Menkeu sebut nilai Islam dijalankan pada kebijakan pemulihan ekonomi

Menkeu sebut nilai Islam dijalankan pada kebijakan pemulihan ekonomi

Dokumentasi - Menteri Keuangan Sri Mulyani bersiap mengikuti rapat terbatas (ratas) tentang peningkatan peringkat pariwisata Indonesia di Kantor Presiden, Jakarta. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/ama.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan pemerintah telah menerapkan prinsip keadilan yang merupakan nilai utama dari ekonomi Islam berbasis syariah dalam mendesain kebijakan pemulihan ekonomi dari dampak pandemi COVID-19.

“Kita telah menjalankan nilai-nilai Islam di dalam desain kebijakan pemulihan ekonomi,” kata Menkeu Sri Mulyani dalam Seminar Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah di Jakarta, Rabu.

Sri Mulyani mengatakan pemerintah mencoba membangun perekonomian Indonesia semakin inklusif dan berkeadilan dengan memberikan perhatian utama terhadap masyarakat kelompok rentan baik di bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.

Ia menyebutkan pemerintah mendukung anak-anak dari keluarga tidak mampu dengan memberikan beasiswa mulai tingkat sekolah dasar, SMP, SMA, hingga pendidikan tinggi dengan Kartu Indonesia Pintar.

Baca juga: Wapres berharap pengusaha lebih banyak kembangkan bisnis syariah

Pemerintah juga memberikan dukungan pada masyarakat yang kehilangan pekerjaan melalui program Kartu Prakerja sehingga merupakan salah satu aspek dimensi keadilan dalam nilai ekonomi syariah.

Selanjutnya pemerintah juga memberikan dukungan bagi masyarakat rentan di bidang kesehatan dengan menanggung iuran jaminan kesehatan sehingga mereka mendapat berbagai pelayanan dasar secara gratis.

“Itu lah dimensi syariah yang menurut saya menjadi sangat penting untuk terus kita tunjukkan dalam berbagai kiprah dalam mendukung dan memperkuat ekonomi Indonesia memulihkannya dari kondisi COVID-19,” ujar Menkeu Sri Mulyani.

Baca juga: BI bakal bentuk "holding" dukung ekonomi syariah di pesantren

Baca juga: Menkeu: Keuangan syariah tumbuh positif meski tertekan pandemi
Pewarta : Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021