Tren otomotif 2021 dan asa baru untuk perekonomian nasional

Tren otomotif 2021 dan asa baru untuk perekonomian nasional

Ilustrasi kendaraan listrik (ANTARA/Ho)

Jakarta (ANTARA) - Tahun telah berganti, namun pandemi masih belum usai dan sepenuhnya terkendali. Situasi yang masih belum pasti ini menggugah pertanyaan apakah industri otomotif akan memiliki tren preferensi yang berubah dan masih bisa menjadi salah satu pemberi kontribusi terbesar bagi perekonomian Tanah Air di tahun 2021.

Menilik ke belakang, pasar otomotif Indonesia pada 2020 ditutup dengan angka penjualan wholesales untuk mobil baru sebanyak 532.027 unit dan retail sales 578.327 unit.

Angka penjualan wholesales itu menurun 48,3 persen jika dibandingkan tahun 2019 saat Indonesia berhasil membukukan penjualan 1.030.126 unit mobil.

Kendati demikian, penjualan tahun ini dianggap telah memenuhi target Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang telah direvisi menjadi 525 ribu unit mobil karena COVID-19 yang menyerang seluruh lini bisnis, termasuk otomotif.

Ketua I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto mengatakan, pihaknya memiliki prediksi dan target bahwa di tahun 2021, penjualan mobil di Indonesia bisa mencapai angka 750 ribu unit. Rasa optimisme ini pun bukan tanpa alasan.

"Kita optimis di tahun 2021 (akan kian membaik) karena pemerintah sudah mencanangkan pertumbuhan ekonomi positif antara 3 hingga 5 persen. Kalau memang demikian, kita berharap ini bisa kembali ke 750 ribu dulu," kata Jongkie kepada ANTARA.

Bank Indonesia sendiri telah memprediksi pada 2021 ekonomi Indonesia meningkat menjadi 4,8-5,8 persen. Artinya, di triwulan tiga dan empat diprediksi penjualan kendaraan bermotor akan mulai memasuki fase normalnya kembali, apalagi jika benar bisa menembus pertumbuhan ekonomi diatas 5,6 persen. Saat itu lah, bisnis kendaraan bermotor menjadi semakin menarik.

Baca juga: 50 tahun di Indonesia, Toyota siapkan produksi dan ekspor HEV

Baca juga: Erick tegaskan kesiapan Indonesia jadi pemain utama mobil listrik


Hal menarik lainnya di tahun 2020, terjadi pergeseran pasar dalam mobil terlaris. Honda Brio menyandang gelar mobil dengan penjualan tertinggi, disusul Suzuki Carry. Dua model dari segmen city car dan kendaraan niaga ringan itu menggeser Toyota Avanza yang dikenal sebagai mobil terlaris di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan.

Penjualan Honda Brio secara gabungan (tipe Satya dan RS) tercatat sebanyak 40.879 unit, Suzuki Carry sejumlah 38.072 dan Toyota Avanza sejumlah 35.754 unit di urutan ketiga.

Honda Brio menduduki posisi teratas dengan market share sebesar 7,7 persen, diikuti dengan Suzuki Carry dengan market share sebesar 7,2 persen menggeser posisi penjualan dari Toyota Avanza yang kini hanya memiliki market share sebesar 6,7 persen pada tahun 2020.

Menurut Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian RI Taufiek Bawazier, hal ini sepenuhnya bergantung pada inovasi kendaraan dan selera pasar untuk segmen kendaraan penumpang.

"Sedangkan untuk kendaraan niaga sejak dulu memang memiliki market share nya tersendiri, hanya saja saat ini masyarakat lebih banyak membutuhkan kendaraan niaga seperti mobil pick up untuk menunjang kebutuhan ekonomi mereka dalam hal transportasi logistik," kata Taufiek kepada ANTARA.

Dengan perbedaan market share yang signifikan antara kendaraan penumpang dan kendaraan niaga, Taufiek pun memprediksi untuk tahun ini penjualan masih akan didominasi oleh kendaraan penumpang dengan segmen MPV.

Meski ada pergeseran di mobil terlaris, saat ini, penjualan kendaraan masih didominasi oleh kendaraan MPV yang memang lebih banyak diminati masyarakat untuk mobilisasi sehari-hari, di samping kendaraan niaga segmen pikap dan truk kecil yang banyak digunakan untuk membantu kegiatan ekonomi, transportasi dan logistik.

Hal ini dapat dilihat dari data penjualan kendaraan penumpang sebesar 396.643 ribu per tahun dan kendaraan niaga sebesar 135.384 ribu pertahun pada tahun 2020.

