LSM: Anak muda solusi sistem pangan Indonesia berdaulat

LSM: Anak muda solusi sistem pangan Indonesia berdaulat

Petani merawat tanaman daun bawang di Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (9/2/2021). ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/rwa.

Jakarta (ANTARA) - LSM Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menyatakan bahwa kalangan anak muda adalah solusi untuk mewujudkan sistem pangan yang berdaulat di Indonesia, sehingga perlu diperhatikan ketertarikan dari generasi mendatang tersebut.

"Kami secara khusus mengajak anak-anak muda untuk terlibat karena kami yakin dan percaya bahwa anak muda akan menjadi pelaku utama yang akan menentukan sistem pangan bangsa ini," kata Koordinator KRKP Said Abdullah dalam siaran pers di Jakarta, Jumat.

Ia mengemukakan dalam rangka mendorong transformasi sistem pangan yang lebih resilien, adil dan berdaulat, KRKP dan Yayasan Kehati menyelenggarakan dialog independen di tingkat nasional dengan tema "Youth for Future of Indonesia Food System".

Dialog independen tersebut merupakan rangkaian kegiatan UN Food System Summit tahun 2021 yang diikuti oleh 53 peserta yang terdiri atas anak muda laki-laki dan perempuan dari Pulau Sumatera, Jawa, NTT, Kalimantan, dan Sulawesi.

Said mengatakan bahwa transformasi sistem pangan menjadi keniscayaan karena saat ini belum berdaulat dan sangat rentan terkena guncangan. Selain itu, sistem pangan juga masih belum adil terutama bagi para produsennya.

Adanya pandemi ini, ujar dia, harusnya menjadi momentum merubah sistem pangan sekaligus sebagai jalan mengurangi kelaparan, kekurangan gizi dan kemiskinan secara signifikan.

Sebelumnya, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Indra Setiawan mengingatkan bahwa langkah penerapan teknologi digital di dalam sektor pertanian Indonesia perlu dipercepat terutama dalam rangka menarik semakin banyak petani generasi muda.

"Naiknya jumlah pemuda di sektor pertanian di masa pandemi ini dapat menjadi momentum tepat untuk memperluas adopsi teknologi di sektor pertanian. Sebanyak 85,62 persen di antara mereka merupakan pengguna internet dan berpeluang menjadi early adopter dari teknologi digital di sektor pertanian," katanya.

Menurut dia, sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang memiliki daya lenting tinggi selama pandemi COVID-19.

Hal tersebut dapat terindikasi antara lain dari data BPS yang menunjukkan adanya kenaikan jumlah tenaga kerja di sektor pertanian sebanyak 2,78 juta selama periode Agustus 2019 hingga Agustus 2020.

"Salah satu hal menarik dari tren kenaikan jumlah pekerja sektor pertanian adalah naiknya keterlibatan pemuda berumur 16-30 tahun. Survei Angkatan Kerja Nasional oleh BPS menyatakan sebanyak 20,62 persen pemuda Indonesia bekerja di sektor pertanian pada Agustus 2020, naik dari periode sebelumnya yang berjumlah 18,43 persen," katanya.

Ia mengingatkan bahwa kehadiran teknologi digital pertanian dapat menghubungkan petani langsung dengan konsumen dapat mempersingkat rantai pasok, dengan demikian para petani juga dapat mengurangi ketergantungannya dengan tengkulak.

Selama ini, masih menurut dia, petani lebih banyak menjual hasil pertanian dalam jumlah besar ke tengkulak. Hal ini menyebabkan petani tidak memiliki daya tawar yang kuat untuk menentukan harga produsen.

"Di samping itu, petani juga memiliki akses terhadap informasi harga komoditas di pasaran yang akurat dan transparan. Pemahaman yang kuat terhadap dinamika harga komoditas pertanian dapat membantu petani untuk menentukan harga produsen secara lebih terukur," kata Indra.

Baca juga: Indonesia perlu lebih banyak agripreneur dan petani milenial
Baca juga: Jabar siapkan 40 hektare lahan untuk program petani milenial
Baca juga: Peneliti: Percepat penerapan teknologi digital dalam sektor pertanian
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021