Mahasiswa UMM rancang aplikasi kesehatan mental

Mahasiswa UMM rancang aplikasi kesehatan mental

Mahasiswa dari lima perguruan tinggi yang merancang aplikasi kesehatan mental sedang berdiskusi secara daring (ANTARA/HO/UMM/END)

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Clara Demmy Dwi Anisha Imansari, merancang aplikasi berbasis kesehatan mental yang diberi nama PAUT.ID dan meraih meraih juara satu pada lomba Inovasi Health Hackathon 2021.

Dalam proses merancang aplikasi kesehatan tersebut, Clara tak sendiri. Clara dibantu oleh empat anggota tim lainnya, masing-masing dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Nusa Cendana (UNDANA), Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).

"Saya awalnya tidak sengaja menemukan pengumuman lomba ini di email. Saya iseng membuka email dan melihat tentang kompetisi ini. Untungnya, saya masih bisa mendaftar, karena hari itu ternyata hari terakhir pendaftaran. Setelah mendaftar kami dikelompokkan menjadi 20 tim, satu tim terdiri dari lima orang,” kata Clara di Malang, Jawa Timur, Rabu.

Baca juga: Dosen UMM ciptakan aplikasi daring Maduhukum permudah literasi hukum

Menurut mahasiswa asal Malang itu, dalam perlombaan tersebut, para peserta dituntut untuk membuat inovasi di bidang kesehatan masyarakat. Ia dan tim memutuskan untuk berinovasi di bidang kesehatan mental.

Hal ini dipilih karena kesehatan mental dinilai penting di masa pandemi. Selain itu, masyarakat Indonesia juga belum begitu akrab dengan hal ini. “Karena hal tersebut, kami mempunyai ide untuk menciptakan aplikasi dimana masyarakat dapat bercerita mengenai masalah mental yang sedang dihadapinya,” katanya.

Clara menjelaskan beberapa fitur yang ada di aplikasi PAUT.ID ini. Pertama, fitur chatting, dimana pengguna bisa saling berinteraksi secara daring. Kedua, fitur konsultasi bersama tenaga ahli di bidang psikologi dan terakhir fitur modul yang memuat saran beberapa aktivitas yang bisa dilakukan selama pandemi.

"Fitur-fitur tersebut kami rancang untuk memudahkan masyarakat bercerita terkait kesehatan mental, baik dengan pengguna lain maupun dengan ahli. Selain itu, juga untuk menggiring pengguna melakukan hal-hal yang positif,” ujar anak terakhir dari dua bersaudara ini.

Baca juga: Menko PMK dorong mahasiswa UMM tumbuhkan C4

Dibanding tim lain, tim Clara hanya membutuhkan waktu empat hari untuk menyusun proposal dan membuat prototipe aplikasi. Dalam proses pengerjaannya, tim ini dibagi menjadi dua tim kecil, yaitu tim penyusun proposal dan tim penyusun desain serta prototipe.

“Jika tim lain membutuhkan waktu dua minggu untuk mempersiapkan proposal, kami hanya membutuhkan waktu empat hari. Dari semua tim, hanya tim kami yang sampai membuat prototipe. Mungkin itu yang membuat kami mendapat nilai plus dari dewan juri,” kata Clara.

Lomba ini merupakan lomba pertama yang diikuti Clara. Ia mengaku senang dengan pencapaian tersebut. “Ke depan saya berharap dapat mengembangkan aplikasi ini. Saya juga ingin menginspirasi teman-teman bahwa pandemi bukan alasan untuk tidak berkarya dan mengembangkan potensi diri,” pungkasnya.

Baca juga: Mahasiswa Teknik Elektro UMM rancang alat pengukur warna garam
Baca juga: Mendikbud apresiasi UMM peringkat satu Universitas Islam Terbaik Dunia
Baca juga: Mahasiswa UMM buat "Trash Conveyor", alat penyaring sampah otomatis
Pewarta : Endang Sukarelawati
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021