Hikmah banjir Sembakung, napak tilas menembus "Jantung Borneo"

Hikmah banjir Sembakung, napak tilas menembus

Kecamatan Tanjung Palas Utara, Kaltara, kawasan yang dulu lahan terlantar kini berdiri pabrik CPO (crude palm oil). ANTARA/Iskandar Zulkarmaen

Tanjung Selor (ANTARA) - Sekiranya tidak ada banjir di Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan mungkin belum pernah lagi kembali "bertualang" melintasi 600 Km jalan Lintas Kalimantan Poros Utara di Kaltara.

Jarak 600 Km adalah perjalan darat menembus "Jantung Borneo" dari Kota Tanjung Selor ke Sembakung (Nunukan).

Hutan di Kaltara (Malinau dan Nunukan) sebagian masuk dalam kawasan "Heart of Borneo".

Tiga negara di Borneo, yakni Indonesia (Kalimantan Utara), Brunei Darussalam dan Malaysia (Sabah dan Serawak) sepakat menjaga kelestarian hutan seluas 22 juta hektare yang disebut "Heart of Borneo".

Selama ini, perjalanan ke Kabupaten Tanah Tidung, Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan dari Tanjung Selor (Ibu Kota Kaltara) hanya melintasi transportasi sungai dan laut menggunakan perahu cepat (speed boat).

Beberapa alasan sehingga memilih perjalanan transportasi air karena dianggap lebih mudah, murah, dekat, dan nyaman.

Namun, usai menghimpun donasi melalui Gerakan Peduli Banjir Sembakung 2021 yang diprakarsai ANTARA Kalimantan Utara, timbul pertanyaan bagaimana cara efektif dan efesien menjangkau posko banjir Sembakung dari Tanjung Selor ?

Sebelumnya, melalui Gerakan Peduli Banjir Sembakung 2021 yang diumumkan melalui media sosial selama dua hari (18-19 Januari 2021) terkumpul donasi yang lumayan, baik sumbangan uang dan barang (antara lain beras, mie instan, kopi, teh gula, mihun, selimut, buku dan pulpen).

Jika melalui transportasi air, maka alternatifnya adalah membawa barang-barang donasi di "speed boat" sewaan dari Tanjung Selor langsung (non stop) ke Sembakung dengan jarak tempuh 8-10 jam.

Perjalanan dari Sungai Kayan (Bulungan) hingga perairan laut Nunukan paling terhambat jika cuaca buruk atau gelombang besar.

Kendala lain, adalah saat masuk ke muara Sungai Sembakung hingga mencapai kota kecamatan karena alur sungai cukup panjang serta banyak sampah batang kayu sehingga "speed boat" tidak bisa berjalan cepat.

Pilihan lain, yakni melalui jalur darat Lintas Kalimantan Poros Utara sekitar 600 Km namun khawatir banyak jalan rusak atau terhambat banjir karena tingginya curah dan intensitas hujan.

Setelah berkoordinasi via telpon dengan Kapolsek Sembakung Iptu Klarus, serta Camat Sembakung Zulkifli, disarankan bahwa cara lebih efektif dan efesien adalah melalui transportasi darat.

"Insya Allah lancar saja, kami sarankan lewat darat, sekarang sudah nyaman tidak seperti dulu," kata Camat Zulkifli di ujung telpon.

Baca juga: Bantuan Ziyap-ANTARA Kaltara Peduli Banjir Sembakung disalurkan
Baca juga: Bupati Nunukan berkoordinasi dengan Pusat tangani banjir Sembakung


Mengapa Cepat Tanggap ?

Amarah Sungai Sembakung mulai terjadi 8 Januari 2021 dan puncaknya 17 Januari 2021 telah "merendam" delapan dari 10 desa di kecamatan yang hulu sungainya berada di wilayah Malaysia itu.

Ke delapan desa itu, yakni Desa Atap, Desa Batas Bagu, Desa Labuk, Desa Pagar, Desa Tujung, Desa Manuk Bungkul, Desa Lubukan dan Desa Tagul.

Hanya dua desa bebas banjir, yakni Desa Pelaju, dan Desa Tepian.

Luapan salah satu sungai terbesar dan terpanjang di Kaltara telah menenggelamkan lebih dari 115 Hektare sawah petani dan sekitar dua Hektare kebun di Sembakung.

Tercatat juga 661 kepala keluarga (KK) atau 2.752 jiwa terdampak bencana, dan 553 KK rumah terendam banjir.

Bencana Sembakung mungkin tidak separah banjir di Kalimantan Selatan.

Pemkab Nunukan mengakui sempat terhambat segera mengeluar bantuan sosial bagi warga Sembakung karena masalah prosedur admistratif.

Pemkab Nunukan baru berani mengeluarkan bantuan sosial jika Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyatakan status banjir Sembakung sebagai tanggap darurat.

Padahal warga sangat membutuhkan pasokan sembako karena banjir sudah sekitar dua pekan menghentikan berbagai aktifitas mereka.