"Namun ke depannya akan didorong kendaraan yang lebih ramah lingkungan dengan pemberian insentif dan disinsentif perpajakan melalui program LCEV," kata Taufiek.

Baca juga: Mobil listrik, Erick akan jajaki kerja sama dengan Tesla pada Februari

Mewakili pemerintah, Taufiek juga yakin bahwa industri alat transportasi merupakan salah satu sektor andalan yang memiliki kontribusi cukup besar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

Ia memaparkan, rata-rata kontribusi sektor industri alat transportasi terhadap industri nasional (industri pengolahan non migas/manufaktur) sampai dengan tahun 2020 adalah sebesar 8,75 persen.

Saat ini, ada 18 perusahaan industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang ada di Indonesia dengan nilai investasi sebesar Rp93,22 triliun untuk kapasitas produksi sebesar 2,35 juta unit per tahun, dan menyerap tenaga kerja langsung sebesar 38 ribu orang.

Sedangkan untuk industri kendaraan bermotor roda dua dan tiga, terdapat 26 perusahaan dengan nilai investasi sebesar Rp10,05 triliun dengan kapasitas produksi sebesar 9,53 Juta unit per tahun, dan menyerap tenaga kerja hampir sebesar 32 ribu orang. Terdapat lebih dari 1,5 juta orang yang bekerja di sepanjang rantai nilai industri alat transportasi tersebut.

Vaksinasi sebagai awal
Selain data dan prediksi yang telah dipaparkan sebelumnya, faktor lain seperti keputusan Bank Indonesia untuk menahan suku bunga acuan di level 3,75 persen, hingga pengadaan vaksinasi pun dipercaya bisa berdampak baik terhadap pasar otomotif dalam negeri.

Taufiek mengatakan, pemerintah optimistis bahwa dengan berjalannya program vaksinasi saat ini dapat mendorong pemulihan ekonomi.

"Pelaksanaan vaksinasi dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dalam penanganan COVID-19, hal tersebut yang akan mendorong kembali konsumsi masyarakat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Selain itu, investasi juga diharapkan akan kembali meningkat. Sejalan dengan pemerintah, Gaikindo selaku perwakilan dari industri otomotif pun berpendapat bahwa melalui langkah tersebut berbagai aspek bisa menunjukkan pertumbuhan positif termasuk industri otomotif, seiring meredanya kekhawatiran masyarakat atas penularan virus yang masif.

Baca juga: Mobil listrik bantu Volvo pulih dari dampak pandemi

Baca juga: Spesifikasi sedan baru Nio pesaing Tesla, jangkauan 1.000 km


Bila keadaan ideal itu tercipta, maka kebutuhan atas kendaraan pribadi kembali meningkat seiring aktivitas yang menuju kenormalan baru. "Diharapkan, hal tersebut dapat mendorong peningkatan produksi kendaraan bermotor dan mencapai target-target yang telah ditetapkan (investasi, produksi, dan ekspor)," kata Taufiek.

Jongkie, mewakili Gaikindo pun sependapat. "Vaksinasi ini adalah salah satu cara untuk mengurangi penularan virus. Dengan COVID mereda, otomatis, semua bisnis diharapkan bisa kembali normal. Sekarang masih ada pembatasan (PSBB, PPKM), dan ketika nanti ada vaksinasi dan masyarakat patuh prokes, situasi diharapkan akan lain dan bergulir kembali penjualan otomotif."

Popularisasi kendaraan listrik
Bicara soal tren kendaraan di masa depan, tentu tak lepas dari kendaraan listrik, baik yang full electric maupun hibrida. Sepanjang 2020, sejumlah pabrikan otomotif memboyong kendaraan listriknya ke Indonesia; mulai dari Hyundai Ioniq yang meluncur awal tahun, All-New Nissan Kicks e-POWER di kuartal ketiga, hingga Lexus UX 300e di kuartal terakhir tahun ini.

Meski demikian, penjualan kendaraan listrik (EV) di Indonesia belum terlalu santer didengar, meskipun memang sejumlah mobil elektrik juga memiliki penggemar dan konsumen. Menurut Jongkie, hal pertama yang mempengaruhi hal tersebut adalah harga mobil listrik yang masih belum terbilang terjangkau.

Mobil elektrik dinilai masih memiliki harga yang lumayan tinggi bagi konsumen Indonesia, dengan kisaran di atas Rp600 juta. Seperti yang diketahui, pasar otomotif dalam negeri masih dikuasai oleh mobil ramah kantong, yang biasanya dihargai di bawah Rp250-300 juta.

