Beternak sapi di Jakarta bukanlah impian

Beternak sapi  di Jakarta bukanlah impian

Fathurrahman, peternak sapi perah di Jakarta Selatan, berfoto dengan seorang ekspatriat asal Afganistan yang jadi pelanggan susu di kandang miliknya (ANTARA/Laily Rahmawaty)

Jakarta (ANTARA) - Usaha beternak sapi perah dan sapi potong di Jakarta Selatan ternyata  sudah berlangsung lama bahkan memiliki sejarah panjang sejak zaman penjajahan kolonial Belanda, hingga kini usaha tersebut dijalankan turun temurun oleh masyarakat Betawi.

Awal mulanya sapi jenis Frisia atau Holstein (FH) didatangkan dari Belanda untuk kebutuhan gizi dan protein bangsa Kompeni, lambat laun peternak Batavia mulai memelihara hewan pemamah biak (ruminansia) tersebut.

Dari satu ekor hingga puluhan ekor, hingga kini populasi sapi perah dan sapi potong di Jakarta Selatan kurang lebih 2.000 ekor.

Jejak peternakan sapi di tengah Kota Jakarta Selatan tersimpan baik dalam organisasi Perhimpunan Peternak Sapi Perah dan Sapi Potong (PPSP-SP) Jakarta.

Fathurrahman, Ketua PPSP-SP Jakarta Selatan menceritakan peternakan sapi di Jakarta Selatan terus bertahan, kini dikembangkan oleh generasi ketiga, salah satunya cicit dari ulama terkenal asal Kuningan, KH Guru Mughni yang masjidnya berdiri mega di Jalan Gatot Subroto.

Baca juga: Ini sejarah peternakan sapi perah di Jakarta Selatan

Dulunya peternakan sapi di Jakarta Selatan terpusat di kawasan Kuningan, Setiabudi, setelah kemerdekaan RI 1945 kawasan tersebut dikenal sebagai kampung susu sapi.

Banyak masyarakat menggantungkan hidup lewat pertanian dan peternakan, tahun 1958 dibentuk Koperasi Perusahaan Daerah Ibu Kota sebagai wadah komunikasi para peternak.

Tahun 1978 di masa pemerintahan Presiden Soeharto, para peternak di kawasan Kuningan mendapat perhatian berupa bantuan sapi perah dari Australia.

Setelah 28 tahun bertahan di Kuningan, tahun 1986 peternak sapi di Kuningan harus berpindah setelah Gubernur DKI Jakarta mendapat perintah Presiden Soeharto untuk merelokasi peternak.

Maka terbitlah Surat Keputusan No 300/1986 tentang penetapan relokasi usaha peternakan sapi perah dari Kuningan sebagai kawasan kampung susu sapi ke wilayah Pondok Ranggon, Jakarta Timur.

"Alasannya karena Kuningan dibangun kawasan antar bangsa, baik kedutaan dan perumahan dibangun di sana," kata Fathurahman ditemui medio Februari.
Seorang pekerja sedang memerah susu sapi di kandangn sapi milik Fathurrahman, di Pengadegan Utara III, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (ANTARA/Laily Rahmawaty)


Tantangan peternakan sapi perkotaan
Kini kawasan Kuning dikenal sebagai segitiga emas Jakarta dan kawasan antar bangsa, tempat berkantor dan tinggalnya para duta besar negara-negara tetangga.

PSSP-SP mencatat hingga tahun 2017 peternak sapi perah yang masih bertahan di Kuningan hanya tersisa satu orang yakni milik H Nurdin, yang berlokasi di Gang Kembang, Kuningan Timur.

Tetapi kini peternakan tersebut ditutup oleh pemiliknya lantaran tidak ada  penerusnya. Sejak saat itu cerita Kampung Susu Sapi Kuningan hanya menjadi kenangan.

Baca juga: Anggota DPRD DKI: Peternakan sapi perkotaan masih prospektif

Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (Sudin KPKP) Jakarta Selatan, Hasudungan Sidabalok menyebutkan keberadaan peternakan sapi di Kota Jakarta Selatan masih potensial.

Tercatat ada sekitar 45 orang peternak sapi perah dan 47 peternak sapi potong dengan populasi sapi sekitar 2.000 ekor (periode 2018-2019) yang tersebar di 10 kecamatan Kota Jakarta Selatan.

