Menko PMK dorong PJJ diiringi dengan pembentukan kelompok belajar

Menko PMK dorong PJJ diiringi dengan pembentukan kelompok belajar

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy dalam webinar Universitas Terbuka (UT) Hongkong “Memaknai Peran Mahasiswa UT Luar Negeri Dalam Kampus Merdeka” yang dipantau di Jakarta, Ahad (7/2). (ANTARA/Indriani)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mendorong agar pelaksanaan pendidikan jarak jauh (PJJ) diiringi dengan pembentukan kelompok belajar di lingkungan siswa maupun mahasiswa.

"Solusi PJJ ini, mahasiswa harus mampu mengembangkan kelompok belajar kecil di lingkungannya masing-masing. Kelompok belajar secara virtual ini bertujuan untuk mengasah pikirannya dan juga tukar-menukar pengetahuan yang dimilikinya," ujar Muhadjir dalam webinar Universitas Terbuka (UT) Hong Kong dengan tema "Memaknai Peran Mahasiswa UT Luar Negeri dalam Kampus Merdeka" yang dipantau di Jakarta, Ahad.

Muhadjir mengapresiasi mahasiswa UT di Hong Kong yang memiliki semangat belajar tinggi. Sebagian besar mahasiswa UT merupakan para pekerja migran Indonesia (PMI).

Menko PMK menambahkan para mahasiswa UT di luar negeri itu memiliki pengalaman yang sangat mahal, yang tidak bisa dimiliki mahasiswa yang belajar di Tanah Air.

“Mereka (mahasiswa di Tanah Air) tidak memiliki bahan belajar, sementara kalian memiliki bahan belajar, seperti pengalaman kerja di luar negeri,” ujar dia.

Pengelaman kerja tersebut, lanjut Muhadjir, harus bisa dikapitalisasi dan dapat bermanfaat bagi pengembangan karier mahasiswa UT di luar negeri ke depannya.

“Cobalah membuat mimpi, nanti setelah belajar UT mau memberikan apa, peranannya apa. Perencanaan itu yang tidak bisa diberikan kampus konvensional. Untuk itu, anda semua harus memiliki perencanaan diri,” kata dia.

Muhadjir menambahkan pelaksanaan PJJ yang akibat pandemi COVID-19 telah membawa dampak pada pendidikan di Tanah Air. Penyebabnya, tidak semua wilayah di Tanah Air memiliki akses dan jaringan internet maupun gawai.

Daerah-daerah yang berada di pedalaman dikhawatirkan semakin tertinggal, dengan tidak adanya pembelajaran tatap muka.

“Dengan pandemi COVID-19, terjadi disparitas akses dan kemampuan daya serap anak di Tanah Air,” ujar dia.

Oleh karena itu, pihaknya berupaya agar ketimpangan tersebut tertutupi dengan baik dengan cara mengambil kebijakan berdasarkan aspek kualitas, kuantitas, aspek, dan kesesuaian.

Pewarta : Indriani
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021