BPBD Sumsel tetapkan status siaga banjir dan longsor di 6 kabupaten

BPBD Sumsel tetapkan status siaga banjir dan longsor di 6 kabupaten

Seorang warga gunakan perahu sebagai alat transportasi di Desa Pulau Panggung, Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, yang terendam banjir sejak, Sabtu (20/2/2021). (ANTARA/Nurmuhammad)

Palembang (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sumatera Selatan menetapkan status siaga bencana banjir dan longsor di enam kabupaten.

Kepala BPBD Sumsel Iriansyah di Palembang, Sabtu, mengatakan penetapan ini berdasarkan hasil pemetaan terhadap daerah rawan bencana pada masa musim penghujan.

Keenam daerah itu, Kabupaten Musi Banyuasin yang meliputi Batang Hari Leko, Babat Toman, Sanga Desa, Plakat Tinggi, Sungai Keruh, Lais, Sekayu, Lawang Wetan.

Kemudian, Kabupaten Musi Rawas Utara meliputi Nibung, Rawas Ulu, Ulu Rawas, Karang Jaya, Rupit, Rawas Ilir, Karang Dapo. Kabupaten Musi Rawas yang meliputi Muara Lakitan, Muara Kelingi, Bulang Tengah Suku Ulu.

Baca juga: Lima kabupaten di Sumsel nyatakan status siaga bencana banjir-longsor

Baca juga: Banjir pertama di Sumsel landa Banyuasin


Selanjutnya, Kabupaten Muara Enim meliputi Ujan Mas, Gunung Megang, Rambang Dangku, Muara Enim, Benakat, Belimbing. Lalu, Kabupaten Lahat yang meliputi Merapi Timur dan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir yang meliputi Talang Ubi, Tanah Abang, Penukal, Penukal Utara.

“Status siaga ini berlaku hingga masa musim penghujan berakhir,” kata dia.

Penetapan status siaga bencana banjir dan longsor ini juga merujuk pada hasil pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Oleh karena itu wilayah yang masuk dalam kawasan bencana harus dipersiapkan pada langkah-langkah mitigasi dan antisipasi.

Adapun perkiraan dampak, di antaranya sulit mengendarai kendaraan di jalanan, sebagian kelompok masyarakat terisolir, kerusakan rumah dan bangunan lainnya, sebagian masyarakat kehilangan mata pencaharian dan hewan ternak.

Kemudian, jembatan yang rendah tidak dapat dilintasi, gangguan lalu lintas karena jalan utama banjir atau ditutup, kerusakan pada jalan dan jembatan, gangguan skala sedang dan jangka menengah pada layanan air bersih/minum, listrik dan gas, gangguan skala sedang dan jangka menengah pada operasional sekolah dan rumah sakit.

Lalu, kerusakan pada tanggul-tanggul sungai, terjadi longsor, guguran bebatuan atau erosi tanah dalam skala menengah, wabah penyakit menular, volume aliran sungai meningkat/banjir, kerusakan tanaman, hingga terjadi pendangkalan pada sungai dan bendungan hingga tidak berfungsi.

Karenanya, masyarakat diimbau berhati-hati jika beraktivitas di luar rumah, memperbarui informasi melalui media massa maupun media sosial dan mengamankan dokumen-dokumen penting.

Sementara itu, Kasi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kenten Palembang, Nandang Pangaribowo menjelaskan musim hujan di wilayah Sumsel terjadi sampai Maret bahkan pertengahan April.

“Saat ini masuk puncak musim hujan (Januari, Februari, Maret), dan dalam satu pekan ke depan akan terjadi kondisi cuaca yang signifikan di semua wilayah Sumsel,” jelasnya.

Kondisi ini harus diwaspadai, khususnya daerah potensi rawan longsor di wilayah Sumsel bagian barat, yakni di Muara Enim, Pali, OKU Selatan, Pagaralam, dan Musi Rawas Utara.*

Baca juga: BPBD PALI evakuasi bayi dari lokasi banjir

Baca juga: ACT Sumsel latih relawan hadapi bencana musim hujan 2020
Pewarta : Dolly Rosana
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021