Kecamatan Pancoran dan Mampang Prapatan menjadi lokasi terbanyak jumlah peternak sapi perah dan sapi potong, yakni 34 orang dan 35 orang di Pancoran, sisanya ada di Kebayoran Lama, Kebayoran Baru, Pesanggrahan, Pasar Minggu, dan Jagakarsa.

Hasudungan mengatakan tantangan peternakan sapi di perkotaan adalah populasinya tidak bisa sebanyak peternakan di pedesaan. Selain itu, kotoran hewan ruminansia tersebut masih menjadi kendala bagi masyarakat sekitar.

Praktisi sapi perah dari Universitas Sriwijaya, drh Langgeng menyebutkan, populasi sapi di Jakarta Selatan masih dapat ditingkatkan apabila manajemen reproduksi pada ternak sapi perah dilakukan secara benar.

"Manajemen reproduksi penting untuk mendapatkan keuntungan baik dari susu dan anaknya," kata Langgeng dalam webinar sapi perkotaan Rabu (10/2) lalu.

Langgeng mengingatkan, jika manajemen reproduksi tidak disikapi secara benar, maka dampaknya akan merugikan peternak itu sendiri, rugi di ongkos produksi juga rugi karena sapi dan produksi susu tidak sesuai harapan.

Misalnya sapi perah atau sapi potong ditargetkan dalam satu tahun haru melahirkan tapi nyatanya dua hingga tiga tahun tidak melahirkan.

Peternak sapi harus mengetahui tentang gangguan reproduksi, dalam hal ini peternak harus didampingi oleh penyuluh dan juga dokter hewan.

Baca juga: Ini tips jadi peternak sapi potong perkotaan ala Azis Gagap

Yang terpenting dari manajemen reproduksi ini adalah dalam hal indukan berasal dari bibit unggul, apakah pernah melahirkan kembar atau tidak.

Dalam manajemen reproduksi, satu tahun sapi diharapkan melahirkan, sehingga peternak harus tau kapan sapi harus dikawinkan, dan selama masa kehamilan harus dijaga secara intensif agar sapi-sapi dapat melahirkan secara baik, ini untuk mengatasi gangguan reproduksi.

Kotoran sapi dan pakan hijauan
Limbah ternak menjadi persoalan vital pada usaha ternak sapi di perkotaan, bukan saja aroma busuk yang mencemari lingkungan sekitar, kotoran hewan ruminansia itu juga menjadi penyumbang emisi gas buang rumah kaca setelah asap kendaraan.

Persoalan limbah ternak dapat diatasi dengan memanfaatkan feses maupun urinenya sapi untuk biogas, selain itu bisa juga untuk pupuk organik.

Sri Wahyuni, Direktur PT Swen Inovasi Transfer, mengatakan pengolahan limbah ternak untuk biogas cocok untuk pertanian terpadu ramah lingkungan untuk perkotaan.

Untuk menjadikan kotoran sapi menjadi biogas, peternak perlu membuat saluran pembuangan tinja sapi yang teratur, ada tempat penampungan tinja kering dan tinja basah, lalu tempat pengolahannya.

Kotoran basah sapi dapat dimanfaatkan sebagai biogas, sedangkan  yang sudah dikeringkan bisa digunakan sebagai pupuk organik.

Begitu juga dengan urine sapi yang telah diolah secara fermentasi, bisa menjadi pupuk organik biourine.
Manfaatnya bisa meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki struktur dan karakter tanah, meningkatkan kapasitas serap air tanah, meningkatkan aktivitas mikroba tanah, menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman.

"Biourine juga dapat meningkatkan pertumbuhan atau serangan penyakit tanaman, meningkatkan retensi atau ketersedaian hara dalam tanah dan ramah lingungan," kata Sri.

Ketersediaan pakan hijauan juga menjadi tantangan tersendiri bagi peternak sapi perkotaan, padatnya pemukiman penduduk dan banyaknya gedung bertingkat menyulitkan peternak untuk mendapatkan rumput liar.

Fathurahman mengatasi kendala ini dengan mencari rumput liar di pinggiran sungai dan tanah-tanah kosong yang ada di Jakarta.

Bahkan kalau tidak cukup, Fathurahman  mencari rumput liar dan rumput segar  sampai keluar Jakarta seperti Depok, Bogor, dan Bekasi.

Baca juga: Pemerintah perlu perkuat infrastruktur peternakan daerah produksi sapi

Berbekal satu mobil pick-up, pria ini mencari rumput liar dan hijau untuk 22 ekor sapi perah dan sapi potong miliknya.

