-kasus baru yang terus melejit itu terjadi pada saat mulai dilakukan vaksinasi. Juga terjadi saat sedang terjadi bencana alam di beberapa daerah, seperti banjir, longsor, gunung meletus dan gempa bumi.

Pada Jumat (1/1) bertambah 8.072, Sabtu (2/1) 7.203, (3/1) 8.369, (4/1) 6.753, (5/1) 7.445, (6/1) 8.854, (7/1) 9.421, (8/1) 10.617, (9/1) 10.046 dan (10/1) 9.640. Pada Senin (11/1) 8.792, Selasa (12/1) 10.417, Rabu (13/1) 11.278, Kamis (14/1) 11.557, Jumat (15/1) 12.818 dan Sabtu (16/1) 14.224.

Data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan angka positif COVID-19 di Indonesia hingga Sabtu, pukul 12.00 WIB, bertambah 14.224. Wabah ini total telah mencapai 896.642 kasus, namun pasien sembuh juga bertambah 8.662 sehingga total menjadi 727.358 kasus.

Jumlah warga meninggal akibat virus corona jenis baru itu bertambah 283 sehingga total menjadi 25.767 dan ada suspek sebanyak 69.414 kasus. Kasus virus corona (COVID-19) telah meluas hingga 34 provinsi dan 510 kabupaten/kota di Indonesia.

Pertambahan kasus COVID-19 terbanyak di DKI Jakarta yang mencapai 3.536 kasus, diikuti Jawa Barat dengan 3.460 kasus dan Jawa Tengah 1.997 kasus. Kasus sembuh terbanyak di DKI Jakarta dengan jumlah 2.211 kasus, diikuti Jawa Barat 2.143 kasus dan Jawa Tengah 822 kasus.

Sebanyak dua daerah dengan jumlah kasus COVID-19 kurang dari 10 kasus, yakni Provinsi Maluku Utara dan Gorontalo. Sedangkan di Sulawesi Barat tidak ada pertambahan kasus.
 
Sejumlah warga antre untuk mengurus pembuatan Kartu Pencari Kerja (Kartu Kuning) di Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota Serang, Banten, Selasa (9/6/2020). Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani dampak COVID-19 telah melemahkan kegiatan usaha di Indonesia sehingga angka pengangguran naik sekitar 71 persen dari 7,1 juta menjadi 12,2 juta orang. ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/foc. (ANTARA FOTO/ASEP FATHULRAHMAN)

Mulai abai
Terus meningkatnya angka kasus COVID-19 dalam beberapa pekan terakhir telah meruntuhkan prediksi dan harapan bahwa virus yang bermula di Kota Wuhan (China) itu segera berakhir. Sebaliknya, semakin tidak pasti kapan pagebluk ini sampai puncaknya.

Bahkan menurut Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 yang juga Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, kasus positif COVID-19 meningkat 130 persen dalam dua bulan terakhir.

Baca juga: Indonesia upayakan pertukaran data ilmiah terkait vaksin COVID-19

Penyebabnya adanya kecenderungan masyarakat mulai abai dengan protokol kesehatan. Selain ada libur panjang, ada faktor kejenuhan, kelelahan dan faktor lain yang menembus batas psikologi masyarakat.

Pada pekan kedua awal November, kasus aktif COVID-19 berada pada posisi terendah sepanjang 10 bulan terakhir, yaitu 12,12 persen dengan akumulasi 54.000 orang. Namun dalam waktu dua bulan terakhir terjadi peningkatan yang sangat mencolok, yaitu peningkatan 130 persen dengan akumulasi 129.000 orang.

Karena itu, siapapun kini tidak boleh lengah di tengah kecenderungan kenaikan kasus positif COVID-19. Pesan dan peringatan kepada publik harus kembali disampaikan, terutama protokol kesehatan 3M yang sebenarnya sudah demikian populer.

