Berbasis banjar, Bali gencarkan vaksinasi COVID-19

Berbasis banjar, Bali gencarkan vaksinasi COVID-19

Petugas kesehatan melakukan vaksinasi COVID-19 di Bali. ANTARA/I Komang Suparta/am.

Denpasar (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Bali terus mengefektifkan sentuhan vaksinasi COVID-19 kepada masyarakat berbasis banjar atau dusun, karena melalui ala desa adat di Pulau Dewata ini jauh lebih efektif ketimbang mengundang warga untuk melakukan vaksinasi ke puskesmas atau ke tempat-tempat umum lainnya.

Karena ketika ada program pemerintah turun ke masyarakat di Bali, peranan banjar yang berada di lingkup desa adat akan sangat cepat dan efektif. Sebab keberadaan banjar dinas dan banjar adat merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan bagi masyarakat di Bali.

Termasuk juga program pemerintah mengenai vaksinasi COVID-19, karena keberadaan vaksin masih menuai tanggapan masyarakat yang pro dan kontra, disebabkan jenis dan merek vaksin yang datang berbeda-beda. Belum lagi ada kabar miring dikemas di media sosial (medsos) seolah berita itu benar sesuai dengan fakta dan narasumber jelas. Padahal berita medsos tersebut bohong atau hoaks.

Karena dalam medsos tersebut ditulis bahwa vaksinasi mempunyai efek samping berbeda, bahkan dikabarkan orang yang divaksin bisa mendadak meninggal dunia jika vaksin yang disuntikan tidak cocok.

Oleh karena itulah, Pemerintah Provinsi Bali dalam menyosialisasikan program vaksinasi ini hingga tindakan penyuntikan vaksin COVID-19 lebih banyak dilakukan di masing-masing banjar. Sebab peranan pengurus banjar akan memberikan pengarahan dan informasi sesuai dengan informasi di dapat dari atasan secara benar dan akurat, dalam hal ini petugas kesehatan.

Dengan strategi tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster meminta adanya upaya serius percepatan program vaksinasi COVID-19 di seluruh kabupaten dan kota di Pulau Dewata dengan berbasis banjar (dusun) guna mencegah penularan dan munculnya kasus baru virus corona.

Gubernur  mengatakan pihaknya telah berupaya keras melakukan koordinasi dan komunikasi secara intensif dengan Menteri Kesehatan agar Bali mendapatkan dosis vaksin lebih banyak dan meningkat.

Ia menjelaskan sebelum bulan Mei, Provinsi Bali memperoleh 1,3 juta dosis vaksin, pada 6 Mei 2021 mendapat tambahan 673.180 dosis vaksin, sehingga secara total Bali telah memperoleh sebanyak 1.973.180 dosis vaksin, jenis Astrazeneca dan Sinovac.

Warga yang sudah mengikuti program vaksinasi mencapai 1.268.115 orang, suntikan pertama sebanyak 895.394 orang dan suntikan kedua sebanyak 372.721 orang.

Gubernur Bali juga terus berupaya untuk mendapat tambahan vaksin dan telah diperoleh konfirmasi, pada minggu ketiga bulan Mei 2021, Bali akan memperoleh tambahan vaksin sekitar 500 ribu dosis dan akan diberi tambahan lebih banyak lagi pada bulan Juni dan Juli, sesuai dengan target sebanyak 3 juta masyarakat Bali bisa mengikuti program vaksinasi untuk mencapai kekebalan komunitas (herd immunity).

"Untuk mencegah penularan dan munculnya kasus baru COVID-19, saya mengimbau, mengingatkan, dan menegaskan kembali kepada seluruh masyarakat agar menaati dan melaksanakan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 07 Tahun 2021 tentang Perpanjangan PPKM Berbasis Desa/Kelurahan dalam Tatanan Kehidupan Era Baru Di Provinsi Bali," kata Gubernur.

Ia mengingatkan masyarakat tetap tertib dan disiplin menerapkan pola hidup sehat dan bebas COVID-19 dengan 6M, yaitu memakai masker standar dengan benar, mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi bepergian, meningkatkan imun tubuh, dan menaati aturan.

"Selanjutnya harus membatasi jumlah peserta, selalu berhati-hati, dan penuh kewaspadaan dalam setiap penyelenggaraan kegiatan pemerintahan, adat, agama, seni, budaya, dan sosial serta kegiatan kemasyarakatan lainnya," katanya.