Selain pakan hijau-hijauan, sapi perah dan sapi potong juga membutuhkan konsentrat. Bahan kosentrat didapat dari mengambil limbah sayuran yang ada di pasar. Seperti ampas tahu tempe dan bonggol jagung.

Sehari dibutuhkan 5 karung berat 50 kilogram berisi ampas tahu, ampas tempe dan hijauan untuk memberi makan 22 ekor sapi miliknya.
Kandang sapi perah milik Fathurrahman, di Pengadegan Utara III, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (ANTARA/Laily Rahmawaty)


Peluang peternakan sapi perkotaan
Meski punya banyak tantangan, tapi tak mengendorkan semangat peternak Jakarta Selatan untuk mempertahankan usaha ternak sapi perah maupun sapi potong yang diwariskan dari kakek hingga orang tuanya.

Fathurahman meneruskan usaha ternak sapi perah dari ayahnya mulai tahun 2005, sang ayah meneruskan usaha ternak sapi dari kakeknya sejak tahun 1960 an.

Sang kakek beternak sapi awalnya di kawasan Kuningan, setelah kena relokasi, pindah ke Pengadegan Utara III, RT 006/RW 007, No 20 A, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Uang relokasi kandang sapi sangat menguntungkan bagi peternak sehingga mampu membeli lahan seluas minimal 100 meter per segi hingga 2.000 meter persegi.

Bedanya, waktu di Kuningan, kandang milik peternak lebih luas dibanding setelah direlokasi.

Menurut Fathurahman, keuntungan beternak sapi di perkotaan adalah pemasaran langsung dilakukan oleh peternak, berbeda di perdesaan melalui koperasi.

Peternak bisa menentukan harga langsung, pembeli langsung ke peternak, tidak menggunakan perantara.

Fathurrahman memasarkan susu sapi kepada loper susu dan masyarakat umum, termasuk para ekspatriat yang kebanyakan tinggal di Jakarta Selatan.

Harga jual susu untuk loper susu Rp7.500 per liter, sedangkan untuk masyarakat umum dan ekspatriat dijual Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per liter.

Satu hari, sapi milik Fathurrahman dapat memproduksi susu sapi rata-rata 20 liter per hari dengan waktu perah pagi dan sore hari.

"Pemasaran mudah, dari mulut ke mulut biasanya, bisa pesan via daring, bayar juga mudah dengan sistem transfer," kata Fathurahman.

Selain sehari-hari memproduksi susu sapi, Fathurrahman juga memelihara sapi jantan sebagai sapi potong untuk Idul Qurban dan untuk hajatan atau dijual ke rumah potong.

Beberapa peternak sapi di Jakarta Selatan juga pernah dipesan sapinya oleh pihak Istana untuk jadi hewan kurban untuk presiden dan wakil presiden pada tahun 2020.

Selain produk hasil susu dan daging yang menguntungkan, peternak sapi perkotaan juga mendapat keuntungan dari produk olahan susu dan daging sapi.

Siti Darnilah, pemilik usaha olahan susu Biznillah mengawali usaha ternak sapi dari menjual susu murni saja.
Seiring perkembangan zaman, susu murni kurang digemari. Orang-orang kekinian menyukai sesuatu yang instans, enak dan menarik. Sehingga peternak dituntut berinovasi mengembangkan produk olahan sapi menjadi lebih digemari.

Biznillah Fresh Milk milik Siti telah berjalan dua tahun, kini memiliki tujuh produk olahan sapi, yakni yogurt dengan varian buah-buah asli, lalu susu kurma, mambo milk dengan rasa oreo dan coki-coki, mambo yogurt rainbow, es mambo warna-warni dengan rasa buah-buahan serta es yogurt, kebab imut, ice cream dengan rasa oreo milo dan bang-bang.

Di antara semua produk, Siti memasarkan susu kurma sebagai produk baru yang populer saat ini karena memiliki banyak manfaat, berasal dari paduan bahan-bahan alami yang menyehatkan.

Anggota DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino mengatakan peternakan perkotaan di Jakarta Selatan masih memiliki prospek untuk terus berkembang, asalkan peternak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, mau berinovasi dan tidak alergi dengan teknologi.

Harapannya semua peternak mempunyai inovasi dalam manajemen usaha peternakan sehingga pada akhirnya berpengaruh positif terhadap kualitas dan kuantitas terhadap produk yang dihasilkan.
Pewarta : Laily Rahmawaty
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2021