JK soroti sistem siaga bencana saat peringati 10 tahun gempa Jepang

JK soroti sistem siaga bencana saat peringati 10 tahun gempa Jepang

Tangkapan layar - Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla, dalam acara Reuni dan Silaturahmi Mengenang Satu Dekade Bencana Tohoku 2011 yang diselenggarakan oleh Paguyuban 529 dari Jakarta, Kamis (11/3/2021). ANTARA/Aria Cindyara.

Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla, mengenang pengalamannya dalam peringatan satu dekade bencana gempa bumi di Tohoku, Jepang yang juga memicu masalah nuklir di Fukushima, dan menyoroti pentingnya sistem kesiagaan bencana.

Dalam acara Reuni dan Silaturahmi Mengenang Satu Dekade Bencana Tohoku 2011 yang diselenggarakan oleh Paguyuban 529 dari Jakarta, Kamis, mantan wakil presiden Indonesia itu mengatakan dirinya sedang berada di Jepang saat bencana melanda. Bersama dengan rombongannya serta Duta Besar Indonesia untuk Jepang saat itu, Muhammad Lutfi, ia sedang berada di kawasan Roppongi di Tokyo.

“Kami sedang makan siang, tiba-tiba restoran itu bergoyang luar biasa […] kita bergegas keluar restoran dan melihat di jalan sudah penuh orang,” kenang JK.

Baca juga: 10 tahun setelah Fukushima, Jepang kenang petaka nuklir
Baca juga: Pria ini selamatkan kucing terlupakan di zona nuklir Fukushima

Menurutnya, meski jalan-jalan dipenuhi oleh orang-orang yang hendak menyelamatkan diri, mereka tidak berlarian dengan panik.

“Apa yang kita pelajari di sini? Ialah bahwa Jepang itu punya sistem menghadapi bencana karena memang daerah sangat banyak gempa dan bencana, dan juga pelatihan yang sangat teratur sehingga orang-orang tidak panik […] hanya berjalan cepat bersama-sama, tidak ada yang lari, ke tempat yang mereka sudah tahu,” ujarnya.

Dari pengalamannya tersebut, dia pun membagikan sejumlah poin yang menjadi catatan, yang menurutnya patut untuk dicontoh dan diterapkan di Indonesia.

“Pertama, dia punya teknologi, artinya disiplin teknologi bahwa bangunan dan tingkat keselamatannya bagaimana,” jelasnya.

Poin kedua yakni sistem pengamanan yang dilatihkan secara teratur oleh pemerintah kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk kepada anak-anak di tingkat sekolah. “Sehingga seperti saya katakan, waktu keluar dari restoran itu semua orang berjalan cepat tetapi tidak ada yang panik. Tetapi langsung menuju ke taman, tanpa instruksi tahu ke mana dia pergi.”

Respons terhadap bencana yang ditunjukkan oleh masyarakat Jepang itu disebut mencerminkan sistem dan tata daerah yang telah dirancang sedemikian rupa, sehingga mereka tahu di mana area aman terdekat untuk mereka menyelamatkan diri.

Acara silaturahmi dan reuni dalam rangka peringatan 10 tahun bencana tersebut turut dihadiri oleh Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kanasugi Kenji yang memberikan sambutan pembuka.

Selain itu, Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi, yang menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Jepang dari tahun 2010 hingga 2013 juga turut menghadiri acara tersebut dan membagikan pengalamannya.

Mengutip laporan Reuters, pada Kamis ini Jepang berduka saat mengenang hampir 20.000 korban gempa bumi dan tsunami besar yang melanda Jepang 10 tahun lalu, yang menghancurkan kota-kota dan memicu kebocoran nuklir di Fukushima.

Gelombang besar yang dipicu oleh gempa berkekuatan 9,0 skala Richter (SR) - salah satu yang terkuat dalam catatan sejarah - menghantam pantai timur laut, melumpuhkan pembangkit listrik Fukushima Dai-ichi dan memaksa lebih dari 160.000 penduduk mengungsi saat radiasi nuklir mengotori udara.

Baca juga: 10 tahun berlalu, Jepang berduka atas korban gempa, bencana Fukushima
Baca juga: 10 tahun setelah petaka, tembikar bersenandung Fukushima kembali

Pewarta : Aria Cindyara
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021