Bubur seafood ala Widyantara, paduan cita rasa dan kekuatan medsos

Bubur seafood ala Widyantara, paduan cita rasa dan kekuatan medsos

Ilustrasi - Bubur seafood Tanjung Benoa, Bali, Badung. ANTARA/Ayu Khania Pranisitha.

Denpasar (ANTARA) - Usaha kuliner bubur berbahan dasar udang, kepiting dan rumput laut yang terletak di Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, Bali ini barangkali bisa menjadi salah contoh bisnis yang mampu bertahan meski dalam situasi pandemi COVID-19.

Pandemi COVID-19 berdampak terhadap seluruh sektor termasuk usaha kuliner membuat tidak sedikit memilih gulung tikar. Usaha bubur seafood di Tanjung Benoa ini memiliki ciri khas yang berbeda dibandngkan dengan bubur lainnya.

Di tengah pandemi yang berkepanjangan, usaha kuliner yang dirintis enam bulan terakhir ini tidak membuat pemiliknya surut untuk berbisnis.

I Wayan Widyantara yang kesehariannya merupakan influencer dan youtuber ini tetap melangkah. Bisnis yang belum setahun digelutinya ini tetap menarik perhatiannya.

Memilih bubur sebagai menu andalan bubur yang dibuatnya, karena bubur merupakan makanan yang bisa diterima oleh banyak kalangan. Selain itu, bubur itu bisa dinikmati oleh berbagai usia bisa anak kecil orang dewasa termasuk juga orang sakit juga bisa menikmati bubur.

Baginya, membuka usaha bubur seafood di saat pandemi ini merupakan sebuah tantangan. Belum genap satu tahun, ia pun mengaku bahwa penjualan buburnya mengalami pasang surut. 

Namun, di tengah tekadnya tersebut tersimpan sebuah kunci dari rasa kuliner seafood yang disuguhkan kepada para penggemar bubur dagangannya.

Widyantara pun membeberkan bahwa bubur seafoodnya kaya cita rasa karena memiliki campuran bumbu khas Bali dengan campuran udang, kepiting serta rumput laut.

Pemilihan seafood sebagai menu utama, karena Daerah Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, Bali ini memiliki kekayaan laut yang melimpah. Teluk Benoa menjadi sudut yang disasarnya ketika akan mencari bahan-bahan hasil laut untuk usahanya tersebut.

Kolaborasi hasil laut, bumbu khas Bali inilah yang membuat pelanggan bubur seafood ini banyak dicari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa.

"Ada juga selebgram datang sendiri, bawa kamera langsung syuting, youtuber, influencer. Rata-rata orang luar yang lagi datang ke Bali," kata Widyantara.

Baginya, menjalakan usaha kuliner khususnya bubur seafood di masa pandemi COVID-19 cukup sulit. Namun, menurut Widyantara perlu perencanaan dan konsep kuliner yang matang agar mata pencaharian tambahannya ini tetap berjalan.

"Selama pandemi ini, jumlah penjualan juga pasang turut. Bisa mencapai 20 mangkok per hari, namun pernah juga ketika sepi sama sekali tidak ada penjualan," katanya.

Di wilayah Kuta Selatan, Kabupaten Badung terdapat enam penjual bubur dengan konsep yang berbeda-beda.

Meski pun penjualannya tidak selalu banyak, namun menurutnya menjual bubur lebih menarik dibandingkan harus menjual makanan berat karena selain banyak saingan, bubur lebih bisa dipadukan dengan berbagai bahan dasar lainnya.

"Saya dari dulu memang bercita-cita membuat usaha. Dari hasil survey berkeliling mencari tempat dan jenis usaha, sempat tercetus ide membuat usaha kedai kopi. Namun, sepertinya kedai kopi atau cafe telah sangat menjamur. Dari sinilah tekad saya membuat usaha bubur seafood, karena  lebih berbeda saja dan tetap bisa dinikmati semua kalangan termasuk anak-anak muda," ujarnya.

Usaha bubur seafood dirasakan semakin mantap. Menu andalan yang berasal dari hasil laut ini, udang, kepiting, rumput laut seluruhnya diperoleh dari Teluk Benoa.

