JakLingko usulkan plafon tarif integrasi antarmoda maksimum Rp15 ribu

JakLingko usulkan plafon tarif integrasi antarmoda maksimum Rp15 ribu

Penumpang berjalan di samping angkutan MikroTrans JakLingko di Tanah Abang, Jakarta, Kamis (22/7/2021). Guna memutus penyebaran rantai COVID-19, JakLingko mewajibkan penumpang dan sopir untuk mengenakan masker, membersihkan tangan sebelum naik kendaraan, menjaga jarak di dalam kendaraan serta melakukan vaksinasi massal kepada pengemudi. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/pras.

Jakarta (ANTARA) - Anak usaha BUMD DKI Jakarta, PT JakLingko Indonesia, mengusulkan plafon tarif integrasi antarmoda maksimum Rp15 ribu untuk sekali perjalanan menggunakan multitransportasi.

Direktur Utama PT JakLingko Indonesia,
Muhamad Kamaluddin menjelaskan, pihaknya mengusulkan dua skema tarif integrasi, yakni tarif untuk transportasi "urban", seperti MRT, LRT dan TransJakarta serta tarif untuk transportasi "suburban", yakni PT KCI (Kereta Commuter Indonesia).

"Apabila ada peralihan moda transportasi dari KCI ke transportasi "urban', maksimum plafonnya diusulkan menjadi Rp15 ribu karena ada gabungan antarmoda 'suburban' dan 'urban'," kata Kamaluddin dalam webinar yang diselenggarakan virtual, Rabu.

Kamaluddin menjelaskan, pengguna transportasi di bawah jaringan pembayaran JakLingko, seperti PT KCI (Kereta Commuter Indonesia), MRT, LRT dan TransJakarta akan mendapatkan tarif yang lebih terjangkau, dengan penerapan sistem pembayaran terintegrasi mulai Maret 2022.

Dalam simulasinya, JakLingko mengusulkan adanya tarif keberangkatan (boarding) pada transportasi "urban" sebesar Rp2.500 pada 2 kilometer (km) pertama. Kemudian, tarif berbasis jarak akan diberlakukan pada 2-17 km dengan kenaikan Rp500 per km dan plafon maksimal Rp10 ribu.

Baca juga: Integrasi tarif angkutan di Ibu Kota bakal mempercepat alur perjalanan

Sementara itu, tarif "boarding" untuk kereta Commuter Line diusulkan sebesar Rp2.000 pada 3 km pertama. Setelah itu, tarif berjarak ditentukan Rp125 per km dengan plafon Rp10 ribu.

Jika pengguna menggunakan gabungan transportasi, akan mendapat potongan harga (transfer rebate) dengan tidak perlu membayar biaya tarif "boarding" pada transportasi selanjutnya.

Adapun syarat mendapatkan potongan harga dan bebas biaya tarif awal, yakni jika perjalanan yang ditempuh memakan waktu kurang dari 180 menit. Jika perjalanan melebihi batas waktu tersebut, harus membayar tarif awal pada transportasi selanjutnya.

Kemudian, jika transfer antarmoda lebih dari 45 menit, penumpang juga harus membayar tarif awal lagi sebesar Rp2.500.

Sebagai simulasi, jika pengguna hendak melakukan perjalanan dari Stasiun Boulevard Selatan menggunakan LRT serta TransJakarta dan MRT untuk sampai ke Lebak Bulus, tarifnya hanya dikenakan Rp10.000.

Baca juga: JakLingko terapkan integrasi tarif lebih terjangkau mulai Maret 2022

Rinciannya adalah perjalanan LRT sepanjang 4 km dibutuhkan biaya tarif Rp3.500. Kemudian transfer sekitar 15 menit menggunakan TransJakarta dari halte Velodrome menuju Pemuda Rawamangun dan Blok M dikenakan biaya Rp8.000.

Selanjutnya, dari Halte Blok M menuju Stasiun Lebak Bulus menggunakan MRT sepanjang 8 km dikenakan biaya Rp4.000. Perjalanan tersebut memakan waktu tempuh 145 menit.

Jika ditotal, tarif lama pada perjalanan multimoda tersebut sebesar Rp16.500 termasuk dengan biaya tarif awal. Sementara pada tarif yang baru, pengguna hanya dikenakan Rp10 ribu karena adanya tarif maksimal untuk penggunaan skema transportasi "urban".

Karena ada plafon Rp10 ribu, pengguna hanya perlu membayar Rp10 ribu, tidak perlu membayar Rp16.500. Ini bisa dinikmati dengan syarat transfernya tidak terlalu lama.

"Jadi perlu dipertimbangkan, di aplikasi kami juga akan diingatkan waktu transfernya hanya 45 menit dan durasi total 180 menit," kata Kamaluddin.
Baca juga: Mayoritas perjalanan dengan transportasi umum Jakarta dari penyangga
Baca juga: Warga DKI Jakarta keluarkan Rp500.000-Rp1.000.000 untuk transportasi
Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2021