Dari "hotel prodeo" ke hotel berbintang untuk bebas COVID-19

Dari

Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman Direktur Jenderal (Dirjen) Hak Asasi Manusia (HAM) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Mualimin Abdi bahas lapas terbuka. ANTARA/HO-Humas Pemprov Sulsel.

Makassar (ANTARA) - Provinsi Sulawesi Selatan salah satu daerah di Indonesia yang turut menjadi perhatian serius pemerintah pusat terkait dengan pandemi COVID-19.

Selain angka terkonfirmasi positif COVID-19 yang begitu tinggi, bahkan masuk posisi lima besar nasional bersama DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, Sulsel juga menjadi perhatian dalam upaya penanganan kasus tersebut.

Terkait dengan strategi penanganan pandemi, provinsi tersebut memiliki perencanaan tersendiri di antaranya memperkuat tracking (pelacakan), tracing (penelusuran), dan testing (pengujian) dalam mendeteksi sebaran penularan COVID-19 di masyarakat setempat.

Saat daerah setempat mendapatkan kasus baru, provinsi yang dipimpin Gubernur M. Nurdin Abdullah bersama Wakil Gubernur Andi Sudirman Sulaiman itu, sudah punya solusi lanjutan.

Mereka yang terkonfirmasi positif telah disiapkan lokasi isolasi atau tempat karantina khusus melalui Program Wisata Duta COVID-19.

Tidak seperti pada umumnya, para pasien COVID-19 khususnya yang berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG), justru tidak dibawa ke rumah sakit. Namun, mereka dikarantina di hotel berbintang untuk menjalani penyembuhan.

Sejumlah pasien COVID-19 dari berbagai daerah, beragam profesi dan pekerjaan, bahkan termasuk para penghuni lembaga permasyarakatan pun juga ikut dalam program penyembuhan dengan cara tersebut.

Seperti halnya yang dilakukan kepada para narapidana dari Lapas Perempuan Kelas II A Bolangi Kabupaten Gowa, dan Lapas IIB Takalar.

Di Lapas Perempuan Gowa, ratusan warga binaan yang ditemukan terkonfirmasi positif pada Juni 2020, langsung mendapatkan penanganan, termasuk menjalani karantina di hotel berbintang di Makassar yang dijadikan lokasi Wisata Duta COVID-19.

Baca juga: Eddy Hiariej nilai pengeluaran napi saat pandemi kebijakan rasional

Begitu pun dengan penghuni "hotel prodeo" di Lapas Takalar yang juga harus dikarantina setelah adanya koordinasi antara pihak lapas dan Pemerintah Provinsi Sulsel.

Atas komitmen, kecepatan respons, dan keseriusan Gubernur Sulsel, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly tidak ragu memberikan penghargaan dan apresiasi.

Peran serta Gubernur Sulsel dalam penanganan COVID-19 19 dengan memberikan bantuan alat pelindung diri (APD) dan tes cepat, serta perawatan warga binaan serta petugas lapas, di rumah sakit pemprov dan di hotel Wisata Duta COVID-19.

“Atensi dari gubernur sangat luar biasa, karena jika ada WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan) dan petugas lapas yang perlu perawatan intensif di RS atau hotel wisata COVID-19, walaupun larut malam WA saya direspons cepat," ujar Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sulawesi Selatan Harun Sulianto,

Hal serupa juga dilakukan ketika 78 pegawai dan warga binaan Lapas Kelas IIB Takalar terkonfirmasi positif.

Kemhumham Sulsel juga melakukan langkah serius, yang salah satunya berkoordinasi dengan Gubernur Sulsel terkait dengan rencana isolasinya di hotel Wisata Duta COVID-19.

“Alhamdulillah Lapas Takalar saat ini telah bebas dari COVID-19," kata dia.

Pihaknya juga meminta personel di jajarannya dan penghuni lapas selalu waspada terhadap penularan COVID-19. Mereka tidak boleh lalai terhadap ancaman penularan virus corona jenis baru itu. Mereka harus menyiapkan sarana dan prasarana pencegahan dan penanganan, baik untuk pegawai maupun warga binaan permasyarakatan.

