Industri sawit entaskan 1,3 juta masyarakat pedesaan dari kemiskinan

Industri sawit entaskan 1,3 juta masyarakat pedesaan dari kemiskinan

Ilustrasi pekerja mengumpulkan tandan buah kelapa sawit di Provinsi Riau. ANTARA/FB Anggoro.

Jakarta (ANTARA) - Keberadaan sektor industri kelapa sawit dinilai secara langsung mampu mengentaskan sebanyak 1,3 juta masyarakat pedesaan keluar dari kemiskinan semenjak 2020, termasuk diantaranya di kawasan Indonesia bagian timur

"Sejak 2020 sawit telah membantu 10 juta orang keluar dari kemiskinan yang mana setidaknya (diantaranya) 1,3 juta masyarakat pedesaan keluar dari kemiskinan secara langsung karena sawit, " ujar Deputi Bidang Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Musdhalifah Machmud di Jakarta, Selasa.

Menurut Musdhalifa dalam keterangannya, tingkat kemiskinan di daerah dengan pengembangan sawit turun signifikan dibanding daerah lain yang bukan pengembangan sawit secara nasional.

"Pertumbuhan kemiskinan semakin rendah di daerah yang mengembangkan sawit sebagai komoditas andalan. Dengan masuknya keekonomian kelapa sawit bisa menekan terhadap rate kemiskinan nasional," ujarnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, potensi pengembangan kelapa sawit di Indonesia bagian timur harus terus dilakukan karena bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sehingga menimbulkan multiplier effect.

Terkait pengembangan kelapa sawit di Papua, dia menyebutkan luas tutupan kelapa sawit Indonesia sebesar 16,38 juta hektare, sementara itu luas tutupan kelapa sawit di bagian timur Indonesia (pulau Sulawesi, Maluku dan Papua) sebesar 553.952 hektar atau 3,38 persen dari total luas tutupan kelapa sawit nasional.

Sedangkan khusus untuk Papua, luas tutupan kelapa sawit sebesar 58.656 hektare dan Papua Barat sebesar 110.496 hektare.

Lokasi tutupan kelapa sawit di wilayah Papua Barat terdapat di beberapa Kabupaten yaitu Manokwari, Sorong, Sorong Maybrat, Teluk Bintuni dan Fak Fak.

Lokasi tutupan kelapa sawit di wilayah Papua terdapat di beberapa Kabupaten yaitu Nabire, Jayapura, Keerom. Boven Digoel, Mappi dan Merauke.

Pada 2020 hingga 2022, lanjutnya, pemerintah menargetkan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) untuk Papua seluas 6.000 ha masing-masing Papua 3000 ha dan Papua Barat 3000 ha

"Manfaat PSR antara lain peningkatan produktivitas tanaman, peningkatan pendapatan pekebun dan pengelolaan sawit berkelanjutan," katanya.

Sebelumnya Staf Khusus Wapres RI Bidang Penanggulangan Kemiskinan dan Otonomi Daerah, Imam Azis mengatakan kelapa sawit memang menjadi industri prioritas dalam pengentasan kemiskinan maka dari itu pengembangan kelapa sawit juga harus dilakukan di Indonesia bagian timur.

Tata kelola sawit perlu diperbaiki mulai dari tata kelola perkebunannya dan pekebun yang terlibat dalam kemajuan kelapa sawit.

“Pemerintah pusat siap memberikan insentif untuk mendukung kelapa sawit dan siap menyejahterakan petani,” ujar dia Diskusi Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) tentang "Penguatan Peranan Kelapa Sawit Dalam Program Pengentasan Kemiskinan di Indonesia Bagian Timur” di Jakarta, Senin (12/4/).

Sementara itu Direkur Eksektutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung mengatakan, perkebunan sawit turut membantu membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru di Papua. Khususnya di daerah Keerom, Sorong, Sorong Selatan, Manokwari, Teluk Bintuni, Fak Fak dan Merauke.

Menurut dia, manfaat utama kelapa sawit yang paling dirasakan yakni penurunan kemiskinan di pedesaan dan penyerapan tenaga kerja langsung dan tak langsung.

Baca juga: Banyak perusahaan CPO di Bengkulu tak laporkan transaksi
Baca juga: Anak petani sawit skala kecil rentan alami kemiskinan
Baca juga: Kapal tongkang bermuatan minyak sawit tenggelam di Sungai Mahakam
Pewarta : Subagyo
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021