Pemkab Nunukan juga berdalih masih fokus menangani
252 jiwa (64 kk) warga korban musibah kebakaran besar di Pasar Inhutani, 10 Januari 2021.

Jeritan warga korban banjir Sembakung ini seperti sayup-sayup di media massa karena memang ada bencana kemanusiaan lebih tragis yang peristiwanya nyaris bersamaan, yakni letusan Merapi, banjir Kalsel dan gempa di Sulbar (mengakibatkan puluhan korban tewas).

Padahal hakikatnya korban banjir Sembakung tetap membutuhkan pertolongan, khususnya pengadaan Sembako karena ada beberapa desa sudah terisolasi, sebut saja Desa Tagul (hanya dapat diakses lewat jalur air).

Berdasarkan alasan itu, ANTARA Kalimantan Utara segera melakukan aksi cepat tanggap dalam menghimpun donasi khusus sembako.

Gerakan Peduli Banjir Sembakung ini mendapat respon positif dari tokoh wanita Kaltara, antara lain
Hj. Rachmawati Zainal A. Paliwang (istri Gubernur Kaltara) dan Handayani Sarwani (istri Bupati Bulungan).

Juga tercatat donatur lainnya, Nina Kurnia Dewi, Musdiana, Datu Aryaz, Nauval Djufri, Kustaniah, Datu Iqro Ramadhan, Atika Izzi , CK Ayam Karamel, Datu Hafiz, Ryan Prasdan, Suliah, Hj. Aji Juwita dan Hj. Muni & tim dan para Hamba Allah.

Baca juga: Bupati Nunukan kerahkan perusahaan bantu korban banjir Sembakung

Pembenahan Poros Utara

Setelah mendapat rekomendasi Kapolsek dan Camat Sembakung, mulailah persiapan untuk segera bertualang menempuh jarak sekitar 600 Km pada 20 Januari 2012 untuk menyalurkan donasi.

Dengan menggunakan dua kendaraan, yakni mobil jenis pick up dan mobil lapangan jenis double cabin, tim Peduli Banjir Sembakung membawa lebih satu ton donasi.

Awalnya, tim akan membawa bekal makanan karena bayangannya akan melintasi hutan belantara namun Harjum, sopir Perduli Banjir Sembakung menerangkan jika sepanjang jalan banyak warung makan.

Terakhir saya melintasi Jalan Lintas Kalimantan Poros Utara ini sangat sepi, kiri-kanan hanya belantara dan sebagian perkebunan sawit sekitar pertengahan tahun 2000-an.

Perjalanan pada 2005 itu dalam rangka liputan khusus meninjau Jalan Lintas Kalimantan dari Samarinda hingga tembus ke perbatasan Indonesia-Malaysia melintasi Sembakung lebih 1.000 Km.

Kala itu, Gubernur Kalimantan Timur H. Suwarna Abdul Fatah didukung penuh pemerintah pusat sangat gencar membangun jalan Lintas Kalimantan.

Kaltara saat itu masih menjadi bagian dari Provinsi Kalimantan Timur.

Pria kelahiran Bogor, 1 Januari 1944 saat terpilih menjadi gubernur Kaltim 1998 mencanangkan program strategis dengan tiga sektor skala prioritas, yakni pengembangan pertanian dalam arti luas, peningkatan sumber daya manusia, dan pembangunan/pembenahan infrastruktur.

Pada 2003, Suwarna kembali terpilih menjadi Gubernur Kaltim dan tetap fokus kepada tiga sektor utama itu.

Pada sektor infrastruktur, Suwarna yang berlantar belakang TNI itu (pangkat terakhir Mayjen TNI) memenuhi janjinya untuk "menghitamkan/mengaspal" semua jalan Lintas Kalimantan di Kaltim dari Poros Selatan hingga Poros Utara.

Poros Selatan melintasi Kabupaten Pasir, Kota Balikpapan, Kabupaten Kutai Kartanegara dan Samarinda.

Sedang Jalan Lintas Kalimantan Poros Utara dari Kota Samarinda, Kota Bontang, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Berau dan Kabupaten Bulungan (dari Tanjung Selor, KTT, Malinau hingga Nunukan/Sembakung).

Baca juga: Bupati Nunukan: Waspadai banjir kiriman dari Malaysia

Napak Tilas

Setelah Suwarna tidak lagi menjadi gubernur Kaltim, Lintas Kalimantan Poros Utara ini kurang mendapat perhatian sehingga kondisi jalan terus memburuk, bahkan beberapa titik rusak parah.

"Benar, sempat rusak parah, perjalanan yang kita bisa tempuh hanya beberapa jam, bahkan bisa menjadi satu hari," kata Harjum, yang pernah menjadi sopir di perusahaan batu bara namun PHK selama pandemi COVID-19.

Kondisi jalan Lintas Kalimantan Poros Utara ini kembali dibenahi secara bertahap setelah Kaltara resmi menjadi provinsi ke-34 pada 2012, yakni selama kepemimpinan Gubernur Kaltara Irianto Lambrie.

