BPBD catat 90 rumah alami kerusakan akibat gempa Blitar

BPBD catat 90 rumah alami kerusakan akibat gempa Blitar

Dokumentasi - Seorang warga melintas di depan rumah yang rusak akibat gempa di Majangtengah, Malang, Jawa Timur, Minggu (11/4/2021). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/aa.

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat ada sebanyak 90 rumah di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur mengalami kerusakan akibat gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Blitar, pada Jumat (21/5).

Pelaksana Tugas (Plt) Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono, Sabtu mengatakan bahwa, pendataan hingga saat ini masih dilakukan tim lapangan BPBD Kabupaten Malang. Kerusakan akibat gempa Blitar tersebut, beberapa diantaranya kembali terjadi pada wilayah yang sebelumnya terdampak gempa bumi pada 10 April 2021.

“Ada sepuluh rumah yang sebelumnya telah terdampak gempa pada 10 April 2021. Kerusakan atau keretakan yang lama, semakin parah,” kata Sadono, di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Berdasarkan catatan BPBD Kabupaten Malang, dari total sebanyak 90 rumah yang mengalami kerusakan tersebut, sebanyak 64 unit rumah rusak ringan, 17 unit rumah rusak sedang, dan empat rumah lainnya rusak berat.

Sadono menjelaskan, selain sepuluh rumah yang kembali mengalami kerusakan akibat gempa berkekuatan magnitudo 5,9 tersebut, terdapat juga kerusakan baru. Tercatat, ada kurang lebih sebanyak 17 rumah yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Blitar itu.

Menurut Sadono, selain menyebabkan kerusakan rumah penduduk, gempa bumi juga menyebabkan sebanyak 17 fasilitas umum mengalami kerusakan. Beberapa fasilitas umum yang rusak tersebut diantaranya adalah puskesmas, tempat ibadah, termasuk Balai Dusun Sukodadi di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.

“Untuk fasilitas umum, sampai saat ini tercatat ada tiga tempat ibadah, dan 13 layanan kesehatan, serta satu balai dusun,” kata Sadono.

Kerusakan yang terjadi akibat gempa tersebut, dilaporkan terjadi di beberapa kecamatan, diantaranya Kecamatan Ampelgading, Kecamatan Dampit, Kecamatan Donomulyo, Kecamatan Gondanglegi, Kecamatan Kalipare, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, dan Kecamatan Tirtoyudo.

Sadono menambahkan, akibat gempa bumi yang dirasakan di beberapa daerah di Jawa Timur tersebut, satu orang dilaporkan mengalami luka-luka. Korban luka akibat gempa yang terjadi pada pukul 19.09 WIB tersebut, atas nama Febri yang tinggal di Desa Banjarejo, Kecamatan Donomulyo.

Baca juga: Warga korban gempa bumi di Blitar belum terima bantuan

Baca juga: BMKG imbau pemda pesisir selatan Jawa waspadai peningkatan kegempaan


“Satu orang mengalami luka,” ujar Sadono. Detil luka-luka yang dialami Febri tersebut, masih menunggu informasi tim di lapangan.

Sadono menambahkan, untuk penanganan dampak gempa bumi, saat ini mayoritas seluruh tim BPBD Kabupaten Malang masih berada di lokasi terdampak gempa, sejak bencana yang terjadi pada 10 April 2021. Menurut Sadono, dampak gempa Blitar, tidak sebesar gempa sebelumnya yang melanda Kabupaten Malang.

Hingga saat ini, lanjut Sadono, proses pendataan dampak gempa Blitar di Kabupaten Malang masih terus dilakukan. Selain itu, proses distribusi bantuan juga tetap dilakukan oleh tim lapangan.

“Pendataan masih terus berjalan, dan proses distribusi bantuan juga disalurkan sesuai kebutuhan. Verifikasi juga terus dilakukan tim teknis lapangan,” ujar Sadono.

Gempa bumi mengguncang wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur pada Jumat (21/5) pukul 19.09 WIB. Gempa magnitudo 6,2 tersebut, terjadi pada kedalaman 110 kilometer, sejauh 57 kilometer tenggara Kabupaten Blitar.

Gempa yang terjadi pada koordinat 8.63 Lintang Selatan (LS), dan 112.34 Bujur Timur (BT) tersebut, tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Gempa tersebut dirasakan hingga ke wilayah Malang Raya, yang merupakan gabungan antara Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu.

Baca juga: Gempa di Blitar terjadi akibat subduksi Lempeng Indo-Australia

Baca juga: Sejumlah bangunan di Blitar rusak akibat gempa magnitudo 6,2


 
Pewarta : Vicki Febrianto
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021