Dimulainya vaksinasi kemungkinan menjadikan masyarakat abai protokol kesehatan. Alasannya, vaksin untuk virus ini sudah ada.

Padahal vaksin dimaksudkan untuk memperkuat kekebalan (imunitas) tubuh dari penyakit termasuk virus corona. Vaksin COVID-19 tidak serta merta menghentikan pandemi COVID-19 dan menjamin seseorang bebas dari potensi tertular.

Vaksin penting untuk menambah kekebalan dari terpapar virus tersebut tetapi hidup sehat dan protokol kesehatan tetap harus dilakukan. Usai divaksinasi seseorang tidak langsung menjadi kebal dan membutuhkan waktu dua hingga tiga minggu untuk membangkitkan kekebalan tubuh.

Setiap orang, termasuk pejabat dan publik figur, harus tetap menerapkan protokol kesehatan setelah melakukan vaksinasi. Jika tidak, berarti telah salah persepsi terhadap tujuan vaksinasi.

Baca juga: Positif COVID-19 se-Indonesia bertambah di atas 5.000

Wabah ini diperkirakan akan berakhir bila semakin banyak orang punya kekebalan yang baik. Karena itu, pemerintah menargetkan 70 persen masyarakat di Indonesia mau mengikuti vaksinasi COVID-19 agar tercipta kekebalan komunitas
(herd immunity).
Ketua Satgas Penanganan COVID-19 sekaligus Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo memberikan keterangan pers di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran di Jakarta, Minggu (15/11/2020). Doni Monardo mengatakan selama dua minggu terakhir angka kasus konfirmasi positif COVID-19 di Indonesia mengalami peningkatan yang berdampak pada keterisian ruang isolasi yang semula 32 persen saat ini naik menjadi 53 persen. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/aww. (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)


Positif
Dalam kaitan inilah, di tengah kepungan virus corona, kekebalan tubuh adalah segala-galanya. Selain memperkuatnya dengan vaksin, cara lain tetap harus dilakukan, misalnya, olahraga dan asupan makanan yang sehat.

Para ahli kesehatan juga telah menyampaikan beragam langkah untuk meningkatkan imunitas. Tentu tak sedikit masyarakat yang telah memahami cara atau langkah untuk kekebalan tubuh.

Dari bertanam tanaman yang digemari atau beternak hingga kegiatan lain yang membuat hati lebih tenang, tidak panik tetapi tetap waspada. Juga memperdalam ibadah dan memperbanyak sedekah.

Cara yang disampaikan ahli epidemiologi Universitas Hasanuddin, Prof Ridwan Amiruddin tampaknya patut menjadi perhatian bahwa berpikir positif (positive thinking) bisa memperkuat imun tubuh untuk menangkal virus corona (COVID-19).

Baca juga: Hoaks, narasi China targetkan kematian 100 juta penduduk Indonesia dengan vaksin

Dengan berpikir positif yang diwujudkan dengan menebar energi positif memungkinkan seseorang lebih mampu bertahan dalam menjaga imunitas dan kondisi kesehatan lebih baik. Karena itu memberikan energi positif itu akan memungkinkan seseorang lebih bertahan (survive).

Bagaimana cara menebar energi positif? Ternyata caranya gampang dan sederhana, misalnya, menebar senyum dan ikhlas dalam bekerja.

Saat ini Indonesia sedang masuk dalam zona perang melawan COVID-19 yang berarti siapa saja harus ikut melawannya. Bukan hanya pemerintah, namun setiap orang harus mengambil peran dalam menghentikan penyebaran virus ini.

Maka mari memperbanyak energi positif dan jangan lupa bahagia. Salah satu penunjangnya mesti tetap berpikir positif.

Berpikir positif akan menghasilkan energi dan tindakan positif. Begitu juga dengan ikhlas.

#satgascovid19
#ingatpesanibupakaimasker
#vaksincovid19
Pewarta : Sri Muryono
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2021