Sleman belum pulangkan pengungsi meskipun Merapi sudah erupsi efusi

Sleman belum pulangkan pengungsi meskipun Merapi sudah erupsi efusi

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Joko Supriyanto bersama Kepala BPPTKG Hanik Humaida saat memberikan keterangan terkait perkembangan aktivitas Gunung Merapi yang telah memasuki fase erupsi efusi. ANTARA/HO-Humas Pemkab Sleman/pri.

Sleman (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta belum memperbolehkan para pengungsi lereng Merapi yang berada di barak pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, pulang ke rumahnya masing meskipun saat ini Gunung Merapi sudah di fase erupsi efusi.

"Walaupun Gunung Merapi sudah di fase erupsi efusi tetapi Pemkab Sleman tidak memperbolehkan pengungsi pulang, ini mengingat Pemkab Sleman masih memberlakukan PPKM hingga 25 Januari 2021," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman Joko Supriyanto dalam pemaparan perkembangan aktivitas Gunung Merapi di Sleman, Selasa.

Menurut dia, hingga 25 januari 2021 pengungsi tetap di barak. Sambil menunggu instruksi Bupati Sleman lebih lanjut.

"Nanti setelah PPKM selesai akan ada instruksi Bupati Sleman terkait penanganan pengungsi Merapi selanjutnya," katanya.

Baca juga: BPPTKG : Gunung Merapi sudah erupsi efusif

Baca juga: Warga Boyolali rasakan guguran abu dari Merapi


Sementara itu saat ini jumlah pengungsi tanggap darurat bencana erupsi Gunung Merapi di barak pengungsian Glagaharjo sebanyak 311 jiwa yang merupakan warga kelompok rentan di Dusun Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan.

Mereka ini telah diungsikan sejak 7 November 2020 di barak pengungsian Glagaharjo setelah BPPTKG menaikan status aktivitas Merapi menjadi level III pada 5 November 2020.

Sebelumnya Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida menyatakan bahwa Gunung Merapi yang berada di perbatasan Kabupaten Sleman dan Jawa Tengah sudah bererupsi sejak 4 Januari 2021.

"Aktivitas erupsi tersebut berupa guguran lava pijar dan awan panas sejauh maksimal 1.800 m yang disebut dengan erupsi efusi," kata Hanik Humaida.

Menurut dia, sampai dengan saat ini telah terjadi 10 kali awan panas yaitu pada 7 Januari sebanyak empat kali, pada 9, 13 dan 16 Januari masing-masing dua kali, dan ada 18, dan 19 Januari 2021.

"Kejadian tersebut didominasi luncuran sekitar 500 meter," katanya.

Ia mengatakan bahwa potensi dan daerah bahaya erupsi Gunung Merapi sudah berubah mengingat erupsi yang cenderung bersifat efusif serta memperhatikan arah erupsi yang mengarah ke barat.

"Per 15 Januari 2020, distribusi probabilitas erupsi dominan ke arah erupsi efusif 40 persen dan esplosif 21 persen, sehingga potensi erupsi eksplosif dan kubah-dalam menurun signifikan," katanya.

Ia mengatakan, potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor Sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 kilometer.

"Sedangkan lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau sejauh maksimal 3 kilometer dari puncak. Jarak awan panas maksimal 1,8 kilometer. Masih cukup jauh dari pemukiman yang berjarak 6,5 kilometer," katanya.

Hanik mengatakan, seiring berlangsungnya, saat ini aktivitas seismik, deformasi, dan gas menurun signifikan. Kegempaan internal 27 kali perhari. Deformasi 0.3 cm/hari. Gas vulkanik CO2 saat ini 600 ppm dalam tren menurun. Kejadian guguran tinggi, dominan bersumber di lokasi erupsi.

"Berdasarkan data pemantauan seismik, deformasi, dan gas menurun. Tidak ada tekanan magma berlebih yang mencerminkan tambahan suplai magma," katanya.*

Baca juga: Gunung Merapi luncurkan awan panas guguran sejauh 1,8 kilometer

Baca juga: Antisipasi erupsi Merapi, ternak di Boyolali diberi "necktag"
Pewarta : Victorianus Sat Pranyoto
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021