Relokasi PKL tanaman hias dari JIS ke Ketel agar lingkungan lebih asri

Relokasi PKL tanaman hias dari JIS ke Ketel agar lingkungan lebih asri

Akman, Pedagang Kaki Lima (PKL) Tanaman Hias yang relokasi karena adanya pembangunan Jakarta International Stadium (JIS) ditemui di kawasan PLTU Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, Kamis (2/4/2021). (ANTARA/ Abdu Faisal)

Jakarta (ANTARA) - Relokasi pedagang kaki lima (PKL) tanaman hias dari kawasan Jakarta International Stadium (JIS), Sunter Agung, Tanjung Priok, ke Jalan Ketel ditujukan untuk membuat lingkungan pinggir Kali Ancol, Pademangan itu terlihat asri.

Lurah Sunter Agung Danang Wijanarko mengatakan lokasi baru para PKL di seberang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ancol itu sudah tampak berbagai jenis tanaman hijau.

"Wilayah itu jadi hijau dengan adanya PKL Tanaman Hias itu. Jujur saja wilayah Ketel itu jadi lebih indah," ujar Danang saat ditemui ANTARA di kawasan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara.

Baca juga: Pemkot Jakut fasilitasi Jakpro terapkan program permukiman kembali JIS

Danang mengatakan relokasi itu memang sudah dirapatkan oleh Pemerintah Kota Jakarta Utara untuk menghindari para pedagang terganggu dan tidak nyaman seiring dimulainya pembangunan proyek Jakarta International Stadium.

"Maka sudah ada rapat di Wali Kota kalau PKL itu harus direlokasi. Karena mengganggu dan tidak aman juga buat mereka. Karena ada rekomendasi begitu, pak Lurah mediasi ke warga," kata Danang.

Danang mengatakan surat keputusan Wali Kota Jakarta Utara terkait pembinaan 26 PKL tanaman hias di Sunter Agung tersebut sudah habis masa berlakunya pada Oktober 2020.

Baca juga: Mengenal teknologi pencahayaan dinding Jakarta International Stadium

Menurut Danang, aspek legalitas itu yang membuat sejumlah PKL tanaman hias bersedia menandatangani persetujuan relokasi dari depan Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Sunter Agung, Tanjung Priok itu secara sukarela.

Apalagi lahan yang mereka tempati sebelumnya itu merupakan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Namun, tidak serta-merta disuruh pindah, Kelurahan Sunter Agung lebih dulu melakukan mediasi dengan warga sebanyak tiga kali untuk mencari jalan tengah dan solusi yang terbaik bagi warganya.

"Waktu itu mereka mau pindah ke mana juga belum jelas. Akhirnya kayak pada yang cari sendiri-sendiri. Tapi kami mediasi tiga kali, hingga berprogres. Nah, akhirnya ada yang dibantu Kantor Wali Kota agar sementara di Jalan Ketel itu," kata Danang.

Baca juga: Jakpro sebut pembangunan JIS capai 45,2 persen hingga Januari 2021

Selain itu, PT Jakarta Propertindo (Perseroda) selaku pengembang Jakarta International Stadium juga ikut mengulurkan tangan membantu para pedagang yang terkena relokasi tersebut.

Danang mengatakan PT Jakpro menyepakati untuk membeli pot tanaman dari para PKL tanaman hias yang terkena relokasi seharga Rp 4 juta.

Dana tersebut kemudian ditransfer ke rekening Bank DKI setelah para pedagang sudah pindah.

"Itu uang beli pohon tanaman. Jakpro menyepakati Rp4 juta per PKL," katanya.

Rosikin, salah seorang PKL Sunter Agung yang direlokasi ke kawasan Jalan Ketel, Pademangan mengaku bersyukur dapat berjualan tanaman hias lagi di tempat baru dengan nyaman.

Apalagi, menurut dia, selain lebih nyaman, lokasi barunya juga sering dilalui kendaraan pengunjung rumah makan makanan laut (seafood) seberang kawasan serta area dagang pun lebih luas.

"Ya areanya (lebih luas) terus banyak dilalui kendaraan juga. Kalau rezeki ya ada saja (yang beli)," kata Rosikin.

Rosikin mengatakan tanaman yang dijual lebih banyak tanaman dedaunan, dimana yang laris seperti tanaman Janda Bolong yang harga satu potnya bisa mencapai Rp1 juta.

Sementara itu, pedagang lainnya Akman mengatakan lokasi dagangan barunya tersebut lebih nyaman karena kebetulan menyambung dengan pedagang tanaman hias yang lama.

"Teman-teman kita yang masuk ke sini 8 orang, semuanya kan 26 orang, cuma tidak semua ditempatkan di PLTU Ancol. Ada yang di pluit, ada yang di Danau (Sunter), dan ada di Bekasi," kata Akman.

Pria Cirebon Jawa Barat kelahiran 1973 itu juga berterima kasih karena pemerintah setempat bersedia memediasi mereka dengan cara-cara komunikasi yang baik.

"Kami waktu mediasi itu, kami sadar semua mas. Enggak ada yang macam-macam, mas. Kami tetap mengikuti aturan. Apalagi ini (JIS) kan proyek Pemerintah Provinsi DKI. Jadi kami tetap menghargai, ya rela. Di situ (waktu mediasi) ada pak Lurah Sunter Agung, dari pihak Kecamatan, dari utusan Wali Kota dari Suku Dinas UMKM ada hadir," kata Akman.

Ayah tiga anak itu mengatakan sudah merantau ke Jakarta dari tahun 1999 sampai sekarang. Pertama kali berdagang tanaman hias di Cengkareng selama dua tahun.

"Nah yang paling lamanya di Jakarta Utara dari tahun 2000, tadinya di Kali Sunter, terus pindah ke depan Pengadilan (Negeri Jakarta Utara) selama dua tahun. Terus kemarin pindah lagi ke Ancol. Mengenai omzet pasti terpengaruh ya karena ini di tempat baru. Cuma mudah-mudahan lebih baik lagi," kata Akman.
Pewarta : Abdu Faisal
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2021