Persadia tekankan pentingnya deteksi dini prediabetes orang obesitas

Persadia tekankan pentingnya deteksi dini prediabetes orang obesitas

Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Prof. Dr. Mardi Santoso (kanan bawah) dalam seminar daring bertajuk " Cerdas Baca Label Kemasan, Hindari Risiko Obesitas" di Jakarta, Kamis (4/3/2021). (ANTARA/ HO-Kemkes)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) wilayah Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, Prof. Dr. Mardi Santoso menekankan pentingnya deteksi dini prediabetes pada orang-orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas.

"Perlunya screening prediabetes pada orang obesitas dan overweight. Deteksi dini penting sekali," kata Prof. Mardi di acara seminar daring bertajuk " Cerdas Baca Label Kemasan, Hindari Risiko Obesitas" di Jakarta, Kamis.

Untuk mengetahui apakah seseorang terkena prediabetes, orang tersebut perlu memeriksakan kadar gula darahnya.

Dari data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Kementerian Kesehatan, jumlah penderita prediabetes usia muda di Indonesia pada 2018 mencapai 57,1 persen dari total penderita prediabetes.

Baca juga: Persadia: Jangan remehkan perut buncit

Prediabetes adalah penderita dengan toleransi gula darah terganggu atau gula darah puasa terganggu atau ada gangguan di keduanya.

Mardi menyebut bahwa kebanyakan penderita prediabetes adalah mereka yang obesitas.

Gejala prediabetes adalah bila mengalami salah satu dari gejala seperti banyak makan, banyak minum, banyak kencing, berat badan menurun drastis dan mengalami lemas.

"Orang dengan prediabetes satu saja gejalanya obesitas dan lemas, makannya banyak yang enak-enak," katanya.

Dia menambahkan terapi untuk penderita prediabetes antara lain pengaturan komposisi makanan agar pasien mencapai berat badan ideal, olah raga dengan durasi 150 menit per minggu. Bila upaya tersebut kurang efektif, maka pasien harus mengkonsumsi obat.

Baca juga: Persadia: 75 persen penderita diabetes tak terdeteksi

Sementara untuk menurunkan angka penyakit tidak menular akibat obesitas dan kelebihan berat badan, perlu peranan Kementerian Kesehatan, tokoh masyarakat dan perusahaan-perusahaan makanan.

Mardi menyebut di negara-negara lain, pencegahan tidak hanya dilakukan pada penyakit akibat obesitas, tetapi mereka melakukan upaya pencegahan obesitas dan kelebihan berat badan.

Ada sejumlah risiko akibat obesitas antara lain prediabetes, diabetes mellitus, penyakit kardiovaskuler, sindrom metabolik, gangguan lemak darah, kekentalan darah naik, trombosit menumpuk, kerusakan pembuluh darah, gangguan kesuburan, hipertensi dan kanker.

Baca juga: Kemkes: Obesitas berpotensi meningkat di masa pandemi COVID-19

"Risiko obesitas itu macam-macam diantaranya penyakit kardiovaskuler, ada stroke, penyempitan pembuluh darah, jantung koroner, kaki pincang, syaraf matanya kena retinopati. Lalu kanker. Jadi sel-sel lemak itu mudah berubah jadi keganasan. Jadi orang gemuk itu ternyata tidak menunjukkan kemakmuran, justru berisiko terkena penyakit tidak menular," paparnya.

Dia menyebut selama rentang 2007 - 2018, berat badan berlebih dan obesitas pada dewasa berusia > 18 tahun cenderung mengalami peningkatan di Indonesia.

Pada 2018, tercatat obesitas tertinggi ada di Sulawesi Utara dengan 21,8 persen.

Obesitas adalah keadaan dimana indeks massa tubuh (IMT) > 23 - 24,9. Indikator berat badan berlebih pada dewasa yakni jika IMT 25 s.d. 27. Sementara obesitas pada dewasa yakni bila IMT lebih dari 27.

Baca juga: Makanan siap saji dan olahan tingkatkan obesitas dan kematian

 
Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021