Sulbar prioritaskan tes cepat antigen bagi pengungsi bergejala klinis

Sulbar prioritaskan tes cepat antigen bagi pengungsi bergejala klinis

Ilustrasi. Petugas lab pada mobile PCR milik Dinkes Sulsel saat memeriksa spesimen pengungsi asal Sulbar yang telah melalui tes PCR di UPT Inang Matutu, Makassar beberapa waktu lalu. ANTARA Foto/Nur Suhra Wardyah.

Makassar (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat melalui Dinas Kesehatan memprioritaskan pelaksanaan tes cepat antigen COVID-19 bagi pengungsi korban gempa dengan gejala klinis.

"Sekarang ini, untuk tracing yang baru kita assesment ialah mereka (pengungsi) yang ada gejala klinisnya," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat dr Alief Satria yang dihubungi dari Makassar melalui sambungan telefon, Jumat.

Menurut dr Alief, tenaga kesehatan dan para relawan juga menjadi prioritas utama pelaksanaan tes cepat antigen karena memiliki intensitas bersama korban gempa yang lebih besar dan diharapkan dalam keadaan aman dari COVID-19. Apalagi akses keluar-masuk relawan di Sulbar masih terus berlangsung.

Baca juga: 54 pengungsi Mamuju Sulbar diantarkan ke daerah tujuan

Alief menyampaikan pelaksanaan PCR juga tengah dioptimalkan dan semakin efektif dilakukan setelah hadirnya satu unit mobile PCR dari Balai Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BPKL) Makassar dan dua tambahan laboran dari Kabupaten Pasangkayu.

"Sebenarnya kami memang sudah lakukan tes PCR tetapi sekarang kapasitasnya bisa lebih banyak lagi karena ada tambahan, baik itu laboran maupun mobile PCR," ujarnya.

Baca juga: Dinkes Sulbar maksimalkan posko kesehatan layani pengungsi

Kepada pengungsi, pelaksanaan PCR dilakukan secara hati-hati untuk tetap menjaga kondisi psikologis para korban gempa berkekuatan 6,2 SR, Jumat pekan lalu. Maka Dinkes Sulbar terus melakukan koordinasi intens terhadap kondisi pengungsi di Mamuju maupun Majene yang juga masih dalam proses assesment.

"Kalau ke pengungsi, kami sangat hati-hati melakukan itu, karena kita tahu soal COVID-19 kan banyak yang resisten," ujar dia.

Baca juga: Pengungsi gempa Sulbar dan relawan diimbau terapkan 3M cegah COVID-19

"Bahkan ini bisa jadi pangkal keributan lagi karena harus keluar dari pengungsian dan dibuatkan tempat karantina. Itu kan dampak psikologis juga, makanya kita edukasi dulu ke pengungsi, itu langkah-langkah yang kita lakukan," tambah Alief.

Langkah hati-hati ini dilakukan untuk mencegah timbulnya penolakan massal, sembari Dinkes Sulbar mempersiapkan tempat untuk perawatan pasien COVID-19 untuk isolasi mandiri.

Baca juga: Satu keluarga pengungsi diisolasi di Wisata COVID-19
Pewarta : Nur Suhra Wardyah
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021