Remaja Suriah masih bayar mahal selama dasawarsa perang

Remaja Suriah masih bayar mahal selama dasawarsa perang

Sejumlah bocah pengungsi Suriah bermain di kamp pengungsi Suriah di lembah Bekaa, saat Lebanon memperluas lockdown untuk memerangi penyebaran COVID-19 di Lebanon, 7 Mei 2020.  ANTARA FOTO/ REUTERS / Ali Hashisho/aww.

Jenewa (ANTARA) - Anak muda Suriah telah menderita kerugian pribadi yang besar dalam satu dekade perang dan masih harus menghadapi pembangunan kembali tanah air mereka yang hancur, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengatakan pada Rabu.

Sebuah survei baru ICRC terhadap 1.400 warga Suriah yang tinggal di Suriah atau di pengasingan di Lebanon dan Jerman menyoroti biaya bagi mereka yang berusia 18-25 tahun dari perang yang menewaskan ratusan ribu orang, membuat jutaan orang terlantar, dan menghancurkan sekolah dan rumah sakit.

"Salah satu hasil mengejutkan dari survei ini adalah kami menyadari bahwa 50 persen warga Suriah memiliki teman atau anggota keluarga yang terbunuh ... Satu dari enam warga Suriah memiliki salah satu orang tua mereka terbunuh atau terluka," Fabrizio Carboni, Direktur regional ICRC untuk Timur Tengah, mengatakan kepada Reuters.

"Membangun kembali negara ada di pundak mereka dan jelas itu sangat tidak adil," katanya dalam sebuah wawancara di kantor pusatnya.

Laporan itu bertepatan dengan peringatan 10 tahun dimulainya protes terhadap pemerintahan Presiden Bashar al-Assad yang berubah menjadi perang saudara skala penuh. Militer Assad kini telah mendapatkan kembali kendali atas sebagian besar negara dengan bantuan Rusia dan Iran.

Hampir setengah dari anak muda Suriah telah kehilangan pendapatan mereka karena konflik dan hampir delapan dari 10 telah melaporkan kesulitan untuk membeli makanan dan kebutuhan lainnya, laporan tersebut menunjukkan.

"Wanita sangat terpukul secara ekonomi, dengan hampir 30 persen di Suriah melaporkan tidak ada pendapatan sama sekali untuk menghidupi keluarga mereka," kata ICRC.

'Saya berusaha menghibur mereka''

Sebuah video yang dirilis oleh ICRC dengan survei tersebut menunjukkan Mouna Shawat yang berusia 33 tahun menggunakan kruk untuk berjalan dengan satu kaki melewati blok bangunan yang dibom di jalan-jalan yang penuh dengan puing-puing di kota Aleppo Suriah. Shawat belum menggunakan kaki palsu di pusat rehabilitasi.

Kaki kiri bawah Shawat harus diamputasi beberapa tahun lalu setelah alat peledak yang dibuat sekenanya meledak saat dia dalam perjalanan pulang.

Shawat, yang tinggal bersama kedua anaknya di Aleppo, mengenang dengan nostalgia masa mudanya sebelum perang saudara.

"Kami memiliki segalanya - bensin, solar, layanan. Sekarang kami kedinginan dan lapar, dan kami harus menunggu gas untuk penghangat. Terkadang kami harus memasak di atas api," katanya.

Merujuk pada kecemasan anak-anaknya atas kakinya yang hilang, dia berkata: "Sampai hari ini, setiap kali muncul mereka mulai menangis, saya mencoba menghibur mereka."

Sumber: ReutersBaca juga: Belgia akan pulangkan anak, ibu dari kamp tahanan Suriah

Baca juga: Presiden Suriah Bashar al-Assad dan istrinya positif COVID-19

 
Pewarta : Mulyo Sunyoto
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2021