Wirausaha wanita diharapkan dorong kesetaraan gender

Wirausaha wanita diharapkan dorong kesetaraan gender

Tangkapan layar Kepala Program Agensi Perserikatan Bangsa- Bangsa untuk Perempuan (UN Women) Indonesia Dwi Yuliawati Faiz dalam webinar yang diselenggarakan Danone, Jumat (12/3/2021). (ANTARA/Livia Kristianti)

Jakarta (ANTARA) - Wirausaha atau pelaku usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) yang bermunculan di tengah pandemi COVID-19 diharapkan dapat mendorong terciptanya kesetaraan gender di Indonesia.

Harapan itu disampaikan oleh Kepala Program Agensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perempuan (UN Women) Indonesia Dwi Yuliawati Faiz dalam webinar pada Jumat.

"Kita harus menyadari ketidaksetaraan gender yang semakin melebar ketika pandemi itu membutuhkan strategi, agar baik wanita maupun pria bisa mendapatkan manfaat yang setara dari proses pemulihan ekonomi pasca pandemi. Ini bicara tidak hanya build back better tapi juga build back better equally," ujar Dwi.

Baca juga: Hoaks! KFC bagi paket camilan gratis peringati Perempuan Internasional

Baca juga: Penolak RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dinilai gagal paham


Dwi menyebutkan di Indonesia kelahiran wirausaha wanita di tengah pandemi COVID-19 meningkat cukup pesat.

Dalam paparannya ia menjelaskan sebanyak 82 persen wanita memanfaatkan solusi digital untuk menjalankan usaha di tengah pandemi.

Meski demikian, ditemukan dominasi bahwa wanita yang berwirausaha di tengah pandemi COVID-19 berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sehari- hari sehingga bentuknya rata- rata informal seperti industri rumahan dan bukan pada pengembangan bisnis jangka panjang.

Sehingga masih banyak orang-orang yang memandang sebelah mata usaha yang dirintis oleh wanita tak dapat berkembang untuk pasar yang lebih luas.

Selain itu, Dwi turut menyebutkan masih ada empat tantangan yang harus bisa dihadapi wirausaha wanita dalam menjalankan bisnis di tengah ketidaksetaraan gender.

Tantangan pertama adalah akses, seringkali usaha yang dikerjakan oleh wanita bersifat informal sehingga kerap kali akses pada pembiayaan atau pinjaman menjadi lebih sulit didapatkan.

Tantangan kedua adalah kerentanan usaha berbasis kebutuhan, karena usaha yang dijalankan wanita didominasi orientasi kebutuhan maka kadang wanita tidak memiliki strategi bertahan yang baik.

Tantangan ketiga adalah perlindungan sosial, dengan usaha wanita yang didominasi usaha informal sama layaknya seperti akses maka wanita pun masih kesulitan mendapatkan insentif atau bantuan usaha bagi bisnisnya dibanding laki- laki.

Terakhir, tantangan literasi digital. Meski di tengah pandemi sudah banyak yang menjadikan solusi untuk berbisnis namun jangkauan infrastruktur yang ada masih rendah.

Berkaca dari tantangan- tantangan itu, Dwi berharap para wirausaha wanita di Indonesia dapat berinovasi dan juga mulai berorientasi untuk berbisnis jangka panjang sehingga tidak hanya untuk memulihkan ekonomi keluarga dan negara di tengah pandemi tapi juga dapat menciptakan keseteraan gender baik di antara wanita maupun pria.

"Harus ada upaya membangun kewirausahaan yang inovatif jadi tidak hanya orientasi bisnisnya di orientasi kebutuhan, namun juga meningkatkan kemampuan mengambil keputusan sehingga orientasi bisnisnya pertumbuhan," ujar Dwi.

Baca juga: Cut Memey galang dana untuk perempuan korban pelecehan

Baca juga: Kemen PPPA dorong Tokopedia hadirkan produk ramah perempuan dan anak

Baca juga: Kominfo dorong keterampilan digital perempuan Indonesia
Pewarta : Livia Kristianti
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021