Seteguk empati lewat berbagi bingkisan Lebaran

Seteguk empati lewat berbagi bingkisan Lebaran

Perajin membuat tas kain pur atau spunbond untuk wadah bingkisan Lebaran di Keprabon, Solo, Jawa Tengah, Jumat (30/4/2021). ANTARA/Maulana Surya/tom/aa.

Magelang (ANTARA) - Seorang bidan senior tak mampu menyembunyikan rapat-rapat bungah sudut batinnya setelah memberikan bingkisan Lebaran kepada pemuda sederhana namun rajin bekerja sebagai penjaga harian gedung megah Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Ungkapan bungah itu ia curhatkan kepada seorang kawan sepuskemas tempat bekerja, yang menginspirasi tindakan kecil berbaginya kali ini.

Dalam ungkapan kultur Jawa, nampaknya pas jika disematkan diksi mrentul (muncul) suara hati sehingga ia dari kantong sendiri yang disyukuri dengan ikhlas dan sukacita, ingin juga meneladan berbagi kepada orang lain. Tanpa berseru-seru.

Sebelumnya, di sela-sela menjalani tugas harian di tengah pandemi COVID-19 di puskesmas di salah satu kecamatan di Kabupaten Magelang, ia menyimak cerita kawannya itu tentang kebiasaan berbagi bingkisan setiap tahun menjelang Lebaran.

Tahun ini, setiap bingkisan yang dibuat kawannya dalam kemasan tas berbahan polipropilena, antara lain berisi gula pasir, teh, kopi, minyak goreng, sirup, tepung, dan roti dalam kaleng. Kira-kira per paket seharga Rp100.000.

Kawannya itu membuat sekitar 15 bingkisan untuk diberikan kepada orang-orang sederhana di sekitarnya dan sanak keluarga sederhana lainnya di kampung halamannya di perbatasan antara Kabupaten Batang-Kendal, Jateng, untuk menghadirkan batin bungah menyambut Idul Fitri.

"Wingi takwenehi parsel (tempo hari saya memberi bingkisan Lebaran kepada pejaga gedung IBI, red.)," ujar bidan itu kepada kawannya, tentang cerita sisi kecil lain dari kegiatan utama menghadiri rapat pengurus IBI Kabupaten Magelang.

Kawannya menimpali dengan cerita kecil lanjutan "gerilya", memberikan bingkisan menjelang Lebaran tahun ini. Beberapa waktu malam lalu, ia mendatangi dua langganan warung kuliner bakmi godok dan nasi goreng di Kota Magelang, untuk membagikan bingkisan kepada masing-masing pedagang.

Juga tentang cerita bakda tarawih, tetangganya yang baru sekitar dua bulan terakhir beroleh pekerjaan di salah satu warung bakso di Kota Magelang, yang bersyukur karena bungah beroleh bingkisan darinya.

Curhatan dua kawan seprofesi tersebut, kelihatan mengungkapkan betapa mereka meneguk buah perbuatan mulia karena empati kepada sesama yang berkehidupan lebih sederhana.

Tak terbesit kehendak mereka memublikasi tindakan berbagi itu. Padahal publikasi zaman sekarang tak perlu lagi repot-repot bergantung media arus utama, karena teknologi informasi dan komunikasi dalam rupa media sosial saat ini, memungkinkan menjadikan gampang untuk ihwal meraih viral dan popularitas.

Mereka merasa cukup saling mencurhatkan bersitan bungah masing-masing setelah berjumpa dengan pancaran sukacita autentik penerima bingkisannya. Jagat batin spiritual mereka seakan jadi berlimpah nur.

Semarak

Setiap waktu makin dekat Lebaran menjadi mudah dan semarak dijumpai di mana-mana, berbagai pihak, baik institusi pemerintahan, lembaga sosial kemasyarakatan dan keagamaan, perusahaan swasta maupun di bawah naungan badan usaha pemerintah, termasuk kalangan pimpinan dan elite partai politik, membagi-bagikan bingkisan Lebaran.

Mereka yang dianggap duafa, lansia, anak yatim piatu, difabel, gelandangan, pengemis, atau penghuni panti asuhan dan panti jompo, serta pekerja di jalanan, menjadi sasaran pemberian bingkisan Lebaran.

Bahkan, Pemerintah Kota Magelang juga membagikan bingkisan kepada para babinsa dan bhabinkamtibmas, setelah beberapa hari sebelumnya merasionalisasi sejumlah tenaga honorer lepas di lingkungan pemkot setempat.

Begitu juga dengan lembaga formal pengumpul zakat, infak, dan sedekah mewujudkan program tahunan membagikan zakat kepada kalangan mustahik sesuai dengan kaidah Islam.

Berbagai pihak pemberi bingkisan dan zakat secara kelembagaan serta organisasi itu beroleh macam-macam sumber untuk melaksanakan program sosial kemanusiaan menjelang Lebaran, seperti dari anggaran pemerintah, iuran wajib, dana tanggung jawab sosial korporasi, penggalangan dana masyarakat, maupun kekayaan kalangan elite dan pejabat.

Dalam situasi pandemi COVID-19, praktik penyaluran bingkisan Lebaran dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti penggunaan masker dan pengaturan jaga jarak. Ada yang penyalurannya secara simbolis, melalui perwakilan, dan pengiriman langsung ke rumah-rumah sasaran.

Kegiatan mereka terasa semakin lengkap karena gaungnya teramplifikasi melalui pemberitaan di media massa, baik dengan mengundang wartawan melakukan peliputan maupun penyebaran rilis. Tak cukup afdal dengan itu, tentunya juga dengan kesegeraan memublikasi melalui kanal-kanal media sosial dan media daring lainnya.

Penyebaran informasi kegiatan pembagian bingkisan Lebaran berbagai kalangan tersebut menjadi gelombang tersendiri pada jangka waktu menjelang hari raya. Oleh karena semarak kegiatan semacam itu, jagat pemberitaan seolah-olah bermandi taburan kabar nilai-nilai kepedulian, kebaikan, dan kegembiraan bersama.

Ihwal publikasi yang demikian semestinya bisa dipahami sebagai lumrah dan bahkan malah bernilai positif menyangkut transparansi dan pertanggungjawaban kepada publik.

Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Tarmizi Tohor mengatakan berzakat, khususnya zakat fitrah dan mal, tidak hanya membersihkan diri, tetapi juga berbagi kebahagiaan kepada semua orang.

"Orang berzakat pada Ramadhan ingin membantu orang yang tidak mampu dalam arti prasejahtera. Ketika berbagi saat menghadapi Idul Fitri, mustahik mendapatkan kebahagiaan dalam menyambut hari raya," katanya.

Semangat pemberian bingkisan dan penyaluran zakat dalam suasana menjelang Lebaran selalu berfondasi batin yang empati, bersyukur, rendah hati dan berterima kasih. Relatif minim kehendak transaksional, apalagi pongah.

Begitu agung pancaran kesejukan batin direguk orang melalui hikmah bingkisan dan zakat, kehendak mengulangi kebaikan --baik secara antarapersonal maupun formal komunal-- itu menjadi kerinduan.

Terlebih, bila tindakan mewujudkan kerinduan tersebut kian kuat disadari seseorang sebagai pribadi yang tak harus merasa berpunya terlebih dahulu atau sebaliknya orang merasa tak berpunya sehingga berhak menjadi sosok sasaran.

Maka tegukan pas untuk ihwal itu, akan nampak sebagai semangat berbagi, sedangkan geloranya berupa plong.
Pewarta : M. Hari Atmoko
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021