Tidak ada usaha yang dijalan kan dengan mudah. Tetap membutuhkan upaya ekstra agar cita rasa bubur seafoodnya tetap terjaga.

Widyantara pun mengaku, harus turun langsung membeli udang segar langsung dari nelayan di Teluk Benoa. Terkadang dapat 1 kilogram - 1,5 kilogram udang. 

Tergantung situasi, terkadang karena laut surut sama sekali tidak ada nelayan yang menjual udang. Berbeda dengan yang dapat diperoleh kapan pun dari nelayan 20-30 ekor per hari, termasuk rumput laut.

"Stok udang, kepiting maupun rumput laut selalu disesuaikan dengan ramai tidaknya pengunjung kedai buburnya. Jadi tidak masalah ketika ramai pengunjung, persediaan udang, kepiting dan rumput laut sudah lebih dari cukup," kata Widyantara yang akrap disapa Nonik ini.

Media sosial

Dalam menjalankan usaha bubur seafoodnya, Nonik tetap memanfaatkan teknologi seperti  melalui media sosial facebook, instagram twitter hingga tiktok sebagai wadah untuk promosi.

Kecintaannya terhadap dunia videografi, membuatnya harus turun tangan membuat video yang menarik dan berbeda dari yang lainnya.

"Kemampuan basic saya dalam mengolah video kemudian sebagai seorang yang yang suka suka mengambil gambar saya meminta teman-teman fotografer yang yang jago untuk membantu saya. Peran media sosial juga penting, apalagi dikemas dalam konten menarik dan tidak monoton," katanya.

"Berpengaruh banget (media sosial) karena orang lebih merasa akrab dengan apa yang saya sajikan. Yang menarik itu videonya karena bisa melihat langsung seperti apa prosesnya, saya cari momen pas unggah ke media sosial, dan minta ke pembeli untuk ikutan share," ujar Widyantara
bersemangat.

Sementara itu, respon positif datang dari pembeli setia dari bubur seafood ini yaitu I Gusti Ayu Agung Indiani yang sejak buka sudah menjadi pelanggan tetap usaha kuliner tersebut.

"Saya awalnya liat di media sosial, bikin penasaran. Setelah dicoba rasanya enak dan lebih baik makan di tempat. Lebih nikmat. Tapi biasanya habis saya makan satu mangkuk di warung, tiap mau pulang pasti pesen lagi sebungkus," kata Indi.

Sebelumnya belum pernah coba makan bubur selain bubur ayam. Makanan lainnya berbahan seafood sudah biasa, tapi campuran pada bubur ini pertama kali.

"Belinya tidak pakai waktu tertentu sih, kalau lagi pengen langsung beli. Rasa buburnya enak, bumbunya juga gurih apalagi seafoodnya segar, harganya juga murah. Makanannya juga unik, karena dapat bayi kepiting yang langsung bisa dimakan sampai tulang-tulangnya," ucap Indiani

"Kebanyakan yang saya temui itu bubur ayam. Bubur seafood sangat jarang saya temui. Kemungkinan karena harga seafood cukup mahal orang enggan berbisnis bubur seafood. Karena bubur itu kan identik harganya murah," ujarnya.

Selain itu, melihat dari harganya masih termasuk ekonomis karena kalau di restoran harga bubur seafood dibandrol tinggi.

Membuka bisnis sendiri terutama di tengah pandemi COVID-19 bukanlah perkara mudah. Banyak tantangan yang bisa saja membuat usaha tersebut mati di awal, atau layu sebelum berkembang.

Selain tentunya cita rasa yang tinggi, banyak proses yang mesti dijalani mulai dari ide, mengelola usaha, hingga mempromosikan kepada masyarakat agar dikenal luas.

Semua kalangan berkesempatan membangun usaha. Bubur seafood sederhana, namun semangat dan ide spesifik serta memadukannya dengan memanfaatkan teknologi digital dalam pemasarannya melalui media sosial membuat usahanya itu mampu  bertahan maupun terus menanjak di tengah pandemi.
Pewarta : Ayu Khania Pranishita
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2021