FKUI luncurkan policy brief terkait kurangnya tenaga kesehatan

FKUI luncurkan policy brief terkait kurangnya tenaga kesehatan

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam. (ANTARA/Humas UI)

Depok (ANTARA) - Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam mengatakan bahwa peluncuran policy brief  (ringkasan kebijakan) yang dilakukan untuk menjawab isu tentang kurangnya tenaga kesehatan saat ini.

"Keberadaan mahasiswa kedokteran merupakan suatu potensi tersembunyi yang dimiliki negara," kata Ari Fahrial dalam keterangannya, Jumat.

Menurut dia, hasil penelitian policy brief ini menyatakan bahwa dari awal mahasiswa kedokteran di Indonesia siap kalau memang diminta untuk terlibat sebagai relawan di masa pandemi.

Di awal masa pandemi, misalnya, mahasiswa membuat gerakan Nutrisi Garda Terdepan dan ini menjadi dukungan bagi para tenaga kesehatan saat itu dalam bentuk nutrisi. Potensi-potensi seperti ini yang diharapkan dapat kita kembangkan nantinya.

Baca juga: Epidemiolog UI dorong percepatan penanganan COVID-19 di DKI Jakarta

Baca juga: Survei FKM UI sebut 91,9 persen kasus COVID-19 Jakarta tak terdeteksi


Policy brief yang disusun merupakan hasil penelitian tim Medico-19 Research Group tentang kesediaan dan kesiapan mahasiswa kedokteran menjadi relawan dalam upaya penanggulangan pandemi. Dasar pembuatan policy brief ini adalah hasil survei terhadap 4.780 mahasiswa kedokteran di seluruh Indonesia yang dilaksanakan oleh tim Medico-19.

Hasil survei yang dilaksanakan pada Juli-Oktober 2020 menunjukkan bahwa sebanyak 48,7 persen mahasiswa bersedia menjadi sukarelawan dalam penanganan pandemi.

Dari jumlah itu, hanya 18,6 persen mahasiswa yang dinilai memiliki kesiapan yang cukup. Ada tiga alasan utama mengapa angka kesediaan mahasiswa ini begitu besar, yaitu kondisi keterbatasan tenaga medis yang terjadi saat ini, rasa tanggung jawab untuk membantu sebagai tenaga medis di masa depan, dan dukungan pemerintah dan pihak-pihak terkait yang dianggap cukup.

Mahasiswa ini dapat dilibatkan dalam tahap preventif, promotif, dan kuratif dari setiap upaya penanganan pandemi.

“Rekomendasi utama dari policy brief ini adalah pemerintah perlu memberikan ruang kontribusi bagi mahasiswa kedokteran dalam penanganan Covid-19, namun perlu disertai dengan persiapan yang matang untuk menjamin kompetensi dan keselamatan mereka. Untuk menjamin hal ini, diperlukan suatu upaya yang sistematis, mengakar, dan konsisten dari setiap pihak agar menghasilkan kebijakan yang tepat dalam pelibatan mahasiswa kedokteran dalam era pandemi ini,” ujar Editor-in-Chief Policy Brief Medico-19, Nico Gamalliel, S.Ked.

Hasil penelitian juga mendorong gagasan mengenai pentingnya integrasi materi kebencanaan dan kesehatan global dalam kurikulum pendidikan kedokteran.

Hal ini disebabkan karena adanya keterkaitan antara pengalaman menjadi sukarelawan dengan kesediaan yang lebih tinggi untuk melakukan kegiatan volunteering pada masa pandemi.

Dengan terjadinya integrasi kurikulum kebencanaan di dalam pendidikan kedokteran, diharapkan mahasiswa kedokteran di masa depan dapat lebih terlibat secara aktif dalam berbagai kesempatan penanggulangan bencana di Indonesia.*

Baca juga: Survei peneliti UI catat 44,5 persen warga Jakarta terinfeksi COVID-19

Baca juga: Survei peneliti UI catat 44,5 persen warga Jakarta terinfeksi COVID-19

Pewarta : Feru Lantara
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021