"Mobil listrik akan berkembang, tapi tidak bisa secepat mobil yang harganya Rp300 juta ke bawah. (EV) Pasti ada pasarnya dan berkembang. Kita tunggu saja, kalau harganya bisa turun, mungkin pasarnya bisa lebih cepat," kata Jongkie.

Di sisi lain, pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, kepada ANTARA, juga tak mengelak bahwa harga kendaraan listrik bisa mencapai dua sampai tiga kali harga kendaraan BBM, tergantung besaran baterai yang dipasangkan.

Namun, preferensi konsumen otomotif di tahun 2021 akan ditandai dengan hal yang baru, yaitu dengan semakin gencarnya pemerintah mempromosikan kendaraan listrik. Kemudian, dilanjutkan dengan semakin banyaknya kendaraan listrik roda dua dan roda empat yang akan ditawarkan kepada masyarakat.

"Dukungan pemerintah yang sangat prinsip adalah membuat masyarakat yang tertarik pada kendaraan listrik mampu untuk memilikinya. Tanpa menjadikan harga kendaraan listrik terjangkau maka sulit untuk memasyarakatkannya," kata Yannes.

Baca juga: Audi hentikan produksi mobil berbahan bakar pada 2035 demi EV

Baca juga: Volkswagen investasikan Rp187 triliun untuk mobil listrik


Selanjutnya, pemerintah juga perlu menegaskan apa saja keuntungan dan nilai tambah yang akan didapat oleh masyarakat yang kelak membeli kendaraan listrik. Mengingat, semua pengguna harus melakukan proses adaptasi yang tidak gampang, yakni mengubah budaya mengisi energi yang selama ini mereka lakukan dan mengubah pola berkendaraannya yang harus semakin lebih diperhitungkan.

Saat ini, ada keterbatasan daya jangkau kendaraan listrik serta waktu pengisian dayanya yang masih sekitar 4-7 jam. Ini dinilai belum dapat bersaing dengan fleksibilitas serta kecepatan pengisian energi kendaraan BBM.

Tanpa adanya insentif atau semacam bonus yang jelas kongkrit, terukur, dan menjadikan kendaraan listrik ini semakin murah dan terjangkau dari pemerintah, program memasyarakatkan kendaraan listrik ini akan tidak mudah dilakukan.

"Jika itu terjadi, kendaraan mobil listrik akan tetap terlalu mahal untuk dikonsumsi mayoritas pasar di Indonesia. Kendaraan listrik akan hanya menjadi koleksi kelompok masyarakat yang berpenghasilan kuat saja," imbuhnya.

Di sisi lain, pemerintah telah memberikan insentif agar bisa mengurangi harga kendaraan bertenaga listrik. Insentif tersebut dapat dibagi menjadi dua jenis yakni insentif buat pengguna dan insentif bagi produsen.

Dirjen ILMATE Kemenperin Taufiek Bawazier membagi, pemerintah juga menyiapkan infrastruktur penunjang seperti Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) yang sudah terpasang dan beroperasi di seluruh Indonesia sebanyak 7.149 unit di 3.348 lokasi.

Sementara, jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang sudah terpasang di Jakarta, Bandung, Tangerang, Semarang, Surabaya, dan Bali sebanyak 62 unit di 37 lokasi.

Kementerian ESDM saat ini telah mengeluarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 13 Tahun 2020 tentang Penyediaan Infrastruktur Pengisian Listrik untuk Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai yang memuat Kebijakan Roadmap SPKLU hingga tahun 2024.

"Di samping itu, pemerintah berusaha menarik investasi di bidang industri pendukung KBLBB (Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai) dengan berusaha menguasai industri tiga komponen utama yang terdiri dari baterai, motor listrik dan PCU/ inverter," kata Taufiek.

Tahun baru, harapan dan semangat baru. Tahun 2021 pun mungkin tak akan menjadi tahun yang mudah untuk kita semua. Namun, melihat bagaimana masyarakat, pelaku industri, dan pemerintah bergotong-royong memantik energi untuk negeri, tentu mendorong optimisme menyambut masa depan.

Baca juga: Kementerian ESDM: 125 ribu mobil listrik bakal mengaspal tahun ini

Baca juga: Ekspor baterai isi ulang Korea Selatan meningkat dalam lima tahun

Baca juga: Harapan Toyota untuk pasar otomotif 2021 dan mobil listrik

 
Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021