Ia mengajak masyarakat untuk mengikuti program vaksinasi pencegahan COVID-19 yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten dan kota.

"Kepada bupati/wali kota, camat, kepala desa/lurah, dan bandesa Adat se-Bali serta seluruh komponen masyarakat agar terus tanpa lelah, melakukan upaya serius dengan mengambil langkah secara bersama-sama bergotong-royong untuk mencegah penyebaran COVID-19, secara khusus varian baru virus COVID-19," kata Koster.

Barometer vaksinasi

Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) COVID-19 Kota Denpasar, Bali, mencatat 13.807 orang pasien sembuh sejak pandemi COVID-19 dari 14.52 kasus yang terpapar virus corona atau 95,07 persen.

Berdasarkan data, secara akumulatif, kasus positif tercatat 14.525 kasus, angka kesembuhan pasien COVID-19 di Kota Denpasar mencapai 13.807 orang (95,07 persen), meninggal dunia 332 orang (2,28 persen) dan kasus aktif masih dalam perawatan sebanyak 386 orang (2,67 persen).

Meski kasus sembuh secara konsisten terus bertambah, kasus positif COVID-19 di Kota Denpasar masih terjadi. Pada Rabu (12/5) Ibu Kota Provinsi Bali ini mencatatkan penambahan kasus positif COVID-19 sebanyak 41 orang, kasus sembuh COVID-19 sebanyak 14 orang, dan 2 pasien dinyatakan meninggal dunia.

Juru Bicara GTPP COVID-19 Kota Denpasar, I Dewa Gede Rai mengajak seluruh masyarakat untuk waspada dan tidak lengah atas perkembangan kasus saat ini.

Meski sudah diberikan kelonggaran dalam beraktivitas, penerapan protokol kesehatan tetap harus wajib dilaksanakan. Terlebih lagi saat ini adanya mutasi COVID-19 dengan varian baru.

"Jangan mengurangi kewaspadaan, titik-titik lengah kemungkinan menyebabkan tingkat kasus COVID-19 di Denpasar meningkat, jadi intinya kapanpun dan dimanapun harus tetap waspada dan disiplin menerapkan protokol kesehatan, terlebih saat ini virus sudah bermutasi," ujarnya.

Dewa Rai mengatakan bahwa berbagai upaya terus dilaksanakan guna mendukung upaya penurunan zona risiko, penurunan tingkat penularan, meningkatkan angka kesembuhan pasien dan mencegah kematian. Hal ini dilaksanakan dengan menggelar operasi yustisi protokol kesehatan, sosialisasi dan edukasi berkelanjutan secara rutin dengan menggunakan mobil keliling, serta melaksanakan penyemprotan disinfektan wilayah secara terpadu.

Selain itu, Pemkot Denpasar juga terus berupaya untuk memaksimalkan realisasi vaksinasi kepada masyarakat. Untuk itu kepada warga untuk melakukan prokes secara ketat, termasuk saat di rumah wajib menerapkan prokes yang ketat untuk meminimalkan klaster keluarga, termasuk juga mengajak masyarakat untuk mensukseskan vaksinasi COVID-19.

Sementara itu  Satuan Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Pusat pada Kamis (13/5) melaporkan penambahan pasien yang terinfeksi virus corona sebanyak 3.448 orang. Penambahan tersebut menyebabkan total kasus terpapar virus corona di Indonesia kini mencapai 1.731.652 orang, terhitung sejak kasus pertama diumumkan 2 Maret 2020.

Dalam sehari, jumlahnya bertambah 4.201 orang. Dengan demikian, kasus kesembuhan sampai saat ini tercatat 1.589.079 orang. Kemudian, pasien yang meninggal dunia bertambah 99 orang. Sehingga, kasus kematian akibat COVID-19 kini mencapai 47.716 orang.

Data satgas juga menunjukkan ada 94.857 kasus aktif COVID-19. Kasus aktif adalah pasien yang masih terkonfirmasi positif virus corona, dan menjalani perawatan di rumah sakit atau isolasi mandiri. Selain itu, satgas juga mencatat 87.578 orang berstatus suspek COVID-19.

Baca juga: Gubernur Bali minta percepatan vaksinasi COVID-19 berbasis banjar

Baca juga: 21 warga Banjar Sayan Baleran Badung reaktif tes cepat COVID-19

Baca juga: 2.300 warga Bangli harus di-rapid test karena transmisi lokal COVID-19
Pewarta : I Komang Suparta
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021