Kota Ruili di perbatasan China-Myanmar "lockdown"

Kota Ruili di perbatasan China-Myanmar

Ilustrasi - Suasana di pemeriksaan imigrasi di Distrik Luohu, Kota Shenzhen, Provinsi Guangdong, China, yang berbatasan dengan Hong Kong melalui jalur kereta api. (ANTARA/M. Irfan Ilmie)

Beijing (ANTARA) - Kota Ruil di  Provinsi Yunnan, China, yang berbatasan dengan Myanmar, pada Rabu dinyatakan ditutup total atau lockdown dan menggelar tes usap secara massal setelah enam warga lokal terinfeksi COVID-19.

Otoritas Kesehatan Yunnan menyebutkan bahwa selain enam kasus positif terdapat pula tiga kasus tanpa gejala. Sebanyak empat orang di antaranya adalah warga negara Myanmar.

Semua warga Ruili dites usap mulai pukul 08.00 waktu setempat (07.00 WIB). Biayanya ditanggung oleh pemerintah.

Semua penduduk kota itu juga diwajibkan karantina secara mandiri di dalam rumah selama sepekan dan tidak diizinkan ke luar rumah tanpa alasan yang jelas.

Semua jenis usaha, kecuali pasar sayur, pasar swalayan, dan toko farmasi, ditutup.

Ruili sebelumnya juga pernah mengalami pemberlakuan serupa pada September 2020 setelah ditemukan kasus positif pada pendatang gelap dari Myanmar.

Ruili dan Myanmar berbagi wilayah perbatasan sepanjang 170 kilometer. Perbatasan tersebut sangat unik karena hanya ada satu jalan dan satu desa yang menghubungkan China dan Myanmar.

Mengawasi daerah perbatasan itu merupakan tugas yang sangat berat, kata Kepala Kepolisian Ruili Yang Bianqiang, yang dikutip media setempat.

Seiring dengan ramainya jalur keluar-masuk di wilayah perbatasan,beberapa pihak mendesak pemerintah China untuk memprioritaskan vaksinasi pada penduduk perbatasan.

Baca juga: China suntikkan lebih dari 100 juta dosis vaksin COVID-19

Baca juga: WHO tak temukan jawaban asal-usul COVID-19 di China

Baca juga: Masjid di Beijing mulai lagi gelar Jumatan


 

Kereta kargo China-Eropa pertama tiba di St. Petersburg, Rusia

Pewarta : M. Irfan Ilmie
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021