AstraZeneca-Plan Indonesia sinergi guna cegah anak muda merokok

AstraZeneca-Plan Indonesia sinergi guna cegah anak muda merokok

Warga berada di kawasan larangan merokok Taman Balai Kota, Bandung, Jawa Barat, Jumat (28/5/2021). Pemerintah Kota Bandung mengeluarkan Perda Nomor 10/2021 tentang KTR (Kawasan Tanpa Rokok) antara lain fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat bermain anak, tempat ibadah, transportasi umum, tempat kerja, tempat umum/publik dengan denda Rp500 ribu atau sanksi kerja sosial apabila warga kedapatan melanggar. ANTARA FOTO/Novrian Arbi.

Jakarta (ANTARA) - Perusahaan biofarmasi global AstraZeneca dan Yayasan Plan International Indonesia bersinergi untuk meningkatkan investasi dan memperluas kemitraan dalam Young Health Programme, termasuk dalam mencegah anak muda merokok.

"Kami senang dapat melanjutkan program ini di Jakarta bekerja sama dengan Yayasan Plan International Indonesia," kata Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia Sewhan Chon dalam siaran pers di Jakarta, Senin.

Ia mengemukakan bahwa pihaknya bangga Indonesia terus menjadi salah satu negara prioritas di Kawasan Asia untuk menjalankan Young Health Programme yang bertujuan untuk melindungi kesehatan generasi mendatang.

Menurut Sewhan Chon, Young Health Programme adalah contoh penting yang menunjukkan komitmen jangka panjang dari pihaknya yang selaras dengan prioritas kesehatan pemerintah dan mendukung penyampaian Rencana Aksi Nasional Pemerintah untuk Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular (RAN PP-PTM).

Program ini merupakan lanjutan dari kesuksesan pelaksanaan dan hasil yang diperoleh dari periode pertama yang dilaksanakan di Jagakarsa, Cibinong, dan Mataram, Indonesia selama 2018-2020.

Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) dan AstraZeneca mengumumkan perpanjangan dan perluasan kemitraannya dalam Young Health Programme untuk lima tahun ke depan, sebuah inisiatif investasi komunitas global dari AstraZeneca.

Fokus pada program tersebut adalah pada pencegahan penyakit tidak menular (PTM) yang paling umum di kalangan remaja dan anak muda yaitu penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes, dan penyakit pernapasan kronis.

"Dalam rangka merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (31 Mei), kampanye bersama ini menandai keberlanjutan upaya kami untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi kaum muda untuk berhenti merokok melalui kampanye dan advokasi yang dipimpin oleh mereka," kata Direktur Eksekutif Yayasan Plan International Indonesia, Dini Widiastuti.

Ia memaparkan Young Health Programme kali ini adalah program lima tahun yang bertujuan untuk berkontribusi pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan remaja dan anak muda usia 10-24 tahun di empat kota administratif di DKI Jakarta.

Young Health Programme diharapkan dapat menjangkau lebih dari 91.000 kaum muda secara langsung dengan informasi kesehatan dan program pencegahan PTM, serta secara tidak langsung, program ini diharapkan dapat menjangkau 400.000 kaum muda dan 500.000 anggota masyarakat luas melalui kampanye, pelatihan, dan aktivitas-aktivitas untuk membangun kesadaran.

Apalagi, di Indonesia, lanjutnya, jumlah kaum muda yang berusia di antara 10-24 tahun mencapai hingga 25 persen dari total populasi.

Secara global, Young Health Programme telah menjangkau lebih dari 5 juta anak muda di 30 negara sejak diluncurkan pada 2010.

Baca juga: Hari tanpa tembakau momentum gencarkan sosialisasi bahaya rokok
Baca juga: Perokok berisiko menderita penyakit COVID-19 lebih parah
Baca juga: Menteri PPPA dorong larangan promosi rokok untuk cegah perokok anak
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021