Menristek : Bahan baku obat berbasis biodiversitas untuk kemandirian

Menristek : Bahan baku obat berbasis biodiversitas untuk kemandirian

Tangkapan layar - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro dalam acara virtual peringatan Setahun Pandemi COVID-19 dengan tema Inovasi Indonesia Untuk Indonesia Pulih, Bangkit dan Maju, Jakarta, Selasa (2/3/202). ANTARA/Tangkapan layar Youtube Kemenristek /BRIN/pri.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro mendorong pengembangan bahan baku obat dalam negeri dengan memanfaatkan keanekaragaman hayati atau biodiversitas yang melimpah di Tanah Air untuk mendorong kemandirian Indonesia.

"Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia kalau menggabungkan antara yang ada di darat dengan yang di laut. Jadi artinya tidak ada alasan kita tidak bisa membuat bahan baku obat karena bahan bakunya ada di sekitar kita," kata Menristek Bambang dalam acara virtual peringatan Setahun Pandemi COVID-19 dengan tema Inovasi Indonesia Untuk Indonesia Pulih, Bangkit dan Maju, Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan dibutuhkan kerja lebih keras dengan pendekatan saintifik dengan talenta tadi bagaimana caranya keanekaragaman hayati menjadi obat yang nantinya bisa menciptakan masyarakat sehat, ini yang harus selalu dikedepankan, katanya.

Saat ini, lebih dari 90 persen bahan baku obat masih diimpor dari luar negeri. Sebagai contoh, bahan baku obat untuk membuat vitamin yang banyak dikonsumsi di tengah pandemi COVID-19 sekarang ini juga didatangkan dari luar.

Baca juga: Kimia Farma fokus kembangkan BBO wujudkan ketahanan kesehatan nasional

Baca juga: Anggota DPR minta industri farmasi domestik gunakan bahan baku lokal


Menristek/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang menuturkan Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 yang dibentuk Kementerian Riset dan Teknologi pada 2021 masih tetap berfokus pada upaya melahirkan temuan atau inovasi yang bisa membantu penanggulangan COVID-19 yang baik.

Fokus kegiatan riset untuk penanganan pandemi itu diarahkan untuk mendukung program vaksinasi nasional, mempermudah tes usap dengan penggunaan saliva atau air liur, mengembangkan alat pengukur kadar antibodi untuk memastikan tercapainya kekebalan kelompok (herd immunity) dari program vaksinasi.

Kegiatan riset juga termasuk menciptakan ventilator ICU pertama Indonesia, karena selama ini alat tersebut masih diimpor. Sebagai perkembangan, ada pihak yang sudah siap untuk melakukan uji klinis penggunaan ventilator ICU tersebut.

"Kita harapkan tahun ini benar-benar bisa menjadi awal bahwa lama-kelamaan kemandirian alat kesehatan itu bisa kita lakukan, syukur-syukur berikutnya kemandirian di dalam obat-obatan," tutur Kepala BRIN.

Baca juga: Dukung produksi bahan baku obat, pemerintah siapkan lahan di Batang

Baca juga: Luhut sebut 70 persen obat kini bisa diproduksi di dalam negeri
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021