Dirwatkes Direktorat Jenderal Pemasyarakatan A. Yusparuddin juga menyampaikan terima kasih atas penanganan COVID-19 dan bantuan maksimal dari Gubernur Sulsel dalam penanganan COVID-19 di lapas atau rutan.

Menurut dia, banyak hal yang telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sulsel dalam melakukan penanganan COVID-19 di lapas atau rutan.

Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman mengarahkan para penghuni Lapas Perempuan Gowa yang dinyatakan positif untuk masuk Wisata COVID-19 yang merupakan program karantina Pemerintah Provinsi Sulsel.

Baca juga: Kemenkumham gelar tes usap bagi 28 ribu warga binaan lapas dan rutan

Hal yang paling penting dilakukan, yakni memisahkan atau mengarantina penghuni lapas yang positif dengan penghuni yang lain.

"Jadi memang banyak yang reaktif saat 'rapid test' (tes cepat). Namun, reaktif itu belum tentu positif dan masih perlu 'swab test' (tes usap) tapi tentu harus dipisahkan," katanya.

Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan mengatakan pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pihak Lapas Bolangi seperti melakukan identifikasi dengan tes usap kepada para penghuni lapas.

Ia juga mengakui klaster lapas cukup tinggi karena orang di tempat itu berkerumun hampir setiap saat.

Seluruh penghuni lapas yang positif juga sudah diisolasi di rumah sakit rujukan maupun hotel yang telah disiapkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, yakni Hotel Almadera dan Swissbell.

Kolaborasi

Gubernur Sulawesi Selatan M. Nurdin Abdullah mengapresiasi kolaborasi dan sinergi berbagai pihak dalam penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di lapas dan rutan se-Sulsel.

Ia menegaskan akan terus memberikan layanan terbaik, tanpa diskriminasi terhadap warga binaan, terkait dengan pandemi COVID-19.

Pihaknya patut bersyukur sebab kolaborasi dan sinergi telah berimbas pada jumlah kasus COVID-19 yang terus mengalami penurunan di Sulsel.

"Pemprov Sulsel akan terus memberikan layanan terbaik tanpa diskriminasi terhadap WBP yang terjangkit virus ini," ucapnya.

Baca juga: Riau waspadai klaster COVID-19 di Lapas karena 357 napi terinfeksi

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sulawesi Selatan Harun Sulianto memerintahkan Kalapas Takalar terkait dengan pemberian multivitamin, masker, dan penyanitasi tangan kepada pegawai.

Langkah lainnya, termasuk mengingatkan penerapan protokol kesehatan guna pencegahan COVID-19 di Lapas Takalar akan terus dilakukan dengan disiplin

"Dipersiapkan, dipelihara, dan dijaga agar langkah-langkah pencegahan terhadap penularan COVID-19 dapat berjalan dengan optimal," kata dia.

Dia juga meminta jajarannya untuk menjaga kesehatan agar tidak tertular atau menularkan COVID-19.

Kebiasaan di kalangan petugas untuk saling mengingatkan dan menjaga kekompakan dalam melaksanakan tugas serta beraktivitas sebagai langkah penting di tengah pandemi.

Selain perketat protokol kesehatan, pihak lapas juga melakukan pengalihan penahanan dalam upaya mencegah penyebaran virus di tempat tersebut.

Hal demikian seperti diterapkan bagi narapidana yang baru untuk ditempatkan atau dititipkan di tempat lain sehingga Lapas Gowa dinyatakan benar-benar telah steril dari virus, sedangkan tahanan lain untuk kasus pidana umum dan tipikor didrop di Lapas Kelas I Makassar.

Penanganan terhadap warga binaan pemasyarakatan yang tertular virus di daerah itu, memang patut diapresiasi.

Pandemi virus ini menyangkut persoalan kemanusiaan.

Baca juga: Lapas Cirebon bagikan masker produksi napi kepada pengguna jalan
Baca juga: Rutan Wonosobo fasilitasi "video call" gratis napi dengan keluarga

 
Pewarta : Abdul Kadir
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021