Tenyata keberadaan jalan Lintas Kalimantan Poros Utara yang melintasi Kaltara menjadi faktor utama mendorong kemajuan daerah itu.

Lihat saja, begitu keluar dari Tanjung Selor --setelah melintasi puncak tinggi di Sungai Uma dan Sungai Urang-- telihat perkampungan cukup padat dan ramai sepanjang Kecamatan Tanjung Palas Utara.

Tidak seperti pada pertengahan tahun 2000-an karena hanya terlihat kerimbunan pucuk meranti dan kapur.

Sebelum masuk Desa Pimping ada hamparan hijau ratusan hektare tanaman sawit.

Di antara lahan yang terbuka itu berdiri kokoh sebuah bangunan besar. Terlihat kepulan asap membumbung tinggi dikeluarkan sejumlah cerobong dari sebuah pabrik CPO (crude palm oil).

Ternyata bukan hanya Pimping, sepanjang Jalan Lintas Kalimantan pada wilayah Kecamatan Tanjung Palas Utara mengalami kemajuan signifikan mulai dari Desa Ardi Mulyo, Desa Panca Agung, Desa Karang Agung, Desa Kelubir hingga Desa Ruhui Rahayu.

Desa-desa eks UPT (unit penempatan transmigrasi) yang dulu sepi dengan rumah kayu sederhana kini telah menjelma jadi perkampungan padat dan maju.

Hal itu tergambar dari banyak bangunan permanen tertata rapi dengan fasilitas umum yang refrensitatif, termasuk hadirnya kantor cabang perbankan dan masjid megah dua lantai.

Bayangan bahwa sepanjang jalan Lintas Kalimantan Poros Utara hanya rimba belantara kian pupus ketika melintasi Desa Sekatak Buji dan Sekatak Mangara.

Desa ini pada belasan tahun silam sangat tertinggal tetapi setelah dilintasi Jalan Lintas Kalimantan, ditambah mulai maraknya penambangan emas, maka kawasan itu ikut berkilau.

Layaknya daerah pertambangan, daerah ini seperti gula mengundang kerumunan semut bagi pendatang.

Kilau emas Sekatak seperti menjanjikan seribu mimpi baik bagi penambang maupun usaha lain, misalnya penadah emas, toko pakaian, penginapan, rumah makan, dan aktifitas "hiburan malam".

Sayangnya, ekploitasi emas di Sekatak masih dilakukan tradisional alias penambangan tanpa izin sehingga mengancam kelestarian lingkungan serta rawan kecelakaan.

Terbukti lima penambang emas meregang nyawa tertimbun longsoran darip lubang yang mereka gali pada 18 Oktober 2020 akibat tingginya curah hujan.

Kemajuan pesat juga terlihat di kiri-kanan Jalan Lintas Kalimantan pada poros utara di wilayah Kabupaten Tanah Tidung, Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan.

Jika di wilayah Bulungan penggerak ekonomi adalah sawit, tambang emas, peternakan, tanaman pangan dan hortikultura maka memasuki wilayah KTT, Malinau dan Nunukan, mesin mendorong kemajuan ditambah dari pariwisata, batu bara, dan tanaman industri (sengon).

Setelah menempuh perjalanan 600 Km memang ada beberapa kendala, misalnya jalan Lintas Kalimantan yang putus di Sekatak (sehingga sehingga harus melintasi jalan alternatif yang terendam banjir) namun relatif lancar.

Begitu pula jalur alternatif --menghindari banjir-- menuju Posko Banjir Sembakung di Desa Atap harus melintasi jalan berbukit dan "offroad" (jalan tanah).

Dari napak tilas perjalanan Lintas Kalimantan Poros Utara 2005 dan 2021, membuktikan pernyataan bahwa "transportasi darat adalah urat nadi perekonomian rakyat" benar adanya.

Dalam rentang waktu 16 tahun, terlihat kemajuan daerah sangat signifikan sebagai berkah dari terwujudnya mimpi Suwarna untuk "menghitamkan" Jalan Lintas Kalimantan Poros Utara itu.

Asa sebagai warga Kaltara terhadap Zainal Arifin Paliwang dan Yansen TP --gubernur dan wakil gubernur terpilih hasil Pemilukada 2021-- agar lebih fokus dalam membangun dan membenahi infrastruktur, terutama jalan Lintas Kalimantan Poros Utara.

Bukan tidak mungkin, berkat kian mulus jalan Lintas Kalimantan Poros Utara, maka kemajuan kian cepat diraih provinsi termuda ini sehingga segera menyaingi pembangunan daerah lain di Indonesia.

Termasuk bisa mensejajarkan diri dengan kemajuan daerah-daerah di Malaysia, yakni Nunukan yang berbatasan dengan wilayah Sabah dan Malinau berbatasan dengan wilayah Serawak.
Insya Allah.
 
Pewarta : Iskandar Zulkarnaen
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2021