Peluang dan tantangan Sirkuit Mandalika jelang Homologasi untuk MotoGP

Peluang dan tantangan Sirkuit Mandalika jelang Homologasi untuk MotoGP

Managing Director of Dorna Sports SL Carlos Ezpeleta (kedua kanan) didampingi Chief Executive Officer of Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Ricky Baheramsjah (kedua kiri), Vice President of MGPA Cahyadi Wanda (kiri) dan Gubernur NTB Zulkieflimansyah (kanan) meninjau kawasan Kuta Beach Park di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Rabu (7/4/2021). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww.

Jakarta (ANTARA) - Dalam waktu kurang lebih tiga bulan lagi, pengerjaan lintasan Sirkuit Mandalika harus rampung sebelum proses homologasi untuk menilai kelayakan sirkuit jalan raya di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu untuk menggelar ajang balapan MotoGP dan WSBK.

Homologasi sendiri adalah proses standar persetujuan atau sertifikasi dalam dunia balap yang meliputi standar kendaraan balap, lintasan, dan komponen-komponen lainnya yang telah ditentukan untuk penyelenggaraan ajang balap.

Perwakilan dari Dorna Sports, selaku pemegang hak komersial MotoGP dan WSBK, dan federasi balap motor internasional FIM, yang bertanggung jawab atas proses homologasi, pada Rabu telah meninjau progres pembangunan sirkuit yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika tersebut.

Dorna Sports diwakili oleh Managing Director Carlos Ezpeleta dan Loris Capirossi selaku promoter representative, sedangkan FIM mengirimkan safety officer Franco Ucini, yang juga mantan juara dunia 500cc 1982.

Baca juga: Dorna dorong lebih banyak talenta anak bangsa berkiprah di MotoGP

PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesian Tourism Development Corporation (ITDC), selaku pengembang kawasan Mandalika, dan Mandalika Grand Prix Association (MGPA), sebagai operator sirkuit dan promotor grand prix, memberi Antara kesempatan melihat langsung proyek pembangunan trek di Jalan Kawasan Khusus itu jelang kedatangan Dorna.

Memang belum tampak struktur bangunan tinggi, seperti tribun atau paddock, karena saat ini konstruksi sedang difokuskan untuk menggarap aspal lintasan, pemasangan drainase, dan struktur keselamatan seperti gravel bed dan pagar pembatas beton yang dikerjakan oleh PT PP (Persero) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.

Akan tetapi, layout sirkuit sepanjang 4,3km dengan 17 tikungan itu sudah mulai terlihat dengan aspal hitam, meski bukan lapisan teratas dan tersambung sepenuhnya.

Sistem drainase dan sebagian pagar beton di sepanjang lintasan juga sudah terpasang. Concrete barrier bermerek Geobrugg itu alat cetaknya didatangkan dari Swiss, Jerman dan Vietnam.

Akan tetapi, produksi dan pemasangannya diproses di Indonesia menggunakan beton lokal dengan spesifikasi sesuai standar FIA dan FIM.

"Saat ini tahap penyelesaian kami sekitar 50-60 persen. Sangat penting kehadiran Dorna di sini, khususnya dengan situasi COVID dan pembatasan perjalanan yang menjadi kendala," kata CEO MGPA Ricky Baheramsjah di Lombok Tengah, Rabu.

"Kami sangat senang mereka bisa datang untuk melakukan inspeksi secara menyeluruh, dan sejauh ini kami melihat mereka sangat senang dengan progresnya, khususnya dari aspek keselamatan karena itu merupakan salah satu elemen terpenting di setiap trek MotoGP... sejauh yang kami pahami progresnya sangat memuaskan bagi kedua belah pihak," kata Ricky.

Ricky mengungkapkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus digarap untuk mengejar target homologasi pada pertengahan tahun, tetapi pihak pengembang terus mengabarkan progres pembangunan sirkuit kepada FIM setiap pekannya.

"Tentunya masih banyak yang harus dilakukan seperti infrastruktur permanen pada Juni atau Juli, tetapi di saat yang sama banyak infrastruktur sementara yang harus kami bangun.

Baca juga: Pemerintah pastikan infrastruktur sirkuit Mandalika tuntas Juli 2021
Foto udara pembangunan lintasan sirkuit pada proyek Mandalika International Street Circuit di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Pujut, Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Selasa (6/4/2021). . ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj.


Dikelilingi panorama perbukitan dan laut di pesisir selatan pulau Lombok, Mandalika International Street Circuit nantinya akan menjadi satu-satunya sirkuit jalan raya yang menjadi bagian kalender MotoGP.

Area paddock sirkuit akan sanggup menaungi 40 garasi, sedangkan kapasitas tribun utama mencapai lebih dari 50.000 tempat duduk.

Sementara area tanpa tempat duduk atau tribun berdiri didesain untuk menampung kurang lebih 138.000 orang dan hospitality suites direncanakan memiliki kapasitas 7.700 penonton.

Area paddock, tribun utama, tribun berdiri dan hospitality suites bersifat tidak permanen dan bisa dibongkar ketika tidak ada balapan, termasuk lintasan sirkuitnya yang berubah fungsi menjadi jalan raya biasa.

Perwakilan Dorna dan FIM melakukan "technical walk" mengelilingi sirkuit dengan berjalan kaki untuk mengecek segala kesiapannya dan Ezpeleta di pengujung hari mengaku senang dengan progres yang telah dicapai.

"FIM yang bertanggung jawab untuk homologasi trek, tapi kami telah seharian berada di Sirkuit Mandalika. Franco Ucini sangat senang dan demikian pula saya," kata Ezpeleta kepada Antara ketika ditemui di Lombok Tengah.

"Melihat trek dari gambar dan secara langsung itu berbeda, sangat mengejutkan karena trek ini akan sangat luar biasa. Kami sangat senang dengan progresnya.

"Tentu setiap orang tahu masih banyak hal yang harus dikerjakan... tapi kami tidak sabar lagi menyaksikan MotoGP di sini dan kami yakin para pebalap MotoGP akan menyukainya.

Dorna Sports tinjau pembangunan Sirkuit Mandalika


Baca juga: Ezpeleta jelaskan posisi Mandalika di kalender provisional MotoGP 2021

Sirkuit Mandalika telah resmi masuk di kalender WSBK 2021 sebagai tuan rumah seri ke-11 pada 12-14 November, tetapi masih berada di daftar sirkuit cadangan kalender provisional MotoGP musim ini.

Sedangkan pemerintah menargetkan Sirkuit Mandalika menjadi tuan rumah Grand Prix Indonesia pada Oktober nanti ketika MotoGP memulai tur Asia.

Slot bulan Oktober kalender MotoGP saat ini diisi empat balapan yaitu Grand Prix Jepang (3/10), Thailand (10/10), Australia (24/10), dan Malaysia (31/10), menyisakan satu pekan kosong pada pertengahan bulan, sebelum seri penutup musim digelar di Valencia, Spanyol pada 14 November.

Sementara, terakhir kali Indonesia menjadi tuan rumah grand prix balap motor di Sirkuit Sentul, Jawa Barat pada 1997.

"Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata seberapa pentingnya MotoGP kembali ke Indonesia, ini adalah pasar yang besar bagi kami dan bagi para pabrikan serta basis fan Indonesia bagi MotoGP itu tidak ada duanya.

"Jadi kami senang bisa kembali dan menantikan hari itu tiba," kata Ezpeleta.

Baca juga: Indonesia tanggapi pakar PBB soal pelanggaran HAM proyek Mandalika

Ketika proses homologasi tiba, Ezpeleta mengungkapkan, pembangunan sirkuit itu sendiri harus sudah selesai kemudian juga faktor-faktor pendukung seperti marshal, tenaga medis, pusat medis, dan rumah sakit.

Rumah Sakit Mandalika disiapkan di lokasi yang berjarak kurang lebih 13km dari sirkuit, sedangkan pembangunan jalan bypass sepanjang 17,3km sedang dikebut sebagai akses langsung dari Bandara Internasional Lombok ke Sirkuit Mandalika.

"Untuk homologasi, semuanya harus selesai termasuk marshal, medis, pusat medis, dan trek itu sendiri. Menurut lini masa yang kami terima dari MGPA, kami terus sesuai jadwal," kata Ezpeleta.

Direktur Utama ITDC Abdulbar M. Mansoer ketika mendampingi perwakilan dari Dorna dan FIM menyatakan optimistis Sirkuit Mandalika bisa rampung pada Juli nanti.

"Kami berharap bisa selesaikan bulan Juli. Dukungan dari pusat maupun provinsi terus diberikan, harapannya semua lancar dan acara ini bermanfaat," kata Abdulbar.

Terkait lampu hijau dari Dorna untuk menggelar Grand Prix di Mandalika, Abdulbar mengungkapkan hal itu akan tergantung dari hasil homologasi pada pertengahan tahun ini.

"Masih ada perbincangan lagi. Kita kejar jadi dulu kemudian mereka datang lagi bulan Juli. Semuanya masih tergantung hasil homologasi," kata Abdulbar.
Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo (kedua kiri) berpose dengan Managing Director of DORNA Sports SL Carlos Ezpeleta (tengah), Direktur Utama ITDC Abdulbar M. Mansoer (kiri), Chief Executive Officer of MGPA Ricky Baheramsjah (kedua kanan) dan Vice President of MGPA Cahyadi Wanda (kanan) saat meninjau kemajuan pembangunan proyek Mandalika International Street Circuit di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Rabu (7/4/2021). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc.


Baca juga: Hotel Pullman Mandalika ditargetkan rampung 2021

Meski demikian, restu dari Dorna tidak akan ada artinya apabila pandemi COVID-19 belum terkendali di Indonesia.

Betul, Dorna telah sukses menyelenggarakan 13 Grand Prix pada 2020 di musim yang terpukul oleh krisis kesehatan global, tapi tak sedikit juga negara-negara yang memiliki infrastruktur lengkap sebagai tuan rumah Grand Prix batal menggelar balap MotoGP karena situasi pandemi dan pembatasan perjalanan yang kompleks.

Hal itu juga menjadi salah satu pertimbangan MGPA untuk Grand Prix di Indonesia nantinya.

"Saya rasa ini adalah tantangan global, pandemi tak hanya mempengaruhi Indonesia tetapi seluruh negara di dunia," kata Ricky.

"Kita telah melihat Dorna menyelesaikan tugas yang sangat luar biasa dengan menggelar 13 balapan taun lalu.

"Saya harap kami bisa meneruskan jalur kesuksesan ini dan tentunya sangat penting bagi kami untuk mempertimbangkan aspek keselamatan dengan sangat serius.

"COVID tentunya adalah masalah terbesar terkait mengumpulkan banyak orang, jadi yang tidak kami inginkan adalah membuat situasi COVID ini semakin memburuk, khususnya di event seperti MotoGP," pungkas Ricky.

Baca juga: Tujuh kapal pesiar bakal berkunjung ke Pulau Lombok Oktober-Desember
Baca juga: ITDC tanda tangani kontrak pembangunan infrastruktur di KEK Mandalika
Pewarta : Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021