Bahlil pastikan penggunaan TKA di proyek nikel Weda Bay sesuai aturan

Bahlil pastikan penggunaan TKA di proyek nikel Weda Bay sesuai aturan

Tangkapan layar - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia (kanan) meninjau progres pembangunan industri smelter nikel di IWIP, Jumat (19/2/2020) di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. ANTARA/Tangkapan layar Twitter @bkpm/pri.

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia memastikan penggunaan tenaga kerja asing (TKA) dalam proyek pembangunan industri pengolahan (smelter) nikel Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, berjalan sesuai aturan.

Menurut Bahlil yang meninjau langsung progres pembangunan industri smelter nikel di IWIP, Jumat (19/2), penyerapan TKA di kawasan industri tersebut tidak seperti yang kerap dikabarkan.

"Saya sempat cek. Penting disampaikan bahwa isu yang menyatakan TKA lebih banyak itu tidak benar. Ini sudah bagus. Di akhir tahun 2021 targetnya mempekerjakan 25.000 tenaga kerja dengan TKA tidak lebih dari 2.500 orang dan skill-nya yang tinggi. Jadi tolong kalau kita mau sayang negara, kita sayang daerah, sampaikan data yang benar. Ini penting. Agar persepsi dunia tentang iklim investasi di Indonesia itu sudah berubah, sudah mulai bagus," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu.

Dalam kunjungan itu, Bahlil juga memastikan perizinan investasi serta pemanfaatan fasilitas insentif fiskal yang diberikan oleh BKPM.

"Jadi tujuan saya ke sini memastikan izin yang kita kasih berjalan atau tidak. Insentif fiskal yang kita kasih berjalan atau tidak. Perencanaan yang mereka kasih ke BKPM, sama atau tidak realisasinya. Baru kita berbicara investasi berkualitas. Apakah arah Presiden tersebut sudah tercipta di sini atau tidak?" ungkapnya.

Kunjungan dilakukan untuk meninjau langsung perkembangan pembangunan industri pengolahan (smelter) nikel beserta fasilitas pendukungnya, antara lain pembangkit listrik dan pelabuhan (terminal khusus).

Kawasan IWIP berada di lokasi yang sangat strategis antara bahan baku, industri, pembangkit listrik, dan pelabuhan. Bahlil meyakini kawasan industri dengan nilai investasi mencapai 5 miliar dolar AS pada tahap pertama itu akan menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia, bahkan di wilayah ASEAN karena perencanaan dan eksekusi yang komprehensif dan efisien.

Presiden Direktur IWIP Xiang Binghe menyambut baik dukungan pemerintah kepada investor.

"Saat ini, IWIP terus berkembang pesat dengan semakin banyaknya smelter di kawasan IWIP yang sudah berada di tahap konstruksi dan produksi, dan juga dimulainya beberapa proyek baru. Saya berterima kasih kepada Pak Bahlil dan timnya yang telah banyak support kami sehingga progres proyek kami bisa berjalan cepat selama 20 bulan belakangan," ujar Binghe.

Kawasan IWIP seluas 2.600 hektare merupakan kawasan industri terpadu pengolahan logam berat yang terletak di Lelief Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Sebelumnya, proyek IWIP ini berjalan sangat lambat selama 24 tahun. Dalam 20 bulan terakhir, kemajuan proyek berjalan cepat. Pada tanggal 17 Januari 2020, Presiden Joko Widodo menetapkan IWIP sebagai salah satu dari sembilan Kawasan Industri Prioritas Nasional di luar Pulau Jawa.

Baca juga: Apindo tekankan pentingnya iklim usaha yang baik untuk tarik investasi
Baca juga: Bahlil ungkap sejumlah syarat capai investasi Rp900 triliun
Baca juga: ESDM bidik investasi sektor minerba capai 5,9 miliar dolar pada 2021
Pewarta : Ade